You are currently browsing the Studio Kata weblog archives for October, 2009.

Inspeksi Rosul

on Oct23 2009

Pada suatu malam yang gelap

Rosulullah saw keluar rumah untuk mengadakan pemeriksaan (inspeksi) kepada para sahabat beliau tentang bagaimana mereka shalat, bagaimana mereka berdoa dan bagaimana mereka menangis

Ketika itu, Beliau mendengar seorang perempuan tua membaca satu ayat dibalik pintu rumahnya sambil menangis.

Ia membaca ayat, “Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?” (QS.al-Ghasyiah[88]:1)

Perempuan tua itu terus mengulang ayat sambil menangis.

Rosulullah saw merapatkan kepalanya kepada pintu rumah perempuan itu, dan ikut menangis sambil berucap, “Ya, sudah datang kepadaku….Ya, sudah datang kepadaku.”

Itulah yang dilakukan oleh perempuan tua.

Lalu apa yang telah dilakukan oleh para pemuda umat ini?

Apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang masih berfisik besi dan berotot kawat dari umat ini?

Orang yang sukses adalah

Orang yang bisa memanfaatkan kekuatan fisiknya untuk melakukan ketaatan kepada Allah…..

Orang yang maju adalah

Orang yang selalu maju dalam melakukan ketaatan kepada Allah…

(Riwayat Ibnu Abi Hatim)

VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

BERSYUKUR……

on Oct17 2009

Disaat kutermenung

Mengenang dimasa kecil

Kubayangkan…..

Betapa indahnya waktu itu

Walaupun hanya sedikit kenangan

Yang dapat termemori dalam benakku

Bermain dikala malam bulan purnama bersama teman-teman di halaman rumah

Maklum aku adalah anak desa Yang jauh dari hiruk pikuk keramaian

Yang kalau malam tidak ada penerang lampu PLN

Hanya lampu minyak tanah (senthir…bhs.Jawa)

Dan suara jangkrik …krik…krik.. serta binatang malam ….uhu….uhu….bersautan

Tapi itu semua tidak menjadikan kendala bagiku

Aku tetap berlarian kesana kemari

Sampai malam menjelang larut..

Setelah dewasa…

Baru aku merasa

Betapa indahnya suasana malam seperti ini…

Kapan lagi aku bisa mengulang masa kecilku…

Hanya tinggal cerita…

Cerita buat anak dan cucuku nanti….

Betapa besar ciptaanMU ya Allah…

Betapa Agung Anugrahmu ya Allah…

Aku hanya bisa mengucapkan Subhannallah…

Ketika aku memandang ciptaanmu…

Aku bersyukur padaMU ya Allah…. atas apa yang telah engkau berikan di dunia ini….pada Kami

BTN, 17 Oktober 2009

(kantri)

VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 4.0/5 (2 votes cast)
VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: +2 (from 2 votes)

Merasa Sedih

on Oct16 2009

Buat J

Kadang-kadang kita merasa
Seperti orang dosa
Bila tiba-tiba mendapat bencana

Merasa sedih
Seolah seperti tersisih
Bila hati sedang merintih

Kadang hati
Seperti tak berarti
Sedang kita ingin dimengerti

Kadang kita merasa
Seperti bergembira
Bila mendapat pahala

Ternyata rasa
Tak jauh dari pelupuk mata
Aku ingin mengubahnya
Menjadi lebih berguna

Bontang, 3 September 2009 (sunaryo broto)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Puisi Pindah Rumah

on Oct16 2009

Pindah ke rumah baru
Tak perlu rasa haru
Rumah yang manis
Istri yang tersenyum tipis

Anak-anak saling berlomba
Membuat peta masa depannya
Ngaji dan tawanya
Bagai menghias dunia

Tumpukan buku di sudut kamar
Menghias dalam temaram
Angan dan asa saling berhimpitan
Aku coba cari ujungnya

Sebuah tanaman dengan daun menghijau
Itu yang membuatku terpukau
Bunga yang harum mewangi
Dan menentramkan sebuah hati

Di sudut lain
Lukisan perjalanan terpampang di dinding
Gambar itu tampak tak berbingkai
Aku melukisnya seperti tak pernah usai

Balikpapan-Jakarta (dalam pesawat Garuda), 29 Mei 2009 (sunaryo broto)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sebuah Puisi di Hari Ulang Tahun

on Oct16 2009

apa arti seorang sahabat
selain rasa kawan yang erat

berjalan bersama
melintasi cakrawala
hingga nasib membuat untuk dimengerti
hingga jejak dapat dipahami

Tiba-tiba aku ingat sepercik canda
di gedung perpustakaan tua
dan orang-orang menengok tanda tak suka
sedang kami tak pedulikannya

tiba-tiba saya ingat pada sebuah gitar sederhana
sedang kami menyanyi lagu nostalgia
dan orang mendengar sambil tertawa
tapi kami tak pedulikannya

tiba-tiba aku ingat sepeda motor tua
sedang kita berboncengan bersama
dan orang mengkawatirkannya
tapi kami tak pedulikannya

apa arti sebuah kebersamaan
selain dalam rasa aman
dan hidup menuntut berjalan terus
semoga semua makna tak kan cepat surut

Bontang, 7 April 2009 (sunaryo broto)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Satu Hari Menjelang Pemilu

on Oct16 2009

Memang indah negeriku
laut langit membiru
Pemandangannya elok
Dengan sawah luas berkelok

Memang indah negeriku
dan banyak gambar menjelang pemilu

seorang teman mengirim kabar
dan meminta dukungan
Lihat gambar-gambar
seperti mimpi yang tersebar

Saya mencari
Sesuatu yang cocok di hati
tapi tak ada kesan
Juga di baliho jalan atau di perempatan.

Tak ada sesuatupun yang layak dipikirkan
selebihnya hanya nama-nama
yang seolah sangat bergema
namun hanya slogan belaka

Seorang turis di Bali bertanya
“Apa ada lomba foto wajah?”
Anak saya bersorak
Banyak iklan di TV dengan gambar rupa-rupa

Satu hari menjelang pemilu
Memang indah negeriku
Banyak gambar dan slogan lucu
Memilih caleg aku belum tahu

Bontang, 7 April 2009 (sunaryo broto)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Dari Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan di Samarinda

on Oct16 2009

Undangan ini dibawa oleh teman saya yang penggagas Studio Kata, Tri Wahyuni untuk menghadiri Seminar Nasional Sastra dari Balai Bahasa Kaltim. Dari Bontang yang diundang saya dan Tri Wahyuni. Ini adalah undangan kedua dari instansi yang berhubungan dengan sastra di Kaltim selama saya bermukim di Bontang. Dulu saya pernah mendapat undangan dari Dewan Kesenian Kaltim melalui ketuanya A Rizani Asnawi untuk menghadiri diskusi sastra di Samarinda sekitar tahun 2001 tetapi karena kesibukan sebagai karyawan belum sempat hadir.

Kali ini saya usahakan hadir karena memang saya ingin mengenal para aktivis sastra di Kaltim. Sayapun menulis paper tentang peran media. Paper ini sebenarnya artikel saya yang menyoroti peran media yang saya kirimkan ke Tribun Kaltim tetapi tidak dimuatnya. Saya edit sedikit dan saya kirim saja ke panitia. Tak dinyana ternyata paper tersebut diterima untuk pemakalah pembanding. Ya sudah menikmati saja diskusi sastra di Samarinda.

Seminar sastra bertempat di ruang Serba Guna Kantor Gubernur Kaltim, Jl. Gadjah Mada No1, Samarinda. Awalnya saya prediksi yang hadir hanya kelompok kecil karena biasanya seminar sastra tidak terlalu menarik minat publik. Ternyata yang hadir banyak sekali. Ketua Panitia yang juga ketua Balai Bahasa, Pardi pada saat memberi sambutan menyebut jumlah 470 undangan yang datang. Kalau tidak ditutup maka bisa 1000-an, katanya. Saya datang saat acara akan dimulai dan langsung dituntun panitia duduk di depan. Yang hadir guru, seniman, budayawan dan kebanyakan alumni fakultas sastra.

Acara diawali dengan pentas musikalisasi puisinya Korrie Layun Rampan oleh para siswa SMA 2 Samarinda. Seminar dibuka oleh asisten Gubernur Kaltim, Yansen. Setelah seremonial pidato pembukaan dilakukan pembagian buku yang baru saja diterbitkan Balai Bahasa, yaitu Buku Tata Bahasa Kutai, Kamus Bahasa Bauna-Indonesia, Ikhtisar Sastra Indonesia di Kalimantan Timur dan Biografi Pengarang kalimantan Timur. Saya sebagai salah satu wakil diantara banyak wakil yang menerima bingkisan buku tersebut.

Pembicara pertama Dr. Suroso, dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan gaya akrab dan enaknya mengawali seminar. Judul makalahnya Budaya Baca Tulis dan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah. Dia membuka fakta yang telah dipublikasikan oleh Taufik Ismail, kenapa minat baca rendah, buku sastra tak berkembang. Dia ingin memperbaikinya dari sekolah supaya para murid SMA seperti waktu zaman Belanda, melalap 25-an judul buku novel dalam setahun. Guru bahasa harus mempunyai terobosan supaya sastra disukai murinnya. Guru bahasa harus juga sebagai penulis puisi, cerpen, novel sehingga dapat memberi contoh tentang karya sastra. Bukan sekedar berteori sastra. Pembicara kedua Dr. Surya Silli dari Universitas Mulawarman dengan makalah Penggunaan Bahan Ajar & Kegiatan Otentik dalam Pengajaran Bahasa Asing. Ketua Balai Bahasa, Pardi Suratno mengetengahkan pengalamannya dalam makalah Bengkel Sastra Media Alternatif dalam Mendekatkan Siswa Terhadap Sastra.

Pada sesion kedua, Ahmad Ridhani (Unmul) dengan makalah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Sunaryo Broto (Pupuk Kaltim Bontang) dalam Peran Media dalam Mengembangkan sastra di Kaltim, Yudianti Herawati (Kantor Bahasa Kaltim) dengan makalah Sastra Lokal dan Pengajaran Sastra dan Winarti (Kantor Bahasa Kaltim) dengan makalah Surat Kabar sebagai Sarana Pembelajaran Bahasa.

Kedua session diwarnai dengan acara tanya jawab dengan para peserta. Sekitar jam 16 lebih acara ditutup oleh pejabat Pemprov Kaltim dengan beberapa kata sambutan dan penutup. (sunaryo broto)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Peran Media dalam Menumbuhkan Kantong Sastra di Kaltim

on Oct16 2009

Peran Media dalam Menumbuhkan Kantong Sastra di Kaltim*)

Oleh Sunaryo Broto**)

Media mempunyai peranan penting dalam apresiasi karya sastra karena melalui media karya sastra dapat dinikmati publik, bisa diapresiasi publik dan bisa dikritik publik juga. Hal ini akan menimbulkan ”kedinamisan” dalam diskusi karya sastra. Bagaimana hal ini bisa terjadi tanpa adanya media?

Kondisi Media di Kaltim

Setelah bermukim sekitar 17 tahun di Bontang, Kaltim, saya merasakan iklim yang tidak kondusif dalam berkarya sastra karena minimnya dukungan media lokal. Hampir tidak ada –kalau boleh dikatakan tidak ada- rubrik seni dan budaya di koran lokal Kaltim.

Hal yang membuat saya merasa “tidak nyaman” dalam membaca koran daerah adalah sangat terasanya tidak ada kapling untuk lembaran sastra dan budaya secara kontinyu. Untuk pemuatan essay sastra, berita budaya atau cerpen masih kadang ada tetapi tidak kontinyu. Cerpen dicampur dengan artikel lainnya bahkan bercampur dengan iklan.

Sebelumnya saya mengikuti koran daerah di Yogya dan Jawa Tengah yang secara rutin menyediakan kaplingnya untuk lembaran sastra dan budaya karena saya bermukim di daerah tersebut. Hal ini dapat menumbuhkan kantong sastra di daerah. Sudah sangat dikenal di Semarang, Yogya, Tegal dengan dengan Komunitas Sastra Negeri Poci dan daerah sekitarnya dkenal sebagai kantong sastra. Beda sekali dengan di Kaltim yang belum tumbuh kantong sastranya meski saya yakin, potensi ke arah itu sangat besar. Hanya tak ada medianya.

Sewaktu Rendra ke Kaltim dalam pentas Rambateraterata sekitar tahun 2001, saya menulis di Kaltim Post yang berjudul Rendra dan Perkembangan Sastra Kaltim. Saat itu saya menyoroti peran media massa yang tak memberikan ruang pada perkembangan sastra Kaltim, bahkan saya menyontohkan kondisi Jogja dan Jawa Tengah sebagai salah satu kantong sastra daerah bisa berkembang sangat baik berkat dukungan sekian media massanya dengan menyediakan lembar sastra dan budaya.

Sebenarnya perhatian koran daerah terhadap karya sastra sudah ada tetapi belum banyak. Sekedar contoh untuk menyebut koran 2 daerah dengan oplah cukup besar, Kaltim Post (KP) dan Tribun Kaltim (TK). KP pernah memuat liputan pentasnya Rendra Rambateraterata sekitar tahun 2001. Belum lama TK memuat tulisan 4 seri dari Tribun Sastra Community pada tanggal 17-20 Juni 2009. Tulisan berjudul Menumbuhkan dunia sastra dan seni di Kaltim membahas tentang upaya untuk menumbuhkan dunia sastra dan seni di Kaltim.

Sebelumnya sangat jarang ada pembahasan sastra sampai diadakan diskusi dan ditulis berseri di media massa. Memang ada satu dua tulisan artikel tetapi hanya seperti lewat saja. Tanpa tanggapan dari pembaca lain. Hal ini tidak saya jumpai sewaktu ada event kunjungan beberapa penggiat sastra nasional ke Kaltim. Nama-nama sastrawan yang pernah ke Kaltim, diantaranya Emha Ainun Nadjib, Rendra, Hamzad Rangkuti, Taufik Ismail dll sampai penulis yang novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang baru ngetop, Habiburrahman El-Shirazi. Dengan  kedatangan para sastrawan tersebut, di media massa local hampir tak ada jejaknya. Yang ada hanya berita kecil dan sepertinya tidak penting. Tidak ada halaman khusus –misalnya pada hari Minggu- yang berisi lembaran sastra dan kebudayaan seperti media masa nasional dan beberapa media massa local yang peduli. Atau halaman khusus wawancara dengan para sastrawan tersebut.

Emha Ainun Nadjib baca puisi di Samarinda dan Bontang sekitar tahun 1995 dan Rendra mementaskan Rambateraterata di gedung Koperasi Pupuk Kaltim sekitar tahun 2001 saja hampir tak banyak media local yang memuat beritanya. Terlebih resensinya. Teatre Grandrik pernah beberapa kali pentas di Bontang tetapi tak banyak yang tahu. Leo Christy pernah juga pentas di Bontang dengan penonton yang sangat sedikit dan tak ada beritanya di harian lokal. Hamzad Rangkuti pada Mei 2009 ke Bontang dengan diskusi kecil tentang sastra dan menulis, tanggapan media datar-datar saja. Hanya ada berita kecil sekali saja. Jangan berharap ada resensinya atau kolom apresiasinya. Belum berderet pameran lukisan atau pertunjukan seni lainnya. Pertunjukan Teatre Timur, Teatre Yupa dan kiprah Untung Erha sudah banyak dalam aktivitas teatre tetapi tak banyak yang mengapresiasi dengan publikasi. Dengan adanya nama nasional saja kurang dapat tanggapan dari media terlebih kalau pelakunya semuanya local.

Kantong Sastra di Kaltim

Yang dimaksud dengan kantong sastra di sini adalah semacam komunitas yang peduli terhadap karya sastra. Di situ ada kegiatan berkarya, berdiskusi tentang sastra. Sekedar informasi, sebenarnya ada beberapa komunitas pecinta sastra yang sudah tumbuh meski kehidupannya juga belum menggembirakan. Di Samarinda, ada Jaring Penulis Kaltim, Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) dengan salah satu penggiatnya oleh Amien Wangsitalaja, di Bontang, baru tumbuh Studio Kata yang dimotori Abdul Hakim dan Tri Wahyuni dan juga ada Club Buku CB33 dan KKPKT (Korps Karyawan Pupuk Kaltim) di komunitas Pupuk Kaltim dengan anggotanya diantaranya Sunaryo Broto, Ezrinal Azis dan Manik Priandani yang belum lama mengundang cerpenis Hamzad Rangkuti. Di Tenggarong ada Kosa Kata. Tak lupa juga adanya kegiatan Forum Lingkar Pena Kaltim yang dimotori Muthi Masfufah.

Di dunia maya, bila kita mencari di Google maka ada beberapa blog tentang sastra Kaltim, diantaranya Jurnal Kembang Kemuning, Panjipatah, Penyair Nusantara Kaltim, Arungnala miliknya cerpenis Nala Arung.

Sekitar tahun 90-an ada tradisi Sastra Purnama yang mengadakan kegiatan sastra di daerah-daerah setiap tahun yang digalang oleh Hamdani. Dalam salah satu kegiatannya, Bontang pernah menjadi tuan rumah. Acaranya diskusi sastra, baca puisi. Di situ ada nama Hamdani, Mugni Baharuddin dll. Juga nama-nama lain, diantaranya Jumrie Obeng, Tatang Dino Hero, Herman A Salam, Safrudin Pernyata, Rizani Asnawi

Tetapi karena kurangnya dukungan media sehingga kita sulit mencari dan membaca karya-karya mereka. Beberapa penulis Kaltim yang terkenalpun sulit mencari jejaknya. Padahal, jelas akan banyak lagi penulis yang dikenal bila karya-karyanya dimuat di media massa.

Pentingnya Dukungan Media

Kalau masalah seberapa banyak dukungan masyarakat akan pentingnya kegiatan sastra, jelas tak sebanyak dunia intertainment tetapi jelas ada. Di beberapa tempat memang komunitas ini tidak terlalu meriah kegiatannya tetapi tetap eksis karena kecintaan pelakunya. Media sastra tetap masih dibutuhkan dalam menjawab kebutuhan, seperti beberapa contoh. Novel Namaku Taweraut dari Ani Sekarningsih adalah upaya untuk menjelaskan kondisi anthropologi masyarakat Suku Asmat di Papua melalui media sastra. Novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih dari Habiburrahman juga upaya memasyarakatkan kegiatan beragama melalui media sastra. Novel Para Priyayinya Umar Kayam adalah gambaran sejarah tentang kondisi masyarakat pada saat konflik politik sekitar tahun 1965 melalui media sastra. Ada juga istilah jurnalisme sastrawi yang diusung Majalah Tempo. Sastra tetap masih dibutuhkan.

Saya yakin meskipun belum ada ruang di media massa lokal, para penikmat seni ini tetap menulis sastra di file pribadinya. Beberapa penerbitan lokal juga menerbitan beberapa karya yang berbau sastra. Sekedar menyebut contoh, Kumpulan Cerpen Bingkisan Petir, Kumpulan Cerpen Nala Arung Balada saripin dan KD, Kumpulan Puisi Balada Manusia Indistri dll. Coba klik di Google, banyak tulisan yang berbau sastra dipublikasikan melalui blog pribadi maupun komunitas.

Dengan adanya dukungan media ini sangat penting. Karena dukungan ini bisa menumbuhkan iklim bersastra. Katakanlah ada satu ruang lembaran sastra pada edisi Minggu. Biasanya di situ ada cerpen, puisi dan essay tentang sastra. Awalnya bisa saja tak banyak yang mengisi tetapi bila terbit terus dan khalayak mulai tahu kalau ada ruang untuk memuat karya maka akan merangsang mereka untuk menulis. Di Kaltim juga ada nama-nama sastrawan yang sudah terbiasa menulis, antara lain Korrie Layun Rampan. Ada Amien Wangsitalaja, Shantined, Herman A Salam dll yang bisa menjadi penggiat sastra.

Atau dengan cara networking dan bekerja sama dengan para penggiat sastra di komunitas sastra di beberapa daerah di Kaltim pasokan bahan juga bisa diatasi. Coba hitung berapa komunitas atau kantong sastra di Balikpapan, Samarinda, Bontang, Tenggarong, bila satu komunitas sastra berpartisipasi dalam satu edisi sudah bisa mencover edisi awal lembaran sastra dan kebudayaan. Bola ini akan bergulir. Terlebih bila ada apresiasi atau resensi seperti Sutardji Calzoum Bachrie yang mengasuh lembaran sastra di Kompas atau semacam Umbu Randu Paranggi dengan Persada Study Club di Yogya yang telah melahirkan banyak sastrawan.

Mengutip Kompas.com, 28 Agustus 2008 memuat laporan dari Samarinda. Pengelola media cetak di Kalimantan Timur didorong untuk melestarikan budaya sastra melalui rubrik khusus. Sebab, sampai sekarang belum ada yang menyediakan halaman khusus untuk sastra atau bahasa antara lain puisi, cerita pendek, dan fiksi.

“Kami berharap tiap minggu ada rubrik khusus itu,” kata Kepala Kantor Bahasa Kaltim Pardi Suratno di Samarinda. Bahkan lembaganya bersedia memberi honor bagi penulis yang karyanya termuat di media cetak. Menurutnya, rubrik sastra sangat berguna untuk memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia. Di samping itu juga memacu munculnya generasi baru penulis dan mendiskusikan persoalan berbahasa yang baik dan benar.

Kerja Sama Antar Institusi atau penerbitan sendiri

Kerja sama antar institusi? Why not? Antar institusi yang peduli pada sastra sebaiknya bekerja sama. Bisa Balai Bahasa Kaltim, komunitas sastra dan media. Masing-masing mengambil perannya sendiri.  Penerbitan atau media massa menyediakan halamannya untuk lebar sastra dan budaya, komunitas sastra mengisi halaman yang telah disediakan dan Kantor Bahasa bisa menyediakan support fasilitas dan dana –kalau ada. Dengan kerja sama antara institusi ini kesinambungan dan karya sastra dapat lebih diapresiasi masyarakat luas. Bila sudah rutin ada di media dan masyarakatnya bisa menikmati maka akan merangsang generasi berikutnya untuk melahirkan karya sastra.

Dengan dukungan media massa local dapat memungkinkan apresiasi sastra lebih luas. Bagi Koran daerah, tinggal membuka lembaran sastra budaya dan mempersilakan pembaca untuk berpartisipasi. Syukur menyediakan apresiasinya.

Atau menerbitkan karya sastra dalam bentuk buku. Tetapi hal ini harus ditunjang dengan distribusi yang baik supaya dibaca publik. Penerbitan buku bila tak ada yang membaca juga tak terlalu berarti. Hanya menjadi tempat dokumentasi. Bila ada dukungan media maka penerbitan buku bisa dipublikasikan dalam resensi buku melalui media.

Semoga upaya menumbuhkan kantong sastra di Kaltim dapat cepat terwujud dengan dukungan media.

*) Disampaikan dalam Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan 2009, Samarinda 6 Agustus 2009

**) Penulis adalah karyawan Pupuk Kaltim, penikmat sastra, aktif di komunitas Club Buku CB33 dan Studio Kata, Bontang. Alamat rumah Jl. Gladiol No6 PC VI Komplek Pupuk Kaltim, Bontang. Email: sbroto@pupukkaltim.com, HP 0811551451, situs: sbroto.multiply.com

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pantun

on Oct15 2009

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun “versi pendek” (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah “versi panjang” (enam baris atau lebih).

Peran pantun

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Berikut contoh pantun (sebetulnya adalah karmina) dari kalangan pemuda:

Mawar merah tumbuh di dinding
Jangan marah, just kidding

Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur Pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.

Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun ini:

Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh

Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

sumber:  Wikipedia bahasa Indonesia

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menu

Search

FlickR

flickrRSS probably needs to be setup





























widgeo.net

free counters


Adsense Indonesia


Produk SMART Telecom

Howdy, Studio Kata

Log in

Lost your password?

Register For This Site

Ayo Bergabung !

Mari menulis, karena menulis itu menyenangkan !