Kepahitan yang Manis
on May21 2010Hari yang cerah selalu ada untuk jiwa yang memiliki harapan baru. Setiap hari disetiap umat manusia pasti punya harapan-harapan baru untuk kehidupan mereka. Berharap agar setiap masalah bisa cepat terselesaikan. Namun, bukan hidup namanya kalau tanpa masalah. Karena masalah adalah salah satu cara Tuhan untuk memberi lebih makna kehidupan bagi umat manusia agar mereka lebih bisa menghargai hidup. Seperti orang Yang sedang sakit yang harus puas tidur dipembaringan rumah sakit, tidak bisa beraktivitas, tidak nafsu makan, tidak bisa menjalani hari seperti biasanya yang dia lakukan. Ketika sembuh, maka orang yang sakit itu bisa menghargai betapa pentingnya kesehatan bagi kelangsungan hidupnya. Tapi yang selalu membuat saya bertanya, dari melihat fakta yang ada, kenapa masalah yang harus dihadapi oleh orang-orang miskin lebih banyak daripada yang kaya? Entahlah. Tapi aku yakin, simiskin akan lebih ‘kaya’ disbanding sikaya apabila mereka berhasil mengatasi permasalahan hidup mereka. Dan kini aku relah merasakan hal itu.
Dalam hitungan detik aku akan segera diwisuda. Aku sangat bahagia dan bersyukur. Dengan perjuangan akhirnya aku berhasil lulus S1 Psikologi dengan predikat cumlaude. Tentu banyak cerita pahit yang akhirnya membawa aku berhasil sampai seperti sekarang. Dan ini semua adalah berkat kerja keras, kegigihan, dan doa tulus penuh ikhlas mama. Serta saudara-saudaraku (Livya, dan satria) yang terus mendukungku tanpa henti.
14 tahun yang lalu adalah awal dari serangkaian cerita-cerita pahit dalam hidup ku, namun yang juga sangat berharga bagiku. Karena dari kepahitan inilah yang bisa membuatku berhasil dan lebuh bisa lebih menghargai makna hidup sesungguhnya.
Saat aku kelas 2 SD orang tuaku bercerai. Dulu mama lah yang membantu papa dalam mencari nafkah. Saat kehidupan ekonomi kami sedang membaik, suatu hari mama kecelakaan, dan dokter bilang mama akan lumpuh selamanya atau tidak bisa berjalan lagi dan hanya mengandalkan kursi roda. Kami semua sangat sedih dan terpukul.
6 bulan berikutnya, kami harus menerima fakta yang lebih pahit. Selama 2 minggu papa tidak pulang kerumah, ketika pulang papa kembali dengan seorang wanita muda yang berpakaian seksi. Kami semua kaget. Papa datang dengan wajah yang tidak ramah. Dia membuka pintu kamar dengan kasar lalu mengambil semua bajunya dan perhiasan mama, lantas memasukannya kedalam tas. Kakakku, Livya yang berbeda 5 tahun dari ku menghampiri papa dan memeluknya.



