You are currently browsing the archives for the Cerpen category.

Cerpen : BEKÉNJONG – oleh : Khoiriyyah Azzahro

on Apr14 2012

BEKÉNJONG

BEKÉNJONG

Oleh : Khoiriyyah Azzahro

 Perempuan setengah baya itu terus menari di atas lewang1) tipis, meski gendang dan klentengan2) tak lagi ditabuh. Bulir-bulir keringat telah hadir di pelipisnya. Pada kedua tangannya tergenggam daun lenjuang3) dan lemang4) yang tak lagi utuh.

Lalu entah mengapa hadir rasa sesak di dadaku.Adapanas di mataku.

Perempuan setengah baya itu terus menari di atas lewang tipis, meski semua mata memandang heran padanya. Perlahan orang bekenjong5) itu memutar tubuhnya dari atas lewang, lalu beranjak berkeliling ruangan. Di tangannya masih tergenggam daun lenjuang dan lemang yang tak lagi utuh.

Sesak makin terasa di dadaku. Panas makin menjadi di mataku.

Tapi tunggu!!

Mengapa Anisah harus membacakan ayat kursi6) itu di telingaku? Mengapa tidak pada Ira? Dan mengapa istri petinggi7) harus memegangi tangan dan mendekap tubuhku seperti ini? Hingga hanya bola mataku yang dapat kugerakkan. Menyapu pandang seluruh ruang.

Tiga orang penabuh gendang dan klentengan tiba-tiba beranjak dari duduknya. Mereka menghampiri perempuan setengah baya yang masih berkeliling ruangan sambil menari memutar-mutar tubuhnya. Gerombolan lelaki yang berdiri di depan pintu serta para perempuan yang khusuk dengan bacaan bertuliskan ‘Surah  Yassin’ 8) , mendadak terhenyak.

Sesak terus saja menusuk dadaku. Panas masih jua menjalari mataku.

Hentikan, Anisah!

MengapaIamasih membacakan ayat kursi itu di telingaku.

Lepaskan, Bu!

Mengapa istri petinggi makin erat saja mendekapi tubuhku?

Hey!!

Mengapa pula tak sepatah kata pula yang sanggup kukeluarkan dari mulutku? Hanya tangan, tubuh dan kakiku yang ‘berbicara’ menggeliat, menendang, menuding, meronta…  tanpa bisa kukendalikan.

Perempuan setengah baya itu masih menari berkeliling ruangan Kini,Iamenari tanpa rasa, Ia menari tanpa makna.Parapenabuh gendang serta klentengan sedang berusaha memegangi tubuhnya demi menghentikan gerak tarinya.

O.. lennaas!! Sida bekenjong kesarungan!!9) tiba-tiba istri petinggi memekik.

Sesak menghebat di dadaku. Panas menusuk di mataku. Tapi, tetap kucoba hela nafas panjang nan berat sambil menutup penglihatan. Sejenak saja…..

*  *  *

Kubuka perlahan kedua pelupuk yang lekat pada ambang penglihatan. Silau jingga senja yang mulai kemerahan nampak di ufuk barat.

Kuhirup aroma sungai Ngayau yang semakin menyurut di akhir bulan Qomariah10). Bau tanah makin nyata di tiap hela nafas.

Endak mendi kita?”11) tanya itu menyentak lamunku yang setengah rasa. Membuat ember kecil di genggaman kananku yang cukup berat ikut tersentak.

Kenapa mendi sore-sore kita?”12) suara itu memaksa tatapku mencari asalnya. Terlihat pandangku seorang lelaki muda berjongkok di batang13) seberang, tak jauh dari batang yang kutuju. Tangan kanannya mengaduk-aduk air sungai dengan jahap14) panjang.

Sadaq!  Lelaki itu menoleh ke arahku.

Ndi15)! Tadi baru dari tepat mengajar. Jadi, Saya baru sempat mandi sekarang” jawabku.

Lelaki itu menatapku tanpa ekspresi. Kemudian kembali mengalihkan pandang pada arus sungai di hadapannya.

Mengapa Ia terfekur saja di sana?

Kulangkahkan kaki perlahan menuruni titian dari dahan luyaq16) yang ditumbangkan. Ada masygul dan himung17) saat dahan yang terjejaki selebar kaki itu bergoyang naik turun.

Sida18) Ira ternyata benar!” Lelaki itu menggumam. Matanya masih terpaku pada arus sungai di hadapannya.

Kuhentikan jejakku pada batang mengapung di sungai Ngayau yang jernih berkilauan kala lelaki itu kembali berkata “Mendi di sungai sendiri. Pigi19) mengajar sendiri. Pigi milir20) sendiri. Ndi’ takut kita?” lelaki itu mengujar. Matanya masih terpaku pada arus sungai di hadapannya.

Kuterpana oleh kata-kata lelaki itu. Telah sedemikian dekat kah pergaulannya dengan Ira, rekan sekelompokku itu, hingga dengan mudah Ia mengetahui ragam kebiasaanku dari tutur ucapan Ira?

Pigi jemben21) malam-malam sendiri, mencuci sendiri…” lelaki itu kembali mengujar. Matanya kini mengerling padaku.

Kuterhenyak mendengar oceh lelaki itu. Sedemikian mudahnya-kah Ira mengumbar kisah pada lelaki itu? Untuk sementara tanya demi tanya itu merasuki ruang fikirku saja. Karena silau jingga senja memaksaku tuk segera menuju jemben di atas batang.

Sejenak, sebelum menutup pintu jemben, kuanggukkan kepala memohon permisi pada Sadaq. Tampak tergesa, Ia beranjak dari batang.

Kla22)!” Tiba-tiba bariton Sadaq sudah di ambang pintu jemben dan tangan kekarnya menahan pintu jemben tepat kala Aku akan merapatkannya.

Apa-apaan sih, ini?

“Ini!” Tangan kekar Sadaq lainnya terulur padaku. Sebuah kantung plastik tergenggam disana.

Kuterima angsuran tangannya dengan rasa gamang. Tiga botol kaca berisi sirup berwarna merah, hijau dan jingga, dengan tulisan nama, rasa dan merek lokal, membuat kantung plastik itu terasa cukup berat.

Kemayi, Lhok pigi milir. Sida bli ni buat kita semue di posko23)” lelaki itu mengunggingkan senyumnya padaku.

Meski bukan kali pertama menerima pemberian dari warga desa, entah mengapa kali ini terbersit ribuan heran dan gamang kuradakan. Mengapa Sadaq menyerahkan barang-barang ini kepadaku?BukankahIabisa memberikannya di posko kelompok Kuliah Kerja Nyata kami?

“Eh … Oh?! Ya?” sisa kegamangan meninggalkan kelu pada lidahku hingga tak tahu berucap apa. Dan Sadaq, lelaki di ambang jemben itu diam saja. “Hm.. kalau begitu, tolong sampaikan salam buat sida Lhok, ya! Sampaikan terimakasih Saya dan teman-teman!”

Lelaki itu mengangguk sebelum berbalik dan melangkah menjauhiku yang masih berada di jemben. Sosoknya menghilang di balik rerumah yang berjejer di sepanjang bantaran sungai Ngayau. Dan kegamangan masih saja meliputi perasaanku.

Sadaq… dua minggu yang lalu Aku mengenalnya. Usai rapat dengan Kelompok Karang Taruna desa, Ia bersama Pepi, Lhok, dan Kechong, tiga pemuda desa Ngayau langsung mengunjungi posko kelompokku yang bersisian dengan rumah petinggi. Dan sejak saat itu, Ia dan Lhok menjadi sering bertandang ke posko.

Tak ayal dalam jangka waktu kurang dari seminggu, tersiarlah kabar bahwa Sadaq telah berhasil mengajak Ira jalan berdua. Karena di desa kecil ini, setiap tindak ulah tanduk manusia dan alam akan mudah tercium. Meski hanya sekedar jalan berdua berkeliling desa, Ira dan Sadaq telah mampu ‘menggemparkan’ seisi desa.

Hallaahh! Jangan difikirin!! Biasalah orang desa. Aku kan cuman jalan sama tuh cowok kampung! Gak ngapa-ngapain, kok!” komentar Ira malam itu di bawah bundar benderang purnama yang memasuki beranda posko. Ditemani gelas-gelas berisi sirup warna-warni yang dititipkan Sadaq senja sebelumnya.

Lagian tau gak? Tuh cowok basi banget! Tiap detiknya cuma ngomong dia-nya doang. Seakan-akan seluruh desa ini dia yang punya!”

Kutatapi wajah Ira yang entah mengapa tampak memerah usai berucap sinis malam itu.

“Maksudnya apa, sih?” tanyaku.

“Aduh.. Debby! Tuh cowok cuma omdo, kalle! Omong doang! Ya.. Orang kampung!”

Kutatapi lagi wajah Ira yang tampak makin memerah malam itu.

“Jangan sembarangan ngomong kamu, Ra! Orang desa itu banyak yang punya ‘ilmu’, lho!” kalimat Anisah membuat Ira tibatiba tersedak dari minumnya.

Sumpeh, Ra! Ntar kalau kamu dipelet tuh cowok atau diguna-gunain gimana?” ucap Anisah kembali.

Kusaksikan kekeh Ira sembari menyeka mulut basahnya arena sirup warna-warni yang sedang ditenggaknya. Ujarnya sambil menatap Anisah dan Aku, “Kalian semua percaya sama omongan orang kampung ya? Udaah.. jangan coba pengaruhiku sama hal-hal aneh macam mistik gitu, deh!”

Kutengok Anisah yang sedetik kemudian juga balas menengok ke arahku. Senyap pun hadir sedetik setelahnya. Seluruh pendengaran tertuju pada kokok manuk24) yang diiringi raung koyo25) di kejauhan.

Kutatapi lagi wajah Ira yang makin memerah hingga pandangku terasa panas, dadaku terasa sesak dan semakin sesak.

“Mereka datang, Ra!”

Kudengar ucapanku sendiri yang datar dan bergetar. Sedetik kemudian kulihat kejut di wajah Anisah mendapati sosok Ira terhempas dan terlentang di dekatnya.

Kucoba dekati tubuh Ira dan sosoknya makin menggelepar dengan mata nanar menatapku. Kenapa, Ra? Ada apa? Mengapa kamu memandangku seperti itu? Kupaksakan tanya dari mulutku. Namun yang kudengar hanyalah raungan koyo di kejauhan, memekakkan telinga.

Kualihkan pandang pada Anisah yang memekik hebat. Kenapa, Sah? Kenapa kamu harus memekik? Kuulangi tanya demi tanya itu. Namun yang terdengar adalah kokokan manuk di kejauhan.

Kusaksikan kini geliat tangan dan kakiku sendiri. Lalu entah mengapa ada sesak di dadaku.Adapanas di mataku. Aku tak sanggup membuka pelupuk kedua mataku.

*   *   *

Silau neon memaksa kedua mataku terbuka. Menemukan beberapa lelaki dan perempuan mengerubungi seorang perempuan setengah baya. Membaui wangi lemang yang dikukus dengan bambu.

Perempuan setengah baya itu tak lagi menari-nari, karenanya gendang dan klentengan tak lagi ditabuh. Namun bulir-bulir keringat terus mengalir di pelipisnya. Kedua tangan dan kakinya meronta dengan meski empat orang lelaki telah memegangi mengunci geraknya.

Kase ranam! Kase ranam!26)” ujar seseorang sambil mengangsurkan segelas air tawar. Seorang lelaki menyambut dengan tangan bergetar. Dan gelas berisi air tawar itu didekatkan pada mulut sang perempuan setengah baya.

Namun sebelum air tawar tersebut berhasil diminumkan, sang perempuan setengah baya tiba-tiba memegangi tangan lelaki itu dengan erat.

Hi!!”  teriakan dari mulut sang perempuan setengah baya, mengejutkan seisi ruangan. Air tawar yang baru saja akan diberikan padanya tertumpah setelah dicampakkannya.

“MA – NA  SA – DAQ?  MA – NA  SA – DAQ?”

Sang perempuan setengah baya bertanya terbata.

“Sadaq hi de27)! Sida pigi milir Samarinda!” Jawaban itu muncul dari balik pintu. Sesosok lelaki menyeruak ke tengah-tengah ruangan.  Lhok?!

“Dua bulan lagi Sadaq kembali dari jebe28)” ucapan Lhok di ikuti senyap.

“Maksud kita.. Sadaq melarikan diri? Sida buat orang-orang kota begini, lalu sida pigi?” Istri petinggi berkata geram. Tangannya masih erat mendekapi tubuhku.

O lennass! Sida harus segera balik ke desa ini! Hanya Sida yang harus kembalikan bujang serinta29). Cari labu air hitam!!30)” perempuan setengah baya itu kembali berteriak. Kalimatnya yang tak lagi terbata menggema di ruangan yang dipenuhi orang-orang desa.

Namun, tak satu pun yang menanggapi ucapannya. Seluruh telinga di ruangan ini seakan ditulikan. Seluruh mulut yang ada di ruangan ini seakan dibungkam. Hanya mata mereka terpaku menatapi Lhok yang melangkah pelan ke arahku.

“Labu air hitam! Cari labu air hitam!” teriakan perempuan setengah baya itu masih jelas terdengar. Tapi, seluruh rasaku ikut terpaku menatapi Lhok yang masih melangkah perlahan ke arahku.

Lhok… ini apa? Katakan padaku ini ada apa? Kau pemuda desa yang baik. Jadi tolong katakan padaku, ada apa?Mengapa Ira, juga Anisah, bertingkah aneh setelah meminum air yang Kau berikan pada kami lewat Sadaq? Mengapa Lhok?

“Maaf, Debby! Bujang Serinta meminta Kau!” Lhok berkata lirih di telingaku.

Apa?

Lhok.. Kau tahu, tak ada Bujang Serinta! Buaya pemangsa manusia dari Sungai Kedang Kepala di ujung negeri Kutai itu hanya mitos! Legenda! Itu tak nyata, Lhok!

Kuyakin telah mengucapkan kalimat itu sebelumnya. Dan kini ucapan itu kuulang kembali sembari menatapi Lhok yang telah di samping tubuh lemasku.

Namun, tak satu pun tindakan yang diperbuat Lhok.

“Debby, Kau hi salah! Kemayi Ira carang kan pa kita…” perkataan lirih Lhok di telingaku kali ini memaksaku mengingat beberapa ucapan Ira sebelumnya.

“Alah! Orang kampung! Mana ada buaya yang dapat hidup di sungai? Apa lagi mau memakan apa saja yang jatuh ke dalam sungai. Dan hanya memakan isi tubuh dan perut manusia saja. Aneh kan!” kalimat ini memang pernah diucapkan oleh Ira ketika kelompokku baru tiba di desa ini.

Tapi.. mengapa kini harus Aku…

“Angkat wala-wala31) ke gubeng32)! Juga Sida Debby! Siapkan labu air hitam!” Lantang Lhok memerintah diikuti sigap beberapa orang.

Hey.. Tunggu!! Jawab tanyaku… Mengapa harus Aku?

Kumeronta sekuat tenaga. Namun beberapa tangan kekar segera mendekapi tubuhku. Seketika ragaku terbelenggu dan kaku. Tangan-tangan kekar tersebut mengangkat tubuhku serempak. Hingga sekejap kemudian, Aku, seperangkat kotak dari batang pinang dan bambu, lemang dan serakan daun lenjuang, serta sang perempuan bekenjong yang telah setengah baya juga Lhok dan beberapa orang lelaki, telah berada di dalam gubeng bersama.

Kumerintih dan terus meronta sekuat tenaga. Hingga gubeng yang kami berada di dalamnya ini mulai oleng dan bergoyang di atas sungai.

“Tenang, Debby! Ini cuma ritual. Kau tak kankenapa. Bujang serinta pasti lindungi kita33)” Entah mengapa tubuhku pasrah setelah ucapan lirih Lhok tersebut. Hingga akhirnya gubeng berlarut dalam pelayarannya menyusuri sungai.

Bau Sungai Ngayau yang menyurut di akhir bulan semakin tercium. Gelap malam penghias pandang tertutup hutan pedalaman Kalimantan. Dan Aku terbaring saja dalam dekap dan belenggu tangan-tangan kekar.

Tiba-tiba kurasakan langit berputar. Terdengar suara perempuan setengah baya bermamang34) mantra. Tangannya meraih wala-wala lalu menceburkan benda tersebut ke dalam sungai. Sedikit demi sedikit bagian demi bagian wala-wala tenggelam ke dalam sungai.

Kumasih mencoba meronta namun entah mengapa sekujur tubuhku terasa kaku. Kurasakan sentuhan dingin dari tangan berkeriput milik sang perempuan bekenjong, namun hanya geliat kecil yang mampu kulakukan. Perlahan tubuhku sedikit terangkat oleh dua pasang tangan kekar lelaki.Ada dingin yang menusuk kala tumitku di arahkan pada air sungai.

Perempuan setengah baya masih bermamang lirih sembari mendekapi tubuhku. Matanya berkilat kala kutatapi. Sesaat ia terdiam. Meraih daun lenjuang yang telah basah oleh air tepung tawar, lalu memerciki tubuh dan wajahku dengannya.

“Bujang serinta, buaya sungai nan gagah lagi perkasa, menunggu kita, Debby. Setelah tubuh kita tama35) ranam semue, kita harus segera keluar dari ranam, ya!?!” Perempuan setengah baya itu berbicara padaku sambil memerciki ubun-ubunku, bagian terakhir yang Ia mantra-i.

Kupaksakan membuka mulutku, namun tiada satu suara yang mampu tercipta. Perlahan, tubuhku dilepaskan hingga sedikit demi sedikit memasuki sungai Ngayau.

Kurasakan dingin basah air sungai merambati tubuhku. Gelap malam menghiasi pandangku yang tergugu dalam tanya tak mengerti. Seringai wajah tiba-tiba memantul dari raut perempuan setengah baya yang kutatapi. Wajah itu … Sadaq??

Kumeronta hebat kala tubuhku meluncur memasuki kedalaman sungai Ngayau.

Mengapa harus Aku?

Kuterus mengelepar meski air sungai telah setinggi perutku.

Mengapa harus Aku?

Maka sesaat kuterlupa bahwa tubuhku tak dapat mengapung di permukaan air sungai Ngayau ini. Kuhanya teringat bahwa program Kuliah Kerja Nyata kelompokku telah usai dan rampung. Kuhanya teringat bahwa seharusnya kini kelompokku sudah kembali ke almamater, ke kota Samarinda….  setengah bulan yang lalu.

Banjarmasin, 26 Januari 2009

*     selesai    *

Keterangan : 1) lewang: sejenis nyiru atau tampi, alat menyayak gabah/beras, 2) klentengan: alat musik yang dipukul serupa gong, 3) lenjuang: tanaman hutan yang kerap digunakan untuk pengobatan, 4) lemang: penganan dari beras ketan yang direbus dengan sedikit santan khas Kalimantan Timur, 5) bekenjong (orang bekenjong): dukun belian, dukun yang melayani pengobatan bagi orang-orang sakit, baik fisik maupun psikis, 6) ayat kursi: Surah Qur’an Al Baqoroh ayat 183, 7) petinggi: pejabat eksekutif setingkat lurah, 8) Surah Yassin: Surah Qur’an ke 36, 9) O lennaas!! Sida bekenjong kesarungan!: ya ampun!! Si dukun kesurupan!, 10) Qomariah: tahun penanggalan berdasarkan rotasi bulan, dikenal juga sebagai tahun hijriah, 11) Endak mendi kita?: kamu mau mandi?, 12) Kenapa mendi sore-sore kita: kenapa kamu mandi sore hari?, 13) batang: hamparan kayu atau batang pohon yang diapungkan di atas sungai sebagai tempat  warga beraktivitas, 14) jahap: jenis rotan besar yang tumbuh dan hidup subur di dataran tepi sungai, 15) Ndi: tidak, 16) luyaq: jenis pohon kayu yang tumbuh didelta sungai, 17) himung: senang, 18) Sida: beliau/ ‘ si’: kata sandang untuk orang yang dihormati, 19) Pigi: pergi, 20) milir: pergi ke kota besar jauh dari desa, 21) pigi jemben : pergi ke kamar kecil, 22) Kla: nanti-tunggu, 23) Kemayi, Lhok pigi milir. Sida bli ni buat kita semue di posko: kemarin, Lhok pergi ke kota (jauh dari desa). Beliau beli ini untuk kalian di posko, 24) manuk : ayam, 25) koyo: anjing, 26) kase ranam: beri air (ranam: air murni dari sumur tanah, suku kutai biasa meminum air sumur tanpa melalui proses perebusan),  27) hi de!: tak ada 28) jebe: luar desa, 29) bujang serinta: buaya pemangsa manusia yang me-legenda hingga kini dan dipercaya masih ‘menghuni’ Sungai Kedang Kepala dari ujung selatan hingga Sungai Ngayau di ujung timur laut Kabufaten Kutai Timur,  30) labu air hitam: sejenis labu air yang  berwarna hitam yang bagian dalamnya telah diisi bermacam-macam ramuan beracun untuk dipersembahkan kepada bujang serinta, 31)wala-wala: semacam kotak persegi bermotif khas yang di dalamnya diisi perangkat sesajen termasuk labu air hitam, 32) gubeng: perahu kayu, 33) kita: kamu/anda, 34) bermamang: mengucap mantra, 35) tama: masuk,

 

 

Biodata penulis :

Penulis bernama  pena Khoiriyyah Azzahro (atau kadang ditulis juga Khoiriyyatuzzahro). Sekarang tinggal di  Banjarmasin, Kalimantan Selatan.   Beberapa karya tulis yang pernah dimuat pada Majalah KaWanku, Tabloid Gaul, Tabloid Ummah, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Pernah pula memenangkan lomba kepenulisan diantaranya Lomba Menulis Artikel Lingkungan Hidup yang diselenggarakan olah Banjarmasin Post (Juara 3), Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja (LMCR) Tingkat Nasional oleh Rayakultura dan Rohto pada tahun tiga tahun berturut-turut (2009, 2010 dan 2011) kemarin. Beberapa buku yang pernah dihasilkan bersama-sama (antologi) adalah Kalimantan Dalam Puisi Indonesia ed. Korrie Layun Rampan yang diluncurkan pada Dialog Sastra Borneo di Samarinda baru-baru kemarin,  “Mencari Wajah Ibu” (Antologi Pemenang Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja Nasional tahun 2009) dan “Episode Luka” (Antologi Komunitas Pena Kita Banjarmasin).

 

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

KATA HATI

on Jun3 2010

“Anak baru dari Surabaya ya?”, begitu pertanyaan yang diajukan sewaktu aku makan semeja dengannya di kantin kantor di hari pertama aku berstatus sebagai karyawan baru. Dia dan teman-temannya yang semeja denganku adalah karyawan senior enam bulan di atasku dan lebih duluan diterima di Perusahaan ini . Aku mengangguk. Sejenak terlihat pria  jangkung  itu akan menanyakan lagi sesuatu kepadaku, tetapi diurungkannya. Langsung saja ekspresi serius dan tanpa senyum terpasang di mukanya yang sebenarnya tergolong manis bila lebih banyak senyum tersungging di bibirnya, dan juga bila tarikan mata tegangnya dikendurkan. Walau seingatku, tadi sekilas senyuman dan tatapan geli ada di raut mukanya saat menanyakan asalku. Setelah itu, tidak ada lagi kata-kata, kalimat, ataupun keramahan di wajahnya. Tidak ada. Dia melanjutkan makannya dan berkonsentrasi ke makanan yang ada di piring, dan segera menyelesaikan makan siang tersebut, lalu beranjak pergi. Aku terbengong…

Dan sikap itu berlanjut hingga belasan tahun kemudian, dan kuanggap menjadi pola dari karakter manusia yang memang berbeda-beda. Saat kami mendapat tugas, dinas, ataupun pekerjaan berbarengan-pun,  Tidak ada kalimat panjang terucap atau komunikasi yang wajar. Hanyalah kata iya…ayo…dan tidak… atau sikap ketus yang mengagetkan. Walau ada saatnya dia seakan protektif dan marah saat ada orang usil yang menggodaku di lobby sebuah Hotel, saat itu kami dinas bersama dan menginap di Hotel yang sama.

Mungkinkah Allah memberikan perasaan benci kepada seseorang pada saat pandangan pertama, kebalikan dari rasa suka di pandangan pertama. Tadinya aku tidak mempercayainya…namun setelah itu aku percaya…karena hal itu memang terjadi…dan mengenaiku. Walau aku selalu sering mengingat-ingat, kesalahan apa yang pernah aku perbuat kepadanya? Atau memang sikap dan penampilanku sangat menjengkelkan dan memuakkan? Bahkan aku pernah ingin sekali menanyakan soal ini pada orang-orang yang ada di sekitarku tentang hal ini, tanpa sebab musabab ada seseorang yang terlihat begitu amat sangat membenci dan jengkel kepada seseorang. Sempat bingung dan tak percaya namun aku hanya anak baru yang rasanya belum punya kenalan siapa-siapa. Namun akhirnya aku tak peduli, karena aku harus menjalani hidup ini. Dunia masih indah bagiku. Walau ada satu orang atau lebih yang tidak suka dan muak padaku, namun teman-teman yang lain bersikap baik padaku, setidak-tidaknya mereka tidak sesinis dan seketus dia. Dan aku berusaha tidak peduli….dan akhirnya benar-benar tak peduli.

* * *

”Kalian terlihat tidak pernah saling berbicara… kenapa?”, begitu pertanyaan yang diajukan Iwan sahabatnya kepadaku. ”Memang kami tidak saling kenal, dan dia terlihat sangat tidak suka padaku”, jawabku. ”Memangnya kenapa sih?”, tanya Iwan ingin tahu. ”Namanya nggak suka ya nggak suka…dan perlu Iwan tahu…aku nggak peduli dan nggak jadi masalah buatku…dia mau ramah atau tidak…aku nggak pathek-en”, jawabku sekenanya. ”Aneh…aku khawatir ada sebab-sebab tertentu”, kata Iwan sok tahu.

* * *

”Ada puisi yang bagus lho Bu di blog POETRYKOE. Tulisannya bagus dan keren”, kata anak sulungku, Dara. ”Sebagus apa?”, tanyaku. ”Coba lihat, ini Bu”, kata anakku sambil menunjuk ke layar yang telah di bukanya. ”Puisinya dalam dan menyentuh. Kata-katanya indah..dan seakan Penulisnya menyusun bait demi bait dengan penuh perasaan”, kata anakku yang memang suka ber-puisi ria. ”Silahkan saja Ibu baca dulu, Dara mau menggoreng nugget untuk camilan…laper nih!”. Membaca karya sastra yang unik menjadi salah satu kegemaranku, baik itu berupa buku maupun hasil karya yang sering direkomedasikan Dara Putriku dalam blog. Putriku ini pula yang mengajariku cara membuat blog ataupun hanya membuka-buka blog orang lain.

* * *

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 3.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +2 (from 2 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Kepahitan yang Manis

on May21 2010

Hari yang cerah selalu ada untuk jiwa yang memiliki harapan baru. Setiap hari disetiap umat manusia pasti punya harapan-harapan baru untuk kehidupan mereka. Berharap agar setiap masalah bisa cepat terselesaikan. Namun, bukan hidup namanya kalau tanpa masalah. Karena masalah adalah salah satu cara Tuhan untuk memberi lebih makna kehidupan bagi umat manusia agar mereka lebih bisa menghargai hidup. Seperti orang Yang sedang sakit yang harus puas tidur dipembaringan rumah sakit, tidak bisa beraktivitas, tidak nafsu makan, tidak bisa menjalani hari seperti biasanya yang dia lakukan. Ketika sembuh, maka orang yang sakit itu bisa menghargai betapa pentingnya kesehatan bagi kelangsungan hidupnya. Tapi yang selalu membuat saya bertanya, dari melihat fakta yang ada, kenapa masalah yang harus dihadapi oleh orang-orang miskin lebih banyak daripada yang kaya? Entahlah. Tapi aku yakin, simiskin akan lebih ‘kaya’ disbanding sikaya apabila mereka  berhasil mengatasi permasalahan hidup mereka. Dan kini aku relah merasakan hal itu.

Dalam hitungan detik aku akan segera diwisuda. Aku sangat bahagia dan bersyukur. Dengan perjuangan akhirnya aku berhasil lulus S1 Psikologi dengan predikat cumlaude. Tentu banyak cerita pahit yang akhirnya membawa aku berhasil sampai seperti sekarang. Dan ini semua adalah berkat kerja keras, kegigihan, dan doa tulus penuh ikhlas mama. Serta saudara-saudaraku (Livya, dan satria) yang terus mendukungku tanpa henti.

14 tahun yang lalu adalah awal dari serangkaian cerita-cerita pahit dalam hidup ku, namun yang juga sangat berharga bagiku. Karena dari kepahitan inilah yang bisa membuatku berhasil dan lebuh bisa lebih menghargai makna hidup sesungguhnya.

Saat aku kelas 2 SD orang tuaku bercerai. Dulu mama lah yang membantu papa dalam mencari nafkah. Saat kehidupan ekonomi kami sedang membaik, suatu hari mama kecelakaan, dan dokter bilang mama akan lumpuh selamanya atau tidak bisa berjalan lagi dan hanya mengandalkan kursi roda. Kami semua sangat sedih dan terpukul.

6 bulan berikutnya, kami harus menerima fakta yang lebih pahit. Selama 2 minggu papa tidak pulang kerumah, ketika pulang papa kembali dengan seorang wanita muda yang berpakaian seksi. Kami semua kaget. Papa datang dengan wajah yang tidak ramah. Dia membuka pintu kamar dengan kasar lalu mengambil semua bajunya dan perhiasan mama, lantas memasukannya kedalam tas. Kakakku, Livya yang berbeda 5 tahun dari ku menghampiri papa dan memeluknya.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 3.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +3 (from 3 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Bunga Terakhir

on May4 2010

Senin, 15 Maret 2010

“Mbak, minta tehnya dong”, rengek seorang anak kecil.

Rayuan itu membuatku tersadar. Ku tolehkan sedikit kepalaku ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, dia menadahkan tangannya. Bajunya yang lusuh, celana yang tidak sepantasnya digunakan lagi, dan koran yang diapit diantara ketiaknya, tak memudarkan senyum ikhlasnya kepadaku. Sesaat, aku melirik teh yang baru saja aku beli di salah satu toko. Volume tehnya memang tidak begitu banyak akan tetapi, aku begitu sayang untuk memberikannya. Maklumlah, sangat kehausan sebab aku baru saja berkeliling untuk membeli barang kebutuhanku sebelum aku disibukkan dengan jadwal yang cukup padat.

“Mbak, kalau kon gak iso ngasih teh iku ndek aku, wes gak popo. Tuku koranku ae yo[1], ujarnya lagi. Dia mencoba untuk merayuku.

Aku menggeleng. “Maaf, tidak sedang butuh koran”, kataku lembut. Mecoba untuk tidak menyakiti perasaan adik itu.

Aku berjalan. Mencoba menjauh dari tempat dimana adik itu berdiri dan menjual korannya. Namun sayang, dia mengikutiku. Dia menjajarkan dirinya di sampingku sambil merengek dan menarik-narik tas belanjaanku. Aku merasa risih dengan keadaan itu. Aku membentaknya dengan pelan “Dek, ojo ke aku[2]. Minta ke mbak-mbak yang lain sana”, ucapku dengan nada yang seharusnya tidak dia dengar.

“Maaf, Mbak”, dia pergi sambil menunduk. Sepertinya, dia menahan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya. Dia menenteng korannya dan duduk di atas anak tangga sebuah tempat penyebrangan jalan.

Hati kecilku memberontak. Tega banget sih kamu, kamu itu masih lebih beruntung daripada dia. Empati dong. Dorongan kuat dalam dadaku ini, akhirnya membuatku memutuskan untuk mendatanginya. Aku duduk di sampingnya. Perlahan ku serahkan teh gelas yang aku bawa. Dia menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit sembab. Mungkin, tadi dia menangis. Entahlah, sebab aku tak melihat air mata di sekitar wajahnya.

Suwun, nggih[3], ujarnya sesaat setelah menerima teh pemberianku. Dia mulai menyedot minuman itu. Kemudian, dia menoleh ke arahku sambil menunjukkan susunan giginya kepadaku.

Aku pun tersenyum. “Dek, nama kamu siapa?”, kataku lembut sambil memulai pembicaraan.

“Danu, Mbak”, ucapnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Dia sibuk mengaduk-aduk minuman yang aku berikan.

“Aku Mia. Salam kenal, ya”, aku memperkenalkan diri sambil memberikan tanganku ke arahnya.

Danu melap-lap kedua tangannya di bajunya. Kemudian, dia membalas uluran tanganku. Dia tersenyum lagi. “Makasih banyak, Mbak”, ucapnya sambil menahan senyum kecilnya.

Aku membalas senyumnya lagi. Dia kini beranjak dari duduknya. Aku bingung. “Lho, kamu mau kemana?”, ku tarik tangannya yang masih menempel di tanganku dan dia terduduk lagi.

“Mau jualan lagi, Mbak. Nanggung”, dipamerkan koran-korannya yang masih belum terjual.

“Ooo, yasudah. Jangan malam-malam ya pulangnya. Aku mau pulang. Angkotku sudah datang. Ini aku kasih kamu roti yang masih sisa. Tadi aku abis makan di restaurant pizza[4] di dalam. Maaf, ya kalau aku kasih sisa ke kamu”, ucapku sambil menyodorkan tiga potong roti di atas selembar tisu.

Dia tersenyum lebar dan tiba-tiba meraih tanganku. Diciumnya tanganku berulang kali. “Makasih, Mbak”, ujarnya sambil berlari menjauh dari tempatku dan melambaikan tangannya. “Lain kali, kita harus ketemu lagi. Aku mau menunjukkan rasa terima kasihku padamu”, dia berjalan mundur kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah teman-temannya berada.

Aku menarik dan menghembuskan napas perlahan. Sedikit lega. Setidaknya, tidak ada lagi perasaan bersalah yang besar dalam hatiku. Aku senang sekali hari ini.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 4.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +2 (from 2 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Cinta untukmu Sobat

on May4 2010

Cinta untukmu Sobat

Oleh: Elvira Dirgayanti

Angin berhembus perlahan dan lembut seolah-olah ingin meninabobokan diriku. Pisang goreng dan teh hangat buatan bidadariku menambah nikmatnya suasana sore ini. Tertawa riang bidadari dan pangeran kecilku menambah rasa bangga dan kebahagiaan. Rasanya aku tak ingin liburan ini berakhir. Berat rasa hati meninggalkan mereka walau sedetik, rasa tak ingin kehilangan moment penting apapun tentang mereka. Beruntung aku memiliki bidadari seperti dirinya, wanita yang kuat dan sabar, yang membuatku tenang dalam menjalani kehidupan, mengerti dan memahami kesibukanku serta pekerjaanku. Tangan kananku untuk menjaga dan mendidik bidadari-bidadari kecilku serta pangeranku. Semoga Alloh memberikan kekuatan itu untukmu selalu duhai bidadariku. Doaku dalam hati.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Hatin, Perempuan yang Sendiri Bersama Doanya

on May4 2010

Hatin, Perempuan yang Sendiri Bersama Doanya

Oleh : Rien Hanafiah

Sudah sebulan, Peri, adiknya Hatin, mengeluhkan beberapa orang temannya yang mulai mengolok-olok, karena uang buku, juga sekolah, tidak dibayar.

“Mereka bilang bahwa bapak nggak punya orang untuk dibunuh dan dikubur lagi.” Peri berurai mata siang itu di atas dipan kayu.

“Heh! Kok temanmu ngomong gitu?!” Hatin membelalak kaget. Peri tambah beringsut mengelap matanya yang kian basah.

“Habis bapak kan memang gemar mengubur orang? Setelah selesai, bapak pulang dengan wajah segar, dapat uang, dan bisa membayar uang sekolahku.”

Hatin tergugu. Bapak memang seperti itu. Tapi Bapak bukan pembunuh. Setiap ada yang meninggal, Bapaklah yang akan dipanggil untuk menggali kubur. Dengan demikian imbalannya adalah uang dan sedikit makanan dari keluarga yang ditinggalkan.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Sungguh… Aku Tak Menginginkan, Menjadi…

on May4 2010

Sungguh… Aku Tak Menginginkan, Menjadi…

Oleh: Irni Fatma

“Apa yang harus aku lakukan agar orang tuamu menyukaiku. Mau sampai kapan orang tuamu memperlakukan aku seperti ini?”, baru kali ini Bowo berbicara dengan nada tinggi, Nila terkejut dan menjadi terbata-bata menjawab pertanyaan Bowo.

“Aaa…ku akan coba bicara dengan Ibu dulu mas.”

“Kapan?” tanya Bowo masih dengan nada suaranya yang tinggi

“Secepatnya, InsyaAllah minggu depan saat aku pulang ke Jombang, aku minta mas bersabar dulu”, jawab Nila seketika untuk menenangkan kondisi Bowo.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 3.7/5 (3 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +2 (from 2 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Janjiku

on May4 2010

Janjiku

oleh:

Miranti Rasyid

Brakk, suara guci pecah terdengar lagi. Menurut perhitunganku ini sudah yang ketiga kalinya. Ini semua karena salahku. Seandainya, kebimbangan yang menyangkut masa depan itu tidak hadir dalam hidupku. Tidak ada dalam lika–liku hidupku. Mungkin hal ini tidak pernah terjadi. Sudahlah, penyesalan memang datang belakangan. Yang sekarang kulakukan hanyalah menunduk dalam-dalam. Mendengarkan dan merasakan betapa mengerikannya kemarahan ayah. Ya, ayah marah padaku. Kemarahannya memuncak setelah dia mengetahui semua yang telah aku perbuat di luar sana.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 3.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

AKHIR PENCARIAN CINTA

on May4 2010

AKHIR PENCARIAN CINTA

Oleh : Miranti Rasyid

Sudah lama aku memandangi wajahnya. Sejak mentari masih bersembunyi hingga sang surya membasahi bumi dengan sinarnya yang dahsyat. Pohon-pohon yang rindang kini bergelut manja padaku seakan aku mengajaknya bermain bersama. Dia, seorang gadis yang sejak tadi aku amati, menangis sambil menyandar di bawah pohon yang memberikannya sedikit keteduhan. Perlahan, dia menyeka air mata  yang masih membasahi pipinya. Hatiku tergetar untuk menolongnya. Aku mulai beranjak dari tempatku. Tapi, aku mengurungkan niatku sebab dia menghampiriku. Aku memutuskan untuk bersembunyi agar dia tidak mengetahui keberadaanku.

Dia membawa sebuah buku. Aku tak tahu jenis buku yang sedang dibawanya. Dari ciri-cirinya, terlihat seperti sebuah buku harian. Mungkin, buku itu sangat berarti baginya. Sayangnya, aku salah. Buku itu tidak berguna untuknya sebab dia mulai merobek satu persatu isinya. Dia menghancurkan kertas tersebut dengan cara menggenggamnya kuat-kuat, kemudian dia melemparkannya ke arah tempatku bersembunyi. Ya, aku menghindar. Aku beruntung karena kertas itu tidak mengenai wajahku. Gadis itu menangis lagi, bahkan semakin kencang. Apakah karena buku harian itu? Aku tak tahu.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 2.3/5 (3 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +3 (from 3 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Riak Sungai Mahakam

on May4 2010

Deg!”

Kembali aku berpaling ke belakang, di dekat parit, di depan sekolah Farmasi di gang Bhakti. Serasa aku tak percaya.

Ikam adingnya Juariah kah?” Dengan logat Banjarnya, si empunya wajah menegurku dengan senyum tipisnya.Wajah yang dulu merupakan bahan gossip kakak kelas kami di SMEA Negeri 2 Samarinda.

Ternyata Junaidi masih mengenalku dengan baik.  Dua puluh lima tahun aku meninggalkan kampung halamanku ini, aku tidak menyangka wajahku masih ada tersimpan di memori mereka. Termasuk di nganteng ini.

Bujur banar. Ikam jadi pengusaha lah wayah ini?” Aku sedikit bercanda, mengatakan dia seorang pengusaha.Padahal dia hanya menghamparkan barang dagangannya di sebuah lembaran papan plywood tipis.Jualannya seperti gantungan kunci, jepit rambut dan beberapa aksesories kecil.

(more…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 4.0/5 (4 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +3 (from 3 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark
Next »

Menu

Search

FlickR

flickrRSS probably needs to be setup





























widgeo.net

free counters


Adsense Indonesia


Produk SMART Telecom
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.