<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Studio Kata &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://studiokata.web.id/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studiokata.web.id</link>
	<description>Menulis itu Menyenangkan !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 02:01:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Cerpen  : BEKÉNJONG &#8211; oleh  : Khoiriyyah Azzahro</title>
		<link>http://studiokata.web.id/cerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/cerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 11:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tri wahyuni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=414</guid>
		<description><![CDATA[BEKÉNJONG BEKÉNJONG Oleh : Khoiriyyah Azzahro  Perempuan setengah baya itu terus menari di atas lewang1) tipis, meski gendang dan klentengan2) tak lagi ditabuh. Bulir-bulir keringat telah hadir di pelipisnya. Pada kedua tangannya tergenggam daun lenjuang3) dan lemang4) yang tak lagi utuh. Lalu entah mengapa hadir rasa sesak di dadaku.Adapanas di mataku. Perempuan setengah baya itu [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><em>BEKÉNJONG</em></strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong><em>BEKÉNJONG</em></strong></p>
<p align="center">Oleh : Khoiriyyah Azzahro</p>
<p> Perempuan setengah baya itu terus menari di atas <em>lewang</em><sup>1)</sup> tipis, meski gendang dan <em>klentengan</em><sup>2)</sup> tak lagi ditabuh. Bulir-bulir keringat telah hadir di pelipisnya. Pada kedua tangannya tergenggam daun <em>lenjuang</em><sup>3)</sup> dan <em>lemang</em><sup>4)</sup> yang tak lagi utuh.</p>
<p>Lalu entah mengapa hadir rasa sesak di dadaku.Adapanas di mataku.</p>
<p>Perempuan setengah baya itu terus menari di atas <em>lewang</em> tipis, meski semua mata memandang heran padanya. Perlahan <em>orang bekenjong</em><sup>5)</sup> itu memutar tubuhnya dari atas <em>lewang,</em> lalu beranjak berkeliling ruangan. Di tangannya masih tergenggam daun <em>lenjuang</em> dan <em>lemang </em>yang tak lagi utuh.</p>
<p>Sesak makin terasa di dadaku. Panas makin menjadi di mataku.</p>
<p><em>Tapi tunggu!!</em></p>
<p>Mengapa Anisah harus membacakan <em>ayat kursi</em><sup>6)</sup> itu di telingaku? Mengapa tidak pada Ira? Dan mengapa istri <em>petinggi</em><sup>7)</sup> harus memegangi tangan dan mendekap tubuhku seperti ini? Hingga hanya bola mataku yang dapat kugerakkan. Menyapu pandang seluruh ruang.</p>
<p>Tiga orang penabuh gendang dan <em>klentengan</em> tiba-tiba beranjak dari duduknya. Mereka menghampiri perempuan setengah baya yang masih berkeliling ruangan sambil menari memutar-mutar tubuhnya. Gerombolan lelaki yang berdiri di depan pintu serta para perempuan yang khusuk dengan bacaan bertuliskan ‘<em>Surah  Yassin’</em><sup> <img src='http://studiokata.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </sup>, mendadak terhenyak.</p>
<p>Sesak terus saja menusuk dadaku. Panas masih jua menjalari mataku.</p>
<p><em>Hentikan, Anisah!</em></p>
<p>MengapaIamasih membacakan <em>ayat kursi </em>itu di telingaku.</p>
<p><em>Lepaskan, Bu!</em></p>
<p>Mengapa istri <em>petinggi</em> makin erat saja mendekapi tubuhku?</p>
<p><em>Hey</em>…<em>!!</em></p>
<p>Mengapa pula tak sepatah kata pula yang sanggup kukeluarkan dari mulutku? Hanya tangan, tubuh dan kakiku yang ‘berbicara’ menggeliat, menendang, menuding, meronta…  tanpa bisa kukendalikan.</p>
<p>Perempuan setengah baya itu masih menari berkeliling ruangan Kini,Iamenari tanpa rasa, Ia menari tanpa makna.Parapenabuh gendang serta klentengan sedang berusaha memegangi tubuhnya demi menghentikan gerak tarinya.</p>
<p>“<em>O</em>.. <em>lennaas!! Sida bekenjong kesarungan!!</em>”<sup>9)</sup> tiba-tiba istri <em>petinggi</em> memekik.</p>
<p>Sesak menghebat di dadaku. Panas menusuk di mataku. Tapi, tetap kucoba hela nafas panjang nan berat sambil menutup penglihatan. Sejenak saja…..</p>
<p align="center">*  *  *</p>
<p align="center">
<p>Kubuka perlahan kedua pelupuk yang lekat pada ambang penglihatan. Silau jingga senja yang mulai kemerahan nampak di ufuk barat.</p>
<p>Kuhirup aroma sungai Ngayau yang semakin menyurut di akhir bulan <em>Qomariah</em><sup>10)</sup>. Bau tanah makin nyata di tiap hela nafas.</p>
<p>“<em>Endak mendi kita</em>?”<sup>11)</sup> tanya itu menyentak lamunku yang setengah rasa. Membuat ember kecil di genggaman kananku yang cukup berat ikut tersentak.</p>
<p>“<em>Kenapa mendi sore-sore kita?”</em><sup>12) </sup>suara itu memaksa tatapku mencari asalnya. Terlihat pandangku seorang lelaki muda berjongkok di <em>batang</em><sup>13)</sup> seberang, tak jauh dari <em>batang</em> yang kutuju. Tangan kanannya mengaduk-aduk air sungai dengan <em>jahap</em><sup>14)</sup><em> </em>panjang.<em></em></p>
<p><em>Sadaq!  </em>Lelaki itu menoleh ke arahku.<em></em></p>
<p>“<em>Ndi</em><sup>15)</sup>! Tadi baru dari tepat mengajar. Jadi, Saya baru sempat mandi sekarang” jawabku.</p>
<p>Lelaki itu menatapku tanpa ekspresi. Kemudian kembali mengalihkan pandang pada arus sungai di hadapannya.</p>
<p><em>Mengapa Ia terfekur saja di sana?</em></p>
<p>Kulangkahkan kaki perlahan menuruni titian dari dahan <em>luyaq</em><sup>16)</sup> yang ditumbangkan. Ada masygul dan <em>himung</em><sup>17)</sup> saat dahan yang terjejaki selebar kaki itu bergoyang naik turun.</p>
<p>“<em>Sida</em><sup>18)</sup> Ira ternyata benar!” Lelaki itu menggumam. Matanya masih terpaku pada arus sungai di hadapannya.</p>
<p>Kuhentikan jejakku pada <em>batang</em> mengapung di sungai Ngayau yang jernih berkilauan kala lelaki itu kembali berkata “<em>Mendi</em> di sungai sendiri. <em>Pigi</em><sup>19)</sup> mengajar sendiri. <em>Pigi milir<sup>20)</sup></em> sendiri. <em>Ndi’ </em>takut<em> kita</em>?” lelaki itu mengujar. Matanya masih terpaku pada arus sungai di hadapannya.</p>
<p>Kuterpana oleh kata-kata lelaki itu. Telah sedemikian dekat kah pergaulannya dengan Ira, rekan sekelompokku itu, hingga dengan mudah Ia mengetahui ragam kebiasaanku dari tutur ucapan Ira?</p>
<p>“<em>Pigi jemben</em><sup>21)</sup> malam-malam sendiri, mencuci sendiri…” lelaki itu kembali mengujar. Matanya kini mengerling padaku.</p>
<p>Kuterhenyak mendengar oceh lelaki itu. Sedemikian mudahnya-kah Ira mengumbar kisah pada lelaki itu? Untuk sementara tanya demi tanya itu merasuki ruang fikirku saja. Karena silau jingga senja memaksaku <em>tuk</em> segera menuju <em>jemben</em> di atas <em>batang</em>.</p>
<p>Sejenak, sebelum menutup pintu <em>jemben</em>, kuanggukkan kepala memohon permisi pada Sadaq. Tampak tergesa, Ia beranjak dari <em>batang</em>.</p>
<p>“<em>Kla</em><sup>22)</sup>!” Tiba-tiba <em>bariton</em> Sadaq sudah di ambang pintu <em>jemben</em> dan tangan kekarnya menahan pintu <em>jemben</em> tepat kala Aku akan merapatkannya.</p>
<p><em>Apa-apaan sih, ini?</em></p>
<p>“Ini!” Tangan kekar Sadaq lainnya terulur padaku. Sebuah kantung plastik tergenggam disana.</p>
<p>Kuterima angsuran tangannya dengan rasa gamang. Tiga botol kaca berisi sirup berwarna merah, hijau dan jingga, dengan tulisan nama, rasa dan merek lokal, membuat kantung plastik itu terasa cukup berat.</p>
<p>“<em>Kemayi, Lhok pigi milir. Sida bli ni buat kita semue di posko</em><sup>23)</sup>” lelaki itu mengunggingkan senyumnya padaku.</p>
<p>Meski bukan kali pertama menerima pemberian dari warga desa, entah mengapa kali ini terbersit ribuan heran dan gamang kuradakan. Mengapa Sadaq menyerahkan barang-barang ini kepadaku?BukankahIabisa memberikannya di posko kelompok Kuliah Kerja Nyata kami?</p>
<p>“Eh … Oh?! Ya?” sisa kegamangan meninggalkan kelu pada lidahku hingga tak tahu berucap apa. Dan Sadaq, lelaki di ambang <em>jemben</em> itu diam saja. “Hm.. kalau begitu, tolong sampaikan salam buat <em>sida </em>Lhok, ya! Sampaikan terimakasih Saya dan teman-teman!”</p>
<p>Lelaki itu mengangguk sebelum berbalik dan melangkah menjauhiku yang masih berada di <em>jemben</em>. Sosoknya menghilang di balik rerumah yang berjejer di sepanjang bantaran sungai Ngayau. Dan kegamangan masih saja meliputi perasaanku.</p>
<p><em>Sadaq</em>… dua minggu yang lalu Aku mengenalnya. Usai rapat dengan Kelompok Karang Taruna desa, Ia bersama Pepi, Lhok, dan Kechong, tiga pemuda desa Ngayau langsung mengunjungi posko kelompokku yang bersisian dengan rumah <em>petinggi</em>. Dan sejak saat itu, Ia dan Lhok menjadi sering bertandang ke posko.</p>
<p>Tak ayal dalam jangka waktu kurang dari seminggu, tersiarlah kabar bahwa Sadaq telah berhasil mengajak Ira jalan berdua. Karena di desa kecil ini, setiap tindak ulah tanduk manusia dan alam akan mudah tercium. Meski hanya sekedar jalan berdua berkeliling desa, Ira dan Sadaq telah mampu ‘menggemparkan’ seisi desa.</p>
<p>“<em>Hallaahh</em>! Jangan difikirin!! Biasalah orang desa. Aku <em>kan</em> <em>cuman</em> jalan sama tuh cowok kampung! <em>Gak ngapa-ngapain, kok</em>!” komentar Ira malam itu di bawah bundar benderang purnama yang memasuki beranda posko. Ditemani gelas-gelas berisi sirup warna-warni yang dititipkan Sadaq senja sebelumnya.</p>
<p>“<em>Lagian tau gak? Tuh cowok </em>basi <em>banget</em>! Tiap detiknya cuma <em>ngomong</em> dia-nya <em>doang. </em>Seakan-akan seluruh desa ini dia yang punya!”</p>
<p>Kutatapi wajah Ira yang entah mengapa tampak memerah usai berucap sinis malam itu.</p>
<p>“Maksudnya apa, <em>sih</em>?” tanyaku.</p>
<p>“Aduh.. Debby! <em>Tuh</em> cowok cuma <em>omdo</em>, <em>kalle</em>! Omong doang! Ya.. Orang kampung!”</p>
<p>Kutatapi lagi wajah Ira yang tampak makin memerah malam itu.</p>
<p>“Jangan sembarangan <em>ngomong</em> kamu, Ra! Orang desa itu banyak yang punya ‘ilmu’, lho!” kalimat Anisah membuat Ira tibatiba tersedak dari minumnya.</p>
<p>“<em>Sumpeh</em>, Ra! <em>Ntar</em> kalau kamu dipelet <em>tuh</em> cowok atau <em>diguna-gunain gimana</em>?” ucap Anisah kembali.</p>
<p>Kusaksikan kekeh Ira sembari menyeka mulut basahnya arena sirup warna-warni yang sedang ditenggaknya. Ujarnya sambil menatap Anisah dan Aku, “Kalian semua percaya sama omongan orang kampung ya? <em>Udaah</em>.. jangan coba pengaruhiku sama hal-hal aneh macam <em>mistik</em> <em>gitu</em>, <em>deh</em>!”</p>
<p>Kutengok Anisah yang sedetik kemudian juga balas menengok ke arahku. Senyap pun hadir sedetik setelahnya. Seluruh pendengaran tertuju pada kokok <em>manuk</em><sup>24)</sup><em> </em>yang diiringi raung <em>koyo</em><sup>25)</sup> di kejauhan.</p>
<p>Kutatapi lagi wajah Ira yang makin memerah hingga pandangku terasa panas, dadaku terasa sesak dan semakin sesak.</p>
<p>“Mereka datang, Ra!”</p>
<p>Kudengar ucapanku sendiri yang datar dan bergetar. Sedetik kemudian kulihat kejut di wajah Anisah mendapati sosok Ira terhempas dan terlentang di dekatnya.</p>
<p>Kucoba dekati tubuh Ira dan sosoknya makin menggelepar dengan mata nanar menatapku. <em>Kenapa, Ra? Ada apa? Mengapa kamu memandangku seperti itu?</em> Kupaksakan tanya dari mulutku. Namun yang kudengar hanyalah raungan <em>koyo</em> di kejauhan, memekakkan telinga.</p>
<p>Kualihkan pandang pada Anisah yang memekik hebat. <em>Kenapa, Sah? Kenapa kamu harus memekik? </em>Kuulangi tanya demi tanya itu. Namun yang terdengar adalah kokokan <em>manuk</em> di kejauhan.</p>
<p>Kusaksikan kini geliat tangan dan kakiku sendiri. Lalu entah mengapa ada sesak di dadaku.Adapanas di mataku. Aku tak sanggup membuka pelupuk kedua mataku.</p>
<p align="center">*   *   *</p>
<p align="center">
<p>Silau neon memaksa kedua mataku terbuka. Menemukan beberapa lelaki dan perempuan mengerubungi seorang perempuan setengah baya. Membaui wangi lemang yang dikukus dengan bambu.</p>
<p>Perempuan setengah baya itu tak lagi menari-nari, karenanya gendang dan <em>klentengan</em> tak lagi ditabuh. Namun bulir-bulir keringat terus mengalir di pelipisnya. Kedua tangan dan kakinya meronta dengan meski empat orang lelaki telah memegangi mengunci geraknya.</p>
<p>“<em>Kase ranam! Kase ranam!</em><sup>26)</sup>” ujar seseorang sambil mengangsurkan segelas air tawar. Seorang lelaki menyambut dengan tangan bergetar. Dan gelas berisi air tawar itu didekatkan pada mulut sang perempuan setengah baya.</p>
<p>Namun sebelum air tawar tersebut berhasil diminumkan, sang perempuan setengah baya tiba-tiba memegangi tangan lelaki itu dengan erat.</p>
<p>“<em>Hi!!</em>”  teriakan dari mulut sang perempuan setengah baya, mengejutkan seisi ruangan. Air tawar yang baru saja akan diberikan padanya tertumpah setelah dicampakkannya.</p>
<p>“MA &#8211; NA  SA &#8211; DAQ?  MA &#8211; NA  SA &#8211; DAQ?”</p>
<p>Sang perempuan setengah baya bertanya terbata.</p>
<p>“Sadaq <em>hi de</em><sup>27)</sup>! <em>Sida pigi milir Samarinda</em>!” Jawaban itu muncul dari balik pintu. Sesosok lelaki menyeruak ke tengah-tengah ruangan.  <em>Lhok?!</em></p>
<p>“Dua bulan lagi Sadaq kembali dari <em>jebe</em><sup>28)</sup>” ucapan Lhok di ikuti senyap.</p>
<p>“Maksud <em>kita..</em> Sadaq melarikan diri? <em>Sida</em> buat orang-orang kota begini, lalu <em>sida</em> <em>pigi</em>?” Istri petinggi berkata geram. Tangannya masih erat mendekapi tubuhku.</p>
<p>“<em>O lennass</em>! <em>Sida</em> harus segera balik ke desa ini! Hanya <em>Sida</em> yang harus kembalikan <em>bujang serinta<sup>29)</sup></em>. Cari labu air hitam!!<sup>30)</sup>” perempuan setengah baya itu kembali berteriak. Kalimatnya yang tak lagi terbata menggema di ruangan yang dipenuhi orang-orang desa.</p>
<p>Namun, tak satu pun yang menanggapi ucapannya. Seluruh telinga di ruangan ini seakan ditulikan. Seluruh mulut yang ada di ruangan ini seakan dibungkam. Hanya mata mereka terpaku menatapi Lhok yang melangkah pelan ke arahku.</p>
<p>“Labu air hitam! Cari labu air hitam!” teriakan perempuan setengah baya itu masih jelas terdengar. Tapi, seluruh rasaku ikut terpaku menatapi Lhok yang masih melangkah perlahan ke arahku.</p>
<p><em>Lhok… ini apa? Katakan padaku ini ada apa? Kau pemuda desa yang baik. Jadi tolong katakan padaku, ada apa?Mengapa Ira, juga Anisah, bertingkah aneh setelah meminum air yang Kau berikan pada kami lewat Sadaq? Mengapa Lhok?</em></p>
<p>“Maaf, Debby! <em>Bujang Serinta</em> meminta Kau!” Lhok berkata lirih di telingaku.</p>
<p><em>Apa?</em></p>
<p><em>Lhok.. Kau tahu, tak ada Bujang Serinta! Buaya pemangsa manusia dari Sungai Kedang Kepala di ujung negeri Kutai itu hanya mitos! Legenda! Itu tak nyata, Lhok!</em></p>
<p>Kuyakin<em> </em>telah mengucapkan kalimat itu sebelumnya. Dan kini ucapan itu kuulang kembali sembari menatapi Lhok yang telah di samping tubuh lemasku.</p>
<p>Namun, tak satu pun tindakan yang diperbuat Lhok.</p>
<p>“Debby, <em>Kau hi salah! Kemayi Ira carang kan pa kita…</em>” perkataan lirih Lhok di telingaku kali ini memaksaku mengingat beberapa ucapan Ira sebelumnya.</p>
<p>“Alah! Orang kampung! Mana ada buaya yang dapat hidup di sungai? Apa lagi mau memakan apa saja yang jatuh ke dalam sungai. Dan hanya memakan isi tubuh dan perut manusia saja. Aneh kan!” kalimat ini memang pernah diucapkan oleh Ira ketika kelompokku baru tiba di desa ini.</p>
<p><em>Tapi.. mengapa kini harus Aku…</em></p>
<p>“Angkat <em>wala-wala</em><sup>31)</sup><em> </em>ke <em>gubeng</em><sup>32)</sup>! Juga <em>Sida</em> Debby! Siapkan labu air hitam!” Lantang Lhok memerintah diikuti sigap beberapa orang.</p>
<p><em>Hey.. Tunggu!! Jawab tanyaku… Mengapa harus Aku?</em></p>
<p>Kumeronta sekuat tenaga. Namun beberapa tangan kekar segera mendekapi tubuhku. Seketika ragaku terbelenggu dan kaku. Tangan-tangan kekar tersebut mengangkat tubuhku serempak. Hingga sekejap kemudian, Aku, seperangkat kotak dari batang pinang dan bambu, <em>lemang</em> dan serakan daun <em>lenjuang</em>, serta sang perempuan <em>bekenjong</em> yang telah setengah baya juga Lhok dan beberapa orang lelaki, telah berada di dalam <em>gubeng</em> bersama.</p>
<p>Kumerintih dan terus meronta sekuat tenaga. Hingga <em>gubeng</em> yang kami berada di dalamnya ini mulai oleng dan bergoyang di atas sungai.</p>
<p>“Tenang, Debby! Ini cuma ritual. Kau tak kankenapa. <em>Bujang serinta</em> pasti lindungi <em>kita<sup>33)</sup></em>” Entah mengapa tubuhku pasrah setelah ucapan lirih Lhok tersebut. Hingga akhirnya <em>gubeng</em> berlarut dalam pelayarannya menyusuri sungai.</p>
<p>Bau Sungai Ngayau yang menyurut di akhir bulan semakin tercium. Gelap malam penghias pandang tertutup hutan pedalaman Kalimantan. Dan Aku terbaring saja dalam dekap dan belenggu tangan-tangan kekar.</p>
<p>Tiba-tiba kurasakan langit berputar. Terdengar suara perempuan setengah baya <em>bermamang</em><sup>34)</sup> mantra. Tangannya meraih <em>wala-wala</em> lalu menceburkan benda tersebut ke dalam sungai. Sedikit demi sedikit bagian demi bagian <em>wala-wala</em> tenggelam ke dalam sungai.</p>
<p>Kumasih mencoba meronta namun entah mengapa sekujur tubuhku terasa kaku. Kurasakan sentuhan dingin dari tangan berkeriput milik sang perempuan <em>bekenjong</em>, namun hanya geliat kecil yang mampu kulakukan. Perlahan tubuhku sedikit terangkat oleh dua pasang tangan kekar lelaki.Ada dingin yang menusuk kala tumitku di arahkan pada air sungai.</p>
<p>Perempuan setengah baya masih ber<em>mamang</em> lirih sembari mendekapi tubuhku. Matanya berkilat kala kutatapi. Sesaat ia terdiam. Meraih daun <em>lenjuang</em> yang telah basah oleh air tepung tawar, lalu memerciki tubuh dan wajahku dengannya.</p>
<p>“Bujang serinta, buaya sungai nan gagah lagi perkasa, menunggu <em>kita</em>, Debby. Setelah tubuh <em>kita</em> <em>tama<sup>35)</sup> ranam semue</em>, kita harus segera keluar dari <em>ranam</em>, ya!?!” Perempuan setengah baya itu berbicara padaku sambil memerciki ubun-ubunku, bagian terakhir yang Ia mantra-i.</p>
<p>Kupaksakan membuka mulutku, namun tiada satu suara yang mampu tercipta. Perlahan, tubuhku dilepaskan hingga sedikit demi sedikit memasuki sungai Ngayau.</p>
<p>Kurasakan dingin basah air sungai merambati tubuhku. Gelap malam menghiasi pandangku yang tergugu dalam tanya tak mengerti. Seringai wajah tiba-tiba memantul dari raut perempuan setengah baya yang kutatapi. Wajah itu … Sadaq??</p>
<p>Kumeronta hebat kala tubuhku meluncur memasuki kedalaman sungai Ngayau.</p>
<p><em>Mengapa harus Aku?</em></p>
<p>Kuterus mengelepar meski air sungai telah setinggi perutku.</p>
<p><em>Mengapa harus Aku?</em></p>
<p>Maka sesaat kuterlupa bahwa tubuhku tak dapat mengapung di permukaan air sungai Ngayau ini. Kuhanya teringat bahwa program Kuliah Kerja Nyata kelompokku telah usai dan rampung. Kuhanya teringat bahwa seharusnya kini kelompokku sudah kembali ke almamater, ke kota Samarinda….  setengah bulan yang lalu.</p>
<p align="right"><strong><em>Banjarmasin, 26 Januari 2009</em></strong></p>
<p align="center">
<p align="center">*     selesai    *</p>
<p align="center">
<p>Keterangan : 1) <em>lewang</em>: sejenis <em>nyiru</em> atau <em>tampi</em>, alat menyayak gabah/beras, 2) <em>klentengan</em>: alat musik yang dipukul serupa gong, 3) <em>lenjuang</em>: tanaman hutan yang kerap digunakan untuk pengobatan, 4) <em>lemang</em>: penganan dari beras ketan yang direbus dengan sedikit santan khas Kalimantan Timur, 5) <em>bekenjong (orang bekenjong)</em>: dukun belian, dukun yang melayani pengobatan bagi orang-orang sakit, baik fisik maupun psikis, 6) ayat kursi: Surah Qur’an Al Baqoroh ayat 183, 7) <em>petinggi</em>: pejabat eksekutif setingkat lurah, <img src='http://studiokata.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> <em>Surah Yassin</em>: Surah Qur’an ke 36, 9) <em>O lennaas!! Sida bekenjong kesarungan!</em>: ya ampun!! Si dukun kesurupan!, 10) <em>Qomariah</em>:<em> </em>tahun penanggalan berdasarkan rotasi bulan, dikenal juga sebagai tahun <em>hijriah,</em> 11) <em>Endak mendi kita</em>?: kamu mau mandi?, 12) <em>Kenapa mendi sore-sore kita</em>:<em> </em>kenapa kamu mandi sore hari?, 13) <em>batang</em>: hamparan kayu atau batang pohon yang diapungkan di atas sungai sebagai tempat  warga beraktivitas, 14) <em>jahap</em>: jenis rotan besar yang tumbuh dan hidup subur di dataran tepi sungai, 15) <em>Ndi</em>: tidak, 16) <em>luyaq</em>: jenis pohon kayu yang tumbuh didelta sungai, 17) <em>himung</em>:<em> </em>senang, 18) <em>Sida</em>: beliau<em>/ ‘ si’</em>:<em> </em>kata sandang untuk orang yang dihormati, 19) <em>Pigi</em>: pergi, 20) <em>milir</em>: pergi ke kota besar jauh dari desa, 21) <em>pigi jemben</em> : pergi ke kamar kecil, 22) <em>Kla</em>: nanti-tunggu, 23) <em>Kemayi, Lhok pigi milir. Sida bli ni buat kita semue di posko</em>: kemarin, Lhok pergi ke kota (jauh dari desa). Beliau beli ini untuk kalian di posko, 24) <em>manuk</em> : ayam, 25) <em>koyo</em>: anjing, 26) <em>kase ranam</em>: beri<em> </em>air<em> (ranam</em>:<em> air murni dari sumur tanah, suku kutai biasa meminum air sumur tanpa melalui proses perebusan), </em> 27) <em>hi de</em>!: tak ada 28)<em> jebe</em>: luar desa, 29)<em> bujang serinta</em>: buaya pemangsa manusia yang me-legenda hingga kini dan dipercaya masih ‘menghuni’ Sungai Kedang Kepala dari ujung selatan hingga Sungai Ngayau di ujung timur laut Kabufaten Kutai Timur,  30) <em>labu air hitam</em>: sejenis labu air yang  berwarna hitam yang bagian dalamnya telah diisi bermacam-macam ramuan beracun untuk dipersembahkan kepada bujang serinta, 31)<em>wala-wala</em>: semacam kotak persegi bermotif khas yang di dalamnya diisi perangkat sesajen termasuk labu air hitam, 32) <em>gubeng</em>: perahu kayu, 33) <em>kita</em>: kamu/anda, 34) <em>bermamang</em>:<em> </em>mengucap mantra, 35) <em>tama</em>: masuk,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Biodata penulis :</p>
<p><em>Penulis bernama </em><em> pena Khoiriyyah Azzahro (atau kadang ditulis juga Khoiriyyatuzzahro). Sekarang tinggal di </em><em> Banjarmasin, Kalimantan Selatan.   Beberapa karya tulis yang </em><em>pernah dimuat pada Majalah KaWanku, Tabloid Gaul, Tabloid Ummah, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Pernah pula memenangkan lomba kepenulisan diantaranya Lomba Menulis Artikel Lingkungan Hidup yang diselenggarakan olah Banjarmasin Post (Juara 3), Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja (LMCR) Tingkat Nasional oleh Rayakultura dan Rohto pada tahun tiga tahun berturut-turut (2009, 2010 dan 2011) kemarin. Beberapa buku yang pernah dihasilkan bersama-sama (antologi) adalah Kalimantan Dalam Puisi Indonesia ed. Korrie Layun Rampan yang diluncurkan pada Dialog Sastra Borneo di Samarinda baru-baru kemarin,  “Mencari Wajah Ibu” (Antologi Pemenang Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja Nasional tahun 2009) dan “Episode Luka” (Antologi Komunitas Pena Kita Banjarmasin).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro%2F&amp;linkname=Cerpen%20%20%3A%20BEK%C3%89NJONG%20%26%238211%3B%20oleh%20%20%3A%20Khoiriyyah%20Azzahro" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro%2F&amp;linkname=Cerpen%20%20%3A%20BEK%C3%89NJONG%20%26%238211%3B%20oleh%20%20%3A%20Khoiriyyah%20Azzahro" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro%2F&amp;linkname=Cerpen%20%20%3A%20BEK%C3%89NJONG%20%26%238211%3B%20oleh%20%20%3A%20Khoiriyyah%20Azzahro" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro%2F&amp;linkname=Cerpen%20%20%3A%20BEK%C3%89NJONG%20%26%238211%3B%20oleh%20%20%3A%20Khoiriyyah%20Azzahro" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro%2F&amp;linkname=Cerpen%20%20%3A%20BEK%C3%89NJONG%20%26%238211%3B%20oleh%20%20%3A%20Khoiriyyah%20Azzahro" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro%2F&amp;linkname=Cerpen%20%20%3A%20BEK%C3%89NJONG%20%26%238211%3B%20oleh%20%20%3A%20Khoiriyyah%20Azzahro" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/cerpen-bekenjong-oleh-khoiriyyah-azzahro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KATA HATI</title>
		<link>http://studiokata.web.id/kata-hati/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/kata-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 23:50:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Anak baru dari Surabaya ya?”, begitu pertanyaan yang diajukan sewaktu aku makan semeja dengannya di kantin kantor di hari pertama aku berstatus sebagai karyawan baru. Dia dan teman-temannya yang semeja denganku adalah karyawan senior enam bulan di atasku dan lebih duluan diterima di Perusahaan ini . Aku mengangguk. Sejenak terlihat pria  jangkung  itu akan menanyakan [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Anak baru dari Surabaya ya?”, begitu pertanyaan yang diajukan sewaktu aku makan semeja dengannya di kantin kantor di hari pertama aku berstatus sebagai karyawan baru. Dia dan teman-temannya yang semeja denganku adalah karyawan senior enam bulan di atasku dan lebih duluan diterima di Perusahaan ini . Aku mengangguk. Sejenak terlihat pria  jangkung  itu akan menanyakan lagi sesuatu kepadaku, tetapi diurungkannya. Langsung saja ekspresi serius dan tanpa senyum terpasang di mukanya yang sebenarnya tergolong manis bila lebih banyak senyum tersungging di bibirnya, dan juga bila tarikan mata tegangnya dikendurkan. Walau seingatku, tadi sekilas senyuman dan tatapan geli ada di raut mukanya saat menanyakan asalku. Setelah itu, tidak ada lagi kata-kata, kalimat, ataupun keramahan di wajahnya. Tidak ada. Dia melanjutkan makannya dan berkonsentrasi ke makanan yang ada di piring, dan segera menyelesaikan makan siang tersebut, lalu beranjak pergi. Aku terbengong&#8230;</p>
<p>Dan sikap itu berlanjut hingga belasan tahun kemudian, dan kuanggap menjadi pola dari karakter manusia yang memang berbeda-beda. Saat kami mendapat tugas, dinas, ataupun pekerjaan berbarengan-pun,  Tidak ada kalimat panjang terucap atau komunikasi yang wajar. Hanyalah kata iya&#8230;ayo&#8230;dan tidak&#8230; atau sikap ketus yang mengagetkan. Walau ada saatnya dia seakan protektif dan marah saat ada orang usil yang menggodaku di lobby sebuah Hotel, saat itu kami dinas bersama dan menginap di Hotel yang sama.</p>
<p>Mungkinkah Allah memberikan perasaan benci kepada seseorang pada saat pandangan pertama, kebalikan dari rasa suka di pandangan pertama. Tadinya aku tidak mempercayainya&#8230;namun setelah itu aku percaya&#8230;karena hal itu memang terjadi&#8230;dan mengenaiku. Walau aku selalu sering mengingat-ingat, kesalahan apa yang pernah aku perbuat kepadanya? Atau memang sikap dan penampilanku sangat menjengkelkan dan memuakkan? Bahkan aku pernah ingin sekali menanyakan soal ini pada orang-orang yang ada di sekitarku tentang hal ini, tanpa sebab musabab ada seseorang yang terlihat begitu amat sangat membenci dan jengkel kepada seseorang. Sempat bingung dan tak percaya namun aku hanya anak baru yang rasanya belum punya kenalan siapa-siapa. Namun akhirnya aku tak peduli, karena aku harus menjalani hidup ini. Dunia masih indah bagiku. Walau ada satu orang atau lebih yang tidak suka dan muak padaku, namun teman-teman yang lain bersikap baik padaku, setidak-tidaknya mereka tidak sesinis dan seketus dia. Dan aku berusaha tidak peduli&#8230;.dan akhirnya benar-benar tak peduli.</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>”Kalian terlihat tidak pernah saling berbicara&#8230; kenapa?”, begitu pertanyaan yang diajukan Iwan sahabatnya kepadaku. ”Memang kami tidak saling kenal, dan dia terlihat sangat tidak suka padaku”, jawabku. ”Memangnya kenapa sih?”, tanya Iwan ingin tahu. ”Namanya nggak suka ya nggak suka&#8230;dan perlu Iwan tahu&#8230;aku nggak peduli dan nggak jadi masalah buatku&#8230;dia mau ramah atau tidak&#8230;aku nggak pathek-en”, jawabku sekenanya. ”Aneh&#8230;aku khawatir ada sebab-sebab tertentu”, kata Iwan sok tahu.</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p>”Ada puisi yang bagus lho Bu di blog POETRYKOE. Tulisannya bagus dan keren”, kata anak sulungku, Dara. ”Sebagus apa?”, tanyaku. ”Coba lihat, ini Bu”, kata anakku sambil menunjuk ke layar yang telah di bukanya. ”Puisinya dalam dan menyentuh. Kata-katanya indah..dan seakan Penulisnya menyusun bait demi bait dengan penuh perasaan”, kata anakku yang memang suka ber-puisi ria. ”Silahkan saja Ibu baca dulu, Dara mau menggoreng nugget untuk camilan&#8230;laper nih!”. Membaca karya sastra yang unik menjadi salah satu kegemaranku, baik itu berupa buku maupun hasil karya yang sering direkomedasikan Dara Putriku dalam blog. Putriku ini pula yang mengajariku cara membuat blog ataupun hanya membuka-buka blog orang lain.</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p><span id="more-211"></span>”Pekerjaan ini harus segera kita diselesaikan, dan batas akhir Minggu ini. Saya harap dukungan penuh teman-teman. Kita lakukan lembur kalau memang diperlukan”, begitu kata si Mister Perfectionis yang sangat sulit tersenyum itu, namun waktu itu sambil tersenyum kepadaku. Hari-hari berikutnya keramahan itu berlanjut. Aku terbengong&#8230;..</p>
<p>Perubahan itu terasa mengejutkan. Bahkan sewaktu kami duduk satu meja, dia sempat mengajak ngobrol. ”Dara itu putri-nya ya”, tanyanya kepadaku. ”Lho kok tahu nama anak saya?”. ”Iya&#8230;saya tahu..dia mengomentari tulisan saya, dan dia menyebutkan nama Ibunya yang sangat saya kenal di-blog-nya”, katanya dengan santai. ”Tulisan di mana?”, tanya saya. ”Tulisan di blog”, jawabnya pendek. ”Komentar Dara sangat bagus&#8230;dia suka menulis ya?”, tanyanya lagi. ”Iya&#8230;dari kecil suka menulis puisi”. ”Oh iya&#8230;blog anda yang mana?”, tanya saya. ”POETRYKOE&#8230;”, jawabnya. ”Belum pernah membuka blog saya?”, tanyanya lagi. ”Oh&#8230;kemarin saya sempat melihat, karena Dara yang memperlihatkan ke saya,  akhirnya saya membaca puisi tulisan anda&#8230;bagus menurut saya”, jawab saya sambil mengingat-ingat isi puisi yang telah saya baca kemarin. Saya tetap menjaga sikap formil dengan ber-”anda-anda” seperti belasan tahun silam. ”Suka menulis juga seperti Dara?”, tanyanya. ”Siapa?”, tanya saya bingung. ”Siwi&#8230;”, jawabnya sambil melihatku dengan sinar mata geli. Nama saya disebut, hanya dengan kata : Siwi, tanpa Bu ataupun kata ganti Anda. ”Oh..suka juga&#8230;walau saya lebih suka membaca saja”, jawabku cepat dan terheran-heran. Aku tidak biasa dipanggil nama langsung seperti itu&#8230;Siwi&#8230;kalau bukan teman-teman akrab atau sahabatku yang memanggilku. Aku jengah. Dia sok akrab kali ini dan dia bukan teman akrabku. Bahkan mungkin&#8230;orang yang paling membenciku&#8230;atau yang mengganggap aku musuhnya di dunia ini. Namun saat ini memang tidak lucu lagi menganggap dia sebagai musuh, karena aku merasa waktu terus berjalan dan kami semua telah amat sangat dewasa, dan tidak ada sebab sehingga kami harus menjadi seteru. Bagiku bermusuhan adalah sikap kekanak-kanakan.</p>
<p>Menjelang usai pertemuan&#8230;dia mendekatiku sambil berkata : ”Coba saja kalau ada waktu buka-buka blog saya, di sana akan Siwi temukan banyak hal yang mungkin berarti bagi Siwi&#8230;.”.</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p>Kubaca pelan-pelan bait demi bait puisi itu, walau kemarin beberapa telah sempat aku baca sambil lalu :</p>
<p>Rinduku</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Rinduku sangat dalam untukmu</p>
<p>Menumpuk belasan tahun</p>
<p>Serasa ngilu</p>
<p>Gerakmu,</p>
<p>Tawamu,</p>
<p>Selalu terbayang</p>
<p>Di angan maupun mimpiku</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Kutak tahu</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Masih juga kau tak tahu</p>
<p>Kutak tahu kala itu kau masih sendiri</p>
<p>Ketegaranmu menciutkanku</p>
<p>Keangkuhan dan rasa takut itu</p>
<p>bersemayam di diri</p>
<p>Kumenyesal melewatkan kesempatan itu</p>
<p>Untuk menyapamu</p>
<p>Mengenalmu</p>
<p>Kumenyesal</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Kau</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Matamu yang polos</p>
<p>Menatapku dengan rasa ketakutan</p>
<p>Kebingunganmu menggemaskanku</p>
<p>Tetapi aku tak bisa berkata-kata</p>
<p>Kelu&#8230;.</p>
<p>Tekadku</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Tekadku harus bulat ’tuk katakan ini</p>
<p>Sebelum waktu itu terlewat</p>
<p>Sebelum keberanian itu kembali</p>
<p>Masuk ke dalam ruang keangkuhan</p>
<p>Ruang yang menyesakkan&#8230;</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p>Semingguan ini aku jadi bersaing dengan Dara, karena ingin melihat tulisan-tulisan yang semakin rajin ”terbit”. Bertubi-tubi puisi-puisi tertulis di blog itu. Membuatku ternganga dan mengharuskan aku bersikap tenang, walau dada ini terasa panas dan berdentam-dentam. Siapa yang dimaksudkannya. Siapa? Seberapa besar energi cinta yang mendorong seorang Insinyur Sipil yang terlihat serius menjadi begitu puitis ?. Puisi-puisi itu ditulisnya sejak lima tahun silam. Dengan rutinitas yang sangat mengagumkan. Setidak-tidaknya dua puisi setiap bulan. Dan hampir semua sanjungan-sanjungan dan perasaannya yang ditujukan ke seorang wanita, nasib malang yang selalu menghampiri, dan kesendirian yang sangat mencekam dan sepi. Sinyal dalam diriku mengatakan&#8230;.hati-hati Siwi&#8230;.</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p>Walau hari-hari berikut, perhatiannya terasa semakin mengkhawatirkan walau sekaligus membuat ku tersanjung dan melambungkanku. Perhatian dan kepeduliannya itu terasa semakin kental dan lekat. Menjadikanku galau dan resah. Dan minggu-minggu itu aku berusaha untuk semakin dekat kepada-NYA. Aku tak ingin lepas dari kekuatan Yang Maka Kuasa. Doa dan mohon ampun silih berganti aku panjatkan kepada Allah yang Maha Kuat dan Maha Memenangkan.</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p>Malam itu, kupandangi suamiku yang tertidur lelap bersama dua jagoanku Seto dan Bayu di tempat tidur yang dgelar di atas lantai. Ya Allah, aku sangat mencintai mereka. Mereka adalah sosok-sosok yang mencintaiku dengan tulus dan semata-mata karena-MU. hindarkanlah hamba dari godaan setan yang terkutuk. Suamiku inilah adalah pria yang paling berani dan bersikap jantan. Kerendahan hati dan cinta kasihnya mengalahkan kesombongan yang sebenarnya pasti ada di hatinya. Mas Nanang adalah pegawai negeri instansi Pemerintah yang rajin dan tekun dalam bekerja dan insyaallah amanah.  Sangat mencintai keluarga, peduli, dan bertanggungjawab. Sudah aku buktikan selama hampir delapan belas tahun pernikahan, tidak ada kendala berarti, kecuali perbedaan kecil karena masalah sepele dan hampir selalu terselesaikan pada saat itu juga. Sedangkan tentang dia? Aku tidak kenal banyak&#8230;.., bahkan jujur aku tak tahu. Yang kutahu dia adalah calon Pimpinan Puncak di suatu Perusahaan yang sama denganku. Hanya itu&#8230;</p>
<p>Pagi tadi dia sempat menemuiku dan mengatakan bahwa besok ingin berbicara empat mata perihal sesuatu yang sangat penting tentang aku dan dia dan bukan masalah kantor. Ya Allah&#8230;.</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p>Malam ini&#8230;. sambil memandang mereka yang aku cinta dan mencintaiku&#8230;.kubergumam : ”Maafkan aku suamiku dan anak-anakku&#8230;.walaupun sangat berat, percayalah Istri dan Ibumu ini akan melakukan hal yang terbaik &#8230;.”.</p>
<p>Lalu kuambil air wudlu untuk ber-tahajud&#8230;..</p>
<p><strong>* * *</strong></p>
<p>Bontang, 20 Mei 2010, Manik Priandani</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkata-hati%2F&amp;linkname=KATA%20HATI" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkata-hati%2F&amp;linkname=KATA%20HATI" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkata-hati%2F&amp;linkname=KATA%20HATI" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkata-hati%2F&amp;linkname=KATA%20HATI" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkata-hati%2F&amp;linkname=KATA%20HATI" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkata-hati%2F&amp;linkname=KATA%20HATI" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/kata-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepahitan yang Manis</title>
		<link>http://studiokata.web.id/kepahitan-yang-manis/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/kepahitan-yang-manis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 01:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Hari yang cerah selalu ada untuk jiwa yang memiliki harapan baru. Setiap hari disetiap umat manusia pasti punya harapan-harapan baru untuk kehidupan mereka. Berharap agar setiap masalah bisa cepat terselesaikan. Namun, bukan hidup namanya kalau tanpa masalah. Karena masalah adalah salah satu cara Tuhan untuk memberi lebih makna kehidupan bagi umat manusia agar mereka lebih [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Hari  yang cerah selalu ada untuk jiwa yang memiliki harapan baru. Setiap  hari disetiap umat manusia pasti punya harapan-harapan baru untuk  kehidupan  mereka. Berharap agar setiap masalah bisa cepat terselesaikan. Namun,  bukan hidup namanya kalau tanpa masalah. Karena masalah adalah salah  satu cara Tuhan untuk memberi lebih makna kehidupan bagi umat manusia  agar mereka lebih bisa menghargai hidup. Seperti orang Yang sedang sakit   yang harus puas tidur dipembaringan rumah sakit, tidak bisa  beraktivitas,  tidak nafsu makan, tidak bisa menjalani hari seperti biasanya yang dia  lakukan. Ketika sembuh, maka orang yang sakit itu bisa menghargai betapa   pentingnya kesehatan bagi kelangsungan hidupnya. Tapi yang selalu  membuat  saya bertanya, dari melihat fakta yang ada, kenapa masalah yang harus  dihadapi oleh orang-orang miskin lebih banyak daripada yang kaya?  Entahlah.  Tapi aku yakin, simiskin akan lebih ‘kaya’ disbanding sikaya apabila  mereka  berhasil mengatasi permasalahan hidup mereka. Dan kini  aku relah merasakan hal itu. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dalam  hitungan detik aku akan segera diwisuda. Aku sangat bahagia dan  bersyukur.  Dengan perjuangan akhirnya aku berhasil lulus S1 Psikologi dengan  predikat  cumlaude. Tentu banyak cerita pahit yang akhirnya membawa aku berhasil  sampai seperti sekarang. Dan ini semua adalah berkat kerja keras,  kegigihan,  dan doa tulus penuh ikhlas mama. Serta saudara-saudaraku (Livya, dan  satria) yang terus mendukungku tanpa henti.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">14  tahun yang lalu adalah awal dari serangkaian cerita-cerita pahit dalam  hidup ku, namun yang juga sangat berharga bagiku. Karena dari kepahitan  inilah yang bisa membuatku berhasil dan lebuh bisa lebih menghargai  makna hidup sesungguhnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Saat  aku kelas 2 SD orang tuaku bercerai. Dulu mama lah yang membantu papa  dalam mencari nafkah. Saat kehidupan ekonomi kami sedang membaik, suatu  hari mama kecelakaan, dan dokter bilang mama akan lumpuh selamanya atau  tidak bisa berjalan lagi dan hanya mengandalkan kursi roda. Kami semua  sangat sedih dan terpukul.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">6  bulan berikutnya, kami harus menerima fakta yang lebih pahit. Selama  2 minggu papa tidak pulang kerumah, ketika pulang papa kembali dengan  seorang wanita muda yang berpakaian seksi. Kami semua kaget. Papa datang   dengan wajah yang tidak ramah. Dia membuka pintu kamar dengan kasar  lalu mengambil semua bajunya dan perhiasan mama, lantas memasukannya  kedalam tas. Kakakku, Livya yang berbeda 5 tahun dari ku menghampiri  papa dan memeluknya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"><span id="more-207"></span>“papa…  mau kemana pa…?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Papa  tidak menghiraukan ka Livya sama sekali. Aku hanya bisa bengong melihat  papa dan tidak bisa bicara satu patah kata pun. Tiba mama datang dengan  kursi rodanya. Dengan berlinangan air mata, mama menghampiri papa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“mas  mau kemana…?” tanyanya. “ kalau memang aku punya salah, maafkan  aku mas…, tapi ku mohon jangan tinggalkan kami mas…?” isaknya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“He!  Untuk apa aku hidup dengan perempuan macam kamu! Perempuan cacat! Tidak  bisa apa-apa lagi!” katanya sambil membereskan baju-bajunya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Baru  saja mama hendak memohon, papa melemparkan suatu map keatas ranjang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“aku  akan ceraikan kau  sekarang!” bentaknya sambil keluar kamarmeniggalkan  mama yang shock mendengar pernyataan papa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Tertatih-tertatih   mama menmgejar papa dengan kursi rodanya sambil teriak memanggil-manggil   papa. Namun, papa tetap tak peduli dan malah menghampiri wanita seksi  yang berada diluar tadi. Mama terus mengejar papa sampai dia jatuh dari  kursi rodanya. Dia menangis terisak sambil terus memanggil papa. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“mas…  kumohon jangan tinggalkan kami. Kumohon jangan tinggalkan anak-anak  kita…. Dan bayi yang ada diperutku ini mas&#8230;” mama memohon kepada  papa dan mencoba bangkit sambil mengelus perutnya sendiri.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kulihat  papa berhenti sejenak setelah mendengar kata-kata mama yang terakhir.  Ku juga baru tahu kalau mama ternyata sedang hamil. Papa lalu  memalinghkan  badannya kearah mama.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“  omong kosong! Aku tak percaya! Dan tak mungkin itu anakku! Minta saja  tanggung jawab dengan laki-laki yang telah menzinaimu!” lalu dia pergi  dengan wanita itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kulihat  wanita menyunggingkan bibirnya melihat semua ini. Dia tersenyum di atas  tangis seorang perempuan yang sedang tak berdaya. Tersenyum di atas  kehancuran sebuah keluaga yang telah dibangun ama. Ini adalah awal  dimana  aku mengenal rasa benci. Aku membenci wanita itu yang telah merebut  papa dari kami. Dan papa, munkin aku juga akan membenci papa. Papa telah   mengkhianati kesetian dan pengabdian mama padanya. Papa? Aku rasa, mulai   saat itu aku tidak akan pernah lagi menganggapnya sebagai papaku!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Mama  masih terisak berlinangan air mata memanggil-manggil papa yang telah  pergi. Kak Livya menghampiri mama dan membantu mama kembali duduk di  kursi roda lalu memeluknya. Mereka berdua sama-sama menangis histeris.  Mereka menangisi seseorang yang telah pergi yang mungkin tak kan  kembali.  Mereka menangisi sebuah pengkhianatan seorang imam keluarga. Mereka  menangisi tabir-tabir kehidupan pahit yang sebentar lagi akan kami telan   berkali-kali tanpa air pelega dahaga. Sedangkan aku disini, di sudut  ruang hanya bisa mematung, tanpa satupun air mata yang keluar. Hatiku  pedih dan hancur menghadapi ini semua. Ini seperti mimpi buruk yang  menyamar sebagai petiryang menyambarku habis-habisan di siang bolong  habis-habisan</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Setelah  hari buru itu, aku masih shock dan tidak bicara. Bukan karena aku bisu,  tapi karena shock berat, mulutku jadi enggan bicara, bahkan aku sering  melamun dan menyendiri. Aku sendiri tak tahu apa yang aku lamunkan.  Fikiran ku seperti kosong.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kami  hidup bertiga dengan calon keluarga baru yang masih dalam kandungan  mama, yang nanti lahir tanpa ada papa dan mungkin hidup tanpa kasih  saying papa. Papa juga tak pernah menjenguk kami lagi. Saat itu kami  tak tahun apa yang harus kami lakukan. Mama yang lumpuh, kakak dan aku  yang masih kecil belum mengerti apa-apa, dan lagi perhiasan, surat  tanah,  dan beberapa barang berharga lainnya kecuali rumah telah diambil papa.  Ku tahu mama sangat kebingungan, dia tak tahu apalagi yang bisa dia  jual untuk sekedar makan kami besok.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Untunglah  pada saat itu datang tetangga yang prihatin melihat keadaan kami.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“aku  turut prihatin atas apa yang terjadi padamu, Ratih. Aku juga tak  menyangka,teganya  mas Hendri mengkhianatimu” kata tante inggrit sambil memeluk mama.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“ini,  aku ada sedikit uang. Mudah-mudahan bisa membantumu ya…” tante inggrit  memberikan sejumlah uang ketangan mama</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“  aduh mbak. Terima kasih, tapi tidak usah mbak”. Mama berusaha menolak  pemberian tante inggrit. Walaupun kami sedang membutuhkan uang itu,  tapi mama tak mau menyusahkan orang lain.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“sudahlah  Ratih… ku tahu kamu dan anak-anakmu sedang membutuhklan ini. Kebetulan  aku sedang ada rejeki, jadi kumohon terima ya…” bujuk tante inggrit</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“terima  kasih ya mbak… alhamdulillah ya Allah…” mama mengucap syukur sambil  memeluk tante Inggrit dengan penuh linangan airmata.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“aku  yakin kamu bisa tegar hadapi ini semua Ratih”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Tak  terasa selama setahun telah kami lewati tanpa sama bantuan papa. Bahkan  papa tak pernah menjenguk kami lagi. Biarlah, kami bisa bahagia walaupun   tanpa papa. Mama juga sudah melahirkan. Bayi laki-laki mungil dan sehat  itu kami beri nama Satria, agar dia bisa menjadi ksatria untuk kami.  Aku juga sudah mulai bicara. Selama setahun, berbagai pekerjaan yang  dia bisa karena masih mengandung pun masih dia kerjakan. Seperti menjadi   jasa pencuci dan setrika baju, berjualan makanan dan kue keliling,  bahkan  sampai mengorek-ngorek tong sampah juga pernah. Pokoknya selama mama  masih bisa bertahan dan kuat mama bertekad akan bekerja keras. Mama  tak mau anak-anaknya sampai berhenti sekolah. Karena baginya pendidikan  untuk anak-anaknya sangay penting. Apalagi ka Lyvya sebentar lagi akan  lulus SD dan mama ingin ka Lyvya masuk SMP favorit, karena ka Lyvya  memang seorang anak yang pintar. Dari dulu dia selalu ranking 1, kala  aku dari kelas 1 hanya dapat ranking 3,4,3 lalu 4 lagi, begitu  seterusnya.  Aku sangat kagum pada mama. Sejak kejadian buruk tahun lalu, mama tak  pernah menangis lagi. Aku tahu dia hanya berusaha tersenyum, tertawa,  dan tetao tegar dihadapan kami, padahal hatinya hancur dank u tahu  begitu  banyak beban yang dipikulnya. Dia adalah mama sekaligus papa untuk kami.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Sungguh  keajaiban Allah, sedikit demi sedikit mama mulai bisa berjalan. Berkat  kegigihan dan tekad mama mulai bisa berjalan. Makanya mama terus  menasehati  ka,I agar tidak menyerah dengan keterbatasan. Allah menciptakan  kekurangan  agar manusia bisa membuat kelebihan dari kekurangan tersebut. Allah  memberikan berbagai problema hidup agar manusia bisa menjadi insan yang  lebih kuat dan sukses lagi dalam hidupnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Pernah  waktu aku kelas 2SMP, usaha catering mama bangkrut, kita semua bingung  harus bagaimana. Apalagi ka Lyvya harus masuk ke perguruan tinggi. Kami  menyarankan mama untuk menjual tempat tinggal kami. Tapi mama menolaknya   mentah-mentah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“tidak!  Dan tidak akan pernah mama menjual rumah kita!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“  tapi, ma… beberapa perabotan sudah habis kita jual. Lyvya gak apa  kok ma tidak kuliah dulu tahun ini. Mencukupi kebutuhan kita sehari-hari   itu lebih penting ma”. Jelas ka Lyvya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“  jangan khawatir nak… kamu akan tetap masuk kuliah. Adik-adik kamu  juga akan tetap terus bersekolah, dan rumah iniakan tetap terus menjadi  tempat tinggal kita. Percayalah, nak. Asal kita yakin akan kuasa Allah,  kita pasti bisa keluar dari permasalahan ini,nak. Asal kita tak putus  berdoa dan terus berusaha, pastiada jalan”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kami  semua mengamini optimisme mama, mama saja tak menyerah, maka kami pun  juga tak menyerahm keesokan harinya, mama mendapat kabar dari tetangga  kalau di GOR Sempaja akan dilaksanakan perlombaan masak sebagai bentuk  pengembangan wisata kuliner daerah. Dimana hadiahnya adalah uang tunai  lima juta rupiah bagi juara satunya. Mama langsung bersemangat dan  segera  mendaftar sebagai calon peserta, tentu saja kami mendukungnya dengan  penuh suka cita berharap mama akan memenangkan lomba ini. Sekaligus  membuktikankepada orang-orang bahwa fitnah terhadap masakan mama yang  lezat karena memakai penyedap rasa dan bahan yang tidak halal itu tidak  benar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Hari  H akhirnya tiba, kami telah mempersiapkansesuatunya kemarin, and today  is time to show the best of our mama. And finally, mama pun akhirnya  menang walaupun Cuma juara 2. tapi dengan hadiah uang tunai  tiga  juta rupiah. Ya lumayanlah untuk modal dan biaya masuk kuliah ka Lyvya.  Kami sangat senang. Mama mencoba membuka warung makan kecil-kecilan.  Awalnya orang langganan mama masih segan kembali menyantap masakan mama.   Tapi, setelah mama menjelaskan dan menunjukkan proses cara memasaknya  akhirnya langganan mama mau juga. Dan emang rasanya tak pernah berubah,  masih sangat lezat, yak arena memang isu itu hanya fitnahan seseorang  yang tidak suka dengan kesuksesan mama. Hari ke minggu, minggu ke bulan,   bulan ke tahun, tahun ke tahun, usaha mama makin mengembang. Mama bisa  membuka cabang dan resto yang lumayan terkenal. Kami, anak-anaknyajuga  makin berkembang, belajar oenuh ketekunan, serius. Karena kami telah  banyak belajar dari pengalaman tidak enaknya bermacam-macam kepahitan  hidup sehingga kami bisa mengerti dan sangat mengharagai waktu,  kesempatan,  bahkan setiap helaan nafas yang kami hembuskan. Ka Lyvya lulus FISIPOL  S1 cumlaude dan akan melanjutkan studi S2, aku juga telah lulus SMA  dan akan masuk kuliah dengan jurusan phsykologi, satria juga akan segera   masuk ke SMP.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kini  aku bisa bernafas lega Karena kepahitan itu akhirnya membawa kami kepada   kesuksesan. Tapi aku juga ingat nasehat mama.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“nak,  didunia ini gak ada satupun  manusia yang memilih untuk hidup miskin  dan penuh kesusahan. Tapi, seharusnyakita bersyukur, nak… bukan kita  saja yang hidup miskin di dunia tapi masih banyak lagi yanbg hidupnya  lebih susah daripada kita. Seharusnya kita bangga, nak… karena Allah  sangat saying kepada kita. Makanya kita diberi banyak ujian agar kita  bisa menjadi seorang manusia yang kuat, tegar, dan sukses. Hal ini juga  akan mempertebal iman dan takwa kita kepada Allah. Jika kita senantiasa  berdoa, bersyukur dan berusaha. Dan jika nanti ketika kamu sudah sukses,   nak… kamu tidak boleh sombong dab terleba. Tapi teruslah pertahankan  sukses mu. Karena jika gak, kamu akan kembali terpuruk dan miskin”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Itu  adalah segelintir nasehat yang tidak akan pernah ku lupa. Aku sangat  mengagumi mama. Entah, apa aku bisa seperti mama yang telah menjadi  perempuanhebat, tegar, biar masalah sesusah apapun, tak pernah aku  mendengarnya  mengeluh. Itulah mama, penuh optimis. Tapi, kini aku bahagia bisa  mengukir  kebahagiaan digurat wajahnya. Senangnya melihat mama tersenyum puas  dengan apa yang telah ku raih dan bisa mengenalkan mama di hadapan  orang-orang  berintelektualitas, bahwa inilah wanita yang lebih hebat dari  intelektualitas  kita dalam menjalani mekanisme hidup  yang kejam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Ketika  kami pulang dari acara wisudaku di kampus. Kami kaget melihat laki-laki  lebih paruh baya duduk tertunduk di kursi teras rumah kami. Ketika kami  mendekat, laki-laki mendongakkan wajahnya. Astagfirullah, papa. Untuk  apa dia datang kesini. Ku lihat reaksi mama, tak mungkin mama tak  mengenalinya.  Aku ingin langsung berbicara, tapi langsung dicegat ka Lyvya. Sekagetnya   mama, mama masih bisa tenang dan menyuruhnya masuk. Ku tahu mama sangat  berusaha menahan lukanya yang terkuak kembali dengan kedatangan  laki-laki  tidak bertanggung jawab itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Mereka  berdua berbicara diruang tamu. Sedang aku, ka Lyvya, dan satria  mendengarkan  mereka diam-diam dibalik kamar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“untuk  apa kamu datang?” mama membuka pembicaraan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“aku…  aku minta maaf denganmu karena telah menelantarkan anak-anak” jawabnya  agak terbata-bata.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“sudah  ku maafkan”. Jawab mama singkat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“aku  sadar aku telah berdosa karena telah meninggalkanmu dan anak-anak. Aku  menyesal…”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“  simpan aja penyesalan mu itu, mas&#8230; karena semua sudah terlambat. Aku  dan anak-anakku baik-baik saja!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Beberapa  menit mereka terdiam. Sepertinya laki-laki itu bingung harus berkata  apa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“kau…  sejak kapan kau bisa berjalan? Bukannya kata dokter kau lumpuh untuk  selamanya?” ayah mulai mendinginkan suasana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">‘ku  rasa kau tak perlu tahu karena itu bukan urusanmu!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“ya…  maafkan aku… lalu bagaimana kabar anak-anak kita? Kabar bayi yang  diperutmu dulu?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Aku  kaget setekah mendengar pertanyyan ayah tadi, secara tiba-tiba satria  keluar dari kamar dan menghampiri mereka.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“jadi  ini nih seorang ayah yang telah menelantarkankita, ma?”. satria membuka  mulut dengan wajah yang tak ramah</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> Ayah bangkit dan berjalan kearah satria, berdiri dan hendak memeluknya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“jadi  kau anakku… aku sangat merindukanmu…”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“lepaskan  aku!aku bukan anakmu dan kamu bukan ayahku!bukannya dulu kau tidak  mengakui  ku sebagai anakmu!” bentak satiria.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“maafin  papa,nak… papa sungguh…”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“Aaaarghhh!aku   gak mau lihat kamu lagi! Kamu bukan ayahku!pergi1pergi1pergi…!!!”  satria mendorong ayah keluar dan cepat-cepat menutup pintu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">BRAAAAKKK!!!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“jangan  pernah kesini lagi!” ancam satria.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Aku  bungung. Di satu sisi aku kasian juga dengan ayah. Dibentak dan diusir  sendiri oleh anaknya. Tapi di satu sisilain, aku kagum dengan satria.  Ku rasa ayah pantas mendapatkan perlakuan itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Malamnya,saat   mama dan yang lain sibuk melayani tamu undangan syukuran wisudaku, aku  putuskan untuk menemui ayah. Masalah ini harus aku selesaikan. Aku gak  mau liat mama menangis seperti saat setelah ayah pulang tadi sore.  Setelah  itu, mama jadi murung. Aku gak mau mama seperti itu terus.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“kau  tahu dari mana nak, kalo papa tinggal disini?” ketika aku datang ayah  langsung menyambutlu dengan pertanyaan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“gak  pentinglah yah. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan ayah.”  Jelasku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“ayah?kau  sekarang memanggilku ayah?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“iya.  Ayah tidak usah protes. Semua ini kan juga karena ayah. Jangan bilang  ayah sudah lupa dengan kesalahan fatal ayah. Setelah kejadian itu, aku  merasa tidak pernah lagimempunyai papa. Disaat mama sedang membutuhkan  ayah, disaat kami membutuhkan ayah, ayah kemana? Ayah malah bersama  wanita lain! Mentang-mentang mama cacat, tidak bisa papa andalkan lagi,  terus papa dengan seenaknya ninggalin kami!’’ emosiku mulai naik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“iya  nak… papa menyesal… waktu itu papa sangat stress karena ibumu lumpuh  dan papa jatuh hati pada seorang janda yang suka menggoda papa, dan  katanya dia hamil gara-gara papa, dia minta di nikahi, dan ku tahu  mamamu  pasti tidak mau&#8230; papa nikahi dia, dan beberp bulan kemudian papa tahu  kalau dia berbohong, dia tidak hamil… tapi papa sudah terlanjur cinta  dan memaafkannya… namun dia sangat berbeda dengan mamamu.. dia sangt  materialistis.. gaji papa habis hanya untuk memenuhi keburtuhannya dan  sekarang dia meninggalkan papa demi laki laki lain… serta sejumlah  hutang yang di atasnamakan nama papa…” ayah mulai menitihkan airmatanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“papa  bingung, nk.. hutang yang banyakitu mau di bayar pakai apa?.. papa sudah   tak punya uang… “ lanjutnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“berapa  hutang papa?” tnyku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“awalnya  20 juta.. namun sudah papa bayar 12juta.. sekarang sisanya inipapa  bingung..”  ayah kembali menangis.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Mungkin  ini karma untukmu, yah.. kataku dalamhati.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“langi  akan bayar hutang ayah.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“benarkah  nak?” tnya ayah terperangah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“ttapi  ada syaratnya, langi akan bayar hutang ayah tapi ayah jnji jangan jangan   pernah ganggu kami lagi. Langi gak mau lihat mama nangis lagi.. udah   cukup dia hidup susah-susah mati-matian berjuang sendirian untuk kami”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;besok  Langi akan dtang lagi kesini., Langi akan bawa uang yang Ayah  buTuhkan.&#8221;lanjutku.<br />
&#8220;benarkah,Nak&#8221; tanya  ayah seolah tak percaya.<br />
&#8220;iya! Tapi ayah harus penuhi  persyaratan itu!&#8221; lalu aku pergi meninggalkannya.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Delapan  juta? Aku menarik nafas dalam2 dan memghembuskannya. Aku harus ikhlas  menjual motor kesayanganku. Demi mama,apapun akan ku lakukan. Nanti  kalo ada rejeki,motor kan bisa di beli lagi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Keesokanharinya,   baru saja aku berniat hendak keluar menjual motorku.<br />
T0k.. T0k, t0k..<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Liv..  Bukain pintu gih.. Kayaknya ada tamu..&#8221; seru mama pada ka Livya.<br />
&#8220;kamu mau kemana,Ngi? Rapi  banget.&#8221; tanya mama heran ketika melihatku. Hari ini hari Minggu,  semua pada kumpul kecuali Satria yg sedang ada kegiatan ekskul di  sekolah.<br />
&#8220;eee.. Mau ke rumah  teman,ma.. Ada urusan.&#8221; jawabku. Terpaksa deh aku bhong. Maaf ya,Ma..<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Tiba-tiba  ka Livya datang ke dapur dgn setengah berlari dan tergesa-gesa.<br />
&#8220;ma, di depan ada papa.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Kami  langsung ke ruang tamu. Kami kaget. Disana ada Papa yg di kawal 2 orang  polisi. Ketika melihat aku,Papa langsung berkata..<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Pelangi..  Terima kasih,Nak, karna telah mau membantu Papa, tpi setelah Papa  renungkan  persyaratanmu,papa tidak bisa,Nak.. Papa lebih baik di penjara daripada  harus memutuskan hubungn dengan kalian. Papa tidak ingin kehilangan  kalian..&#8221;papa mulai menangis.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Ratih,  maafkan aku, aku m0h0n, aku tau kau sangat terluka karnaku, aku tau  begitu besar dosaku padamu. Aku m0h0n ratih..&#8221; Papa memohon sambil  merangkul kaki mama. Aku jadi agak kasihan juga. Untung Satria tidak  ada di rumah,kalau ada,pasti dia sudah menentang Ayah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“berdirilah,   mas.. aku telah memaafkanmu..aku tidak pernah membencimu.. aku hanya  kecewa padamu.. aku juga telah lama melupakan kejadian pahit itu.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Papa  melepaskan rangkulan di kaki mama, lalu menatap mama dengan penuh harap.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“kehidupan  kami sudah bahagia, aku telah memaafkan mas dari dulu, aku juga tidak  pernah melarang anak-anak untuk berhubungan dangan mas.. itu terserah  mereka…”mama bersikap bijak . terlihat gurat kelegaan di wajahnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Setelah  itu papa di bawa kedua orang polisi itu dan aku menceritakan semuanya  pada mama.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">“mama  Cuma berharap semoga yang di alami mama tidak akan pernh terjadi pada  kalian, dan janganlah membenci papa ya, nak.. karna setip orang  berpeluang  melakukan kesalahan yang patal, justru kita harus mendukungnya jika  dia memang benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya.. jangan sampai  kalian menyesal…” itulah pesan mama pada kami.</span></p>
<p style="text-align: justify;">(<span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Irma Maryani)</span></p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkepahitan-yang-manis%2F&amp;linkname=Kepahitan%20yang%20Manis" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkepahitan-yang-manis%2F&amp;linkname=Kepahitan%20yang%20Manis" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkepahitan-yang-manis%2F&amp;linkname=Kepahitan%20yang%20Manis" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkepahitan-yang-manis%2F&amp;linkname=Kepahitan%20yang%20Manis" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkepahitan-yang-manis%2F&amp;linkname=Kepahitan%20yang%20Manis" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fkepahitan-yang-manis%2F&amp;linkname=Kepahitan%20yang%20Manis" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/kepahitan-yang-manis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunga Terakhir</title>
		<link>http://studiokata.web.id/bunga-terakhir/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/bunga-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga Terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 15 Maret 2010 “Mbak, minta tehnya dong”, rengek seorang anak kecil. Rayuan itu membuatku tersadar. Ku tolehkan sedikit kepalaku ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, dia menadahkan tangannya. Bajunya yang lusuh, celana yang tidak sepantasnya digunakan lagi, dan koran yang diapit diantara ketiaknya, tak memudarkan senyum ikhlasnya kepadaku. Sesaat, aku melirik teh yang baru saja [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Senin, 15 Maret 2010</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Mbak, minta tehnya dong”, rengek seorang anak kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Rayuan itu membuatku tersadar. Ku tolehkan sedikit kepalaku ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, dia menadahkan tangannya. Bajunya yang lusuh, celana yang tidak sepantasnya digunakan lagi, dan koran yang diapit diantara ketiaknya, tak memudarkan senyum ikhlasnya kepadaku. Sesaat, aku melirik teh yang baru saja aku beli di salah satu toko. Volume tehnya memang tidak begitu banyak akan tetapi, aku begitu sayang untuk memberikannya. Maklumlah, sangat kehausan sebab aku baru saja berkeliling untuk membeli barang kebutuhanku sebelum aku disibukkan dengan jadwal yang cukup padat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mbak, kalau <em>kon gak iso ngasih </em>teh <em>iku ndek aku, wes gak popo. Tuku koranku ae yo<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>”</em>, ujarnya lagi. Dia mencoba untuk merayuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeleng. “Maaf, tidak sedang butuh koran”, kataku lembut. Mecoba untuk tidak menyakiti perasaan adik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjalan. Mencoba menjauh dari tempat dimana adik itu berdiri dan menjual korannya. Namun sayang, dia mengikutiku. Dia menjajarkan dirinya di sampingku sambil merengek dan menarik-narik tas belanjaanku. Aku merasa risih dengan keadaan itu. Aku membentaknya dengan pelan “Dek, <em>ojo ke aku<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a>. </em>Minta ke mbak-mbak yang lain sana”, ucapku dengan nada yang seharusnya tidak dia dengar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, Mbak”, dia pergi sambil menunduk. Sepertinya, dia menahan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya. Dia menenteng korannya dan duduk di atas anak tangga sebuah tempat penyebrangan jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hati kecilku memberontak. <em>Tega banget sih kamu, kamu itu masih lebih beruntung daripada dia. Empati dong. </em>Dorongan kuat dalam dadaku ini, akhirnya membuatku memutuskan untuk mendatanginya. Aku duduk di sampingnya. Perlahan ku serahkan teh gelas yang aku bawa. Dia menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit sembab. Mungkin, tadi dia menangis. Entahlah, sebab aku tak melihat air mata di sekitar wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Suwun, nggih<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a>”</em>, ujarnya sesaat setelah menerima teh pemberianku. Dia mulai menyedot minuman itu. Kemudian, dia menoleh ke arahku sambil menunjukkan susunan giginya kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun tersenyum. “Dek, nama kamu siapa?”, kataku lembut sambil memulai pembicaraan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Danu, Mbak”, ucapnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Dia sibuk mengaduk-aduk minuman yang aku berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku Mia. Salam kenal, ya”, aku memperkenalkan diri sambil memberikan tanganku ke arahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Danu melap-lap kedua tangannya di bajunya. Kemudian, dia membalas uluran tanganku. Dia tersenyum lagi. “Makasih banyak, Mbak”, ucapnya sambil menahan senyum kecilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membalas senyumnya lagi. Dia kini beranjak dari duduknya. Aku bingung. “Lho, kamu mau kemana?”, ku tarik tangannya yang masih menempel di tanganku dan dia terduduk lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mau jualan lagi, Mbak. Nanggung”, dipamerkan koran-korannya yang masih belum terjual.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooo, yasudah. Jangan malam-malam ya pulangnya. Aku mau pulang. Angkotku sudah datang. Ini aku kasih kamu roti yang masih sisa. Tadi aku abis makan di <em>restaurant pizza<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a> </em>di dalam. Maaf, ya kalau aku kasih sisa ke kamu”, ucapku sambil menyodorkan tiga potong roti di atas selembar tisu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tersenyum lebar dan tiba-tiba meraih tanganku. Diciumnya tanganku berulang kali. “Makasih, Mbak”, ujarnya sambil berlari menjauh dari tempatku dan melambaikan tangannya. “Lain kali, kita harus ketemu lagi. Aku mau menunjukkan rasa terima kasihku padamu”, dia berjalan mundur kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah teman-temannya berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menarik dan menghembuskan napas perlahan. Sedikit lega. Setidaknya, tidak ada lagi perasaan bersalah yang besar dalam hatiku. Aku senang sekali hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em><span id="more-192"></span>Kamis, 1 April 2010. Pukul : 09.30 WIB</em></p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk merenung di salah satu gazebo kampus. Aku memperhatikan beberapa anak kecil menjajakan koran yang telah dititipkan kepada mereka. Memang, terkesan memaksa. Tapi, apa boleh buat, mereka harus melakukan itu semua. Daripada mereka harus disakiti oleh orang yang menguasai mereka, lebih baik mereka sedikit merengek pada orang-orang yang lewat di sekitarnya. Begitulah cerita yang pernah dikisahkan oleh Danu beberapa hari setelah kami bertemu. Ah, aku kangen senyum Danu. Sudah seminggu kami tidak bertemu dan hal itu telah membuatku menahan rasa kangen begitu besar padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum saat mereka bercanda. Lucu sekali. Aku teringat ketika Danu berkejar-kejaran dengan teman sebayanya saat mereka memperebutkan hasil jualan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditengah lamunanku, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Semua lamunanku hilang seketika. “Hei, kok ngelamun aja?”, tanya seseorang di belakangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan malas, aku menoleh ke arahnya. Ternyata, itu Aji. Teman satu kelasku. “Ah, kamu mengganggu saja”, jawabku sedikit ketus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, kamu marah ya? Maaf deh”, ujarnya sedikit merayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya mencibir. <em>Sedikit menyebalkan</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mia, maaf ya… aku sebenarnya tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin memberikan ini”, Aji menyerahkan sebuah proposal ke arah ku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Proposal perayaan hari pendidikan nasional”, aku membacanya perlahan. “Kok ini buat aku sih?”, tanyaku bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu aku tunjuk sebagai anggota dari seksi acara <em>event</em><a href="#_ftn5">[5]</a> ini. Aku rasa kamu mampu”, jawab Aji sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menghembuskan nafas, aku mengiyakan tawaran Aji. Aku tidak enak hati padanya. Sebab, Aji adalah salah satu sahabatku yang  setia. Kami berkenalan pada saat OSPEK mahasiswa baru. Saat itu, kami merasa sama. Ya, sama-sama dari pulau Kalimantan, namun berbeda wilayah. Aku di timur, sedangkan Aji di selatan. Walaupun berbeda, kami tetap merasa senasib sepenanggungan. ‘Stempel’ perantau telah membekas di bahu kami. Oleh karena itu, kami menjadi sangat dekat. Bahkan, ada yang mengira bahwa kami memiliki hubungan khusus. Lucu juga. Tapi, itulah kami. Tetap tidak peduli. Biarkan anjing menggonggong, kafilah berlalu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sipp, makasih yaa. Kamu baik banget”, tiba-tiba dia memelukku erat. Spontan aku mendorongnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aji. Jangan buat aku semakin marah ya”, aku sedikit ketus. Maklum, aku berusaha mati-matian agar Aji tidak terlalu dekat denganku. Aku takut jika kekasih Aji melihatnya dan salah paham dengan ini semua.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehehe”, Aji tersenyum masam. “Maaf. Aku refleks. Nanti siang ada rapat di ruang mahasiswa jam 12.00 yaa. Aku tunggu”, ujar Aji sesaat sebelum dia pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk dan sepertinya Aji tidak melihat gerakan naik turunnya wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menatap jalan kembali dan jalanan kembali kosong. Tak ada anak kecil yang meneriakkan jualannya. Mobil dan motor pun jarang melintas. Situasi ini membuatku semakin tidak betah untuk berlama-lama di tempat ini. <em>Capai pikiran dan buang-buang waktu saja</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Kamis, 1 April 2010. Pukul 12.00</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ruang mahasiswa mendadak penuh oleh sekumpulan anak yang membahas program kerja mereka. Ribut dimana-mana, bahkan ada yang membuka forum di tengah forum. Mungkin, rapat akan membosankan jika tidak ada selingan candaan. Terutama,  seksi yang sedang dijabat olehku. Kami membutuhkan banyak suara untuk memperdebatkan banyak hal, termasuk rangkaian acara yang akan berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana kalau kita membuat suatu rumah singgah yang isi di dalamnya adalah anak-anak yang putus sekolah? Contohnya, para penjual koran, penyemir sepatu, atau para pengojek payung. Mereka pasti antusias”, ujarku sedikit menggebu.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Hmmh, iso ae. Tapi, opo umak yakin lek podo antusias kyk opo sing umak omongno?</em><a href="#_ftn6">[6]</a>”, tanya Dyah dengan logat Malang-nya yang kental.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku yakin. Pasti” jawabku dengan penuh semangat. Walaupun, aku tak mengerti dengan bahasa yang dia ucapkan. Tapi, aku paham dengan apa yang dimaksud oleh Dyah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oke. Begini, kita bagi tugas. Dyah, kamu menyusun acara. Dewa, kamu bagian perizinan. Mia, kamu mengumpulkan anak-anak jalanan itu. Dan aku akan menyusun anggaran. Bagaimana? <em>Deal?</em><a href="#_ftn7">[7]</a><em>”, </em>Theo, sang koordinator menjelaskan pembagian pekerjaan secara detil.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum dan kami ber-empat meneriakkan kata <em>deal </em>kompak dan dengan volume yang besar. Semua orang diruangan itu menoleh ke arah kami. Tak lama kemudian, ketawa kami pun pecah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sabtu, 3 April 2010. Pukul 10.30 WIB</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke tempat dimana aku dan Danu sering bertemu. Kami sering melewati sepi di salah satu mall terkenal di Surabaya. Maklum, Danu sering berjualan di daerah itu dan aku mengalah untuk mendatanginya saat jam kuliahku berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Mall itu sudah di depan mataku. Padanganku mengedar ke berbagai penjuru. Dari ujung hingga ke ujung lagi, berusaha agar tidak kehilangan jejak sekecil apapun. Aku sedang mencari Danu yang tidak pernah ku jumpai lagi akhir-akhir ini karena sibuk dengan kuliahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pencarianku sia-sia. Danu tak memunculkan ujung kukunya sedikitpun. Hariku semakin kacau. Aku tidak menemukan informasi apapun tentang Danu. Kertas kecil ditanganku kosong. Tak ada tanda bahwa aku akan menemukan Danu hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berputar mengililingi mall itu sendirian. Aku lelah. Akhirnya, aku memutuskan untuk makan siang seorang diri di salah satu rumah makan <em>fast food</em><a href="#_ftn8">[8]</a>. Tak ada pilihan lain. Mall-mall di Surabaya terkenal dengan jenis tempat makan seperti itu. Aku merasakan sedikit ketenangan disana. Pemandangannya langsung menghadap ke jalanan, kursi empuk, dan pelayanannya juga memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menikmati makanan pertamaku hari ini. Nasi dan ayam goreng itu masuk ke lambungku tepat pukul 12 siang. Aku sangat menikmatinya. Sampai tiba-tiba…</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat sebuah tanda. Jejak bahwa aku akan menemukan bocah kecil yang selalu menemaniku saat aku sedang banyak pikiran. Dio, temannya sedang asik duduk di bawah pohon sambil menikmati es teh pemberian dari orang-orang yang diminta olehnya. Aku terburu-buru menghabiskan makananku. Aku berjalan cepat. Aku tak mau kehilangan sebuah informasi sedikitpun.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Sabtu, 3 April 2010. Pukul 12.30 WIB</em></p>
<p style="text-align: justify;">“DIO”, aku berteriak memanggilnya sesaat setelah keluar dari pintu mall. Dia kaget dan langsung berlari meninggalkanku begitu saja. Aku pun tidak tinggal diam. Ku kejar dia dengan sisa nafasku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dio, berhenti dong. Aku tidak akan memarahimu. Aku hanya ingin bertanya tentang Danu. Dimana dia?” teriakku sambil berlari mengejar Dio. Aku tidak peduli jika ada orang yang melihat adegan ini. Sumpah, aku tidak boleh menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dio berhenti dan menyerah. Dia duduk di salah satu pot besar yang tidak ada tumbuhannya sama sekali. Dia menaruh korannya di samping pot besar tersebut. Dio menyeka keringat yang bercucuran di kepala dengan kaos yang sedang dipakainya dan aku mengatur nafasku sebelum berbicara banyak dengannya. Mengorek informasi tentang Danu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hebat juga ya, Mbak. Bisa mengejarku”, ujarnya sambil terus menyeka keringatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hahaha. Salah jika kamu ingin melawanku. Kamu bisa kalah. Hahahaha”, ujarku sedikit sombong dengan nafas yang masih tidak teratur.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mbak, Danu sakit”, ucap Dio sambil menerawang. Dia langsung berbicara tanpa aku tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sakit apa?”, tanyaku heran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Asma. Sudah tiga hari ini dia tidak berjualan. Sepertinya sudah akut. Sebelum dia bertemu dengan mbak malam itu, dia sudah sering bolak-balik rumah sakit untuk berobat. Tapi, bukan Danu namanya kalau menyerah. Dia tetap berjualan bahkan semakin rajin. Katanya sih untuk mengganti semua uang <em>eyang kakung<a href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a> </em>yang sudah dipakai untuk berobat”, Dio menjelaskan pertanyaanku sambil menunduk.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Lha, mbok e nang ndi?</em><a href="#_ftn10">[10]</a>”, tanyaku penuh perasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Mboh. Mbok e gak ono nang omah</em><a href="#_ftn11">[11]</a>. Gak pernah pulang”, jawabnya dengan jujur.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooo. Kamu tahu rumahnya dimana?”, aku harus menanyakannya agar aku bisa menemui Danu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak ada satu orang pun yang tahu, Mbak. Ada sih, tapi dia merahasiakannya dari kami. Malu katanya”, jawabnya singkat. “Oh iya, Mbak”, dia mengeluarkan secarik kertas dan satu tangkai bunga yang sudah kering. “Titipan dari Danu sebelum dia tidak pernah datang lagi. Sudah lama aku ingin memberikannya padamu, tapi mbak tidak pernah datang.”, ujarnya sambil menyerahkan barang itu padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya, terima kasih”, aku menerima pemberian Danu yang dititipkan pada Dio dengan sedikit perasaan bersalah. Aku teringat ketika kami (aku dan Danu) berjanji untuk memelihara bunga di salah satu tanah kosong di taman belakang mall. Salah satu hasilnya adalah satu tangkai bunga mawar dengan batang yang mungil. Aku jarang merawatnya, mungkin Danu yang sering menyiramnya, memberikan pupuk yang telah diolah sendiri di rumahnya, menjaga agar tidak dijamah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah ya, Mbak. Aku mau berjualan koran dulu”, ujar Dio sambil mengambil koran yang ada di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tunggu”, cegahku. “Begini…”, aku menceritakan semua maksudku dari A sampai Z tentang acara rumah singgahku pada Dio agar dia menyampaikan semua pada teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sabtu, 17 April 2010</em>. <em>Di salah satu acara rumah singgahku.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini sudah ke-empat kalinya Danu tidak datang ke acaraku. Aku sedikit kecewa, namun untung saja ada Dio dan teman-temannya yang selalu menghiburku. Tak hanya itu, rasa kangenku terobati ketika Dio memberikan bunga-bunga titipan dari Danu. Katanya, Danu sedikit baikan dan dia sekarang sedang sibuk mengurus taman bunga di halaman kecil rumahnya. Aku sedikit lega.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak sedang sibuk belajar dengan guru mereka masing-masing. Guru itu adalah teman-teman satu kampusku. Kami mengajar semaksimal mungkin dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang kami miliki. Keterbatasan biaya untuk menyewa guru dari luar juga menjadi salah satu faktor penunjangnya. Tapi, kami memang ingin terlibat langsung di dalamnya. Turun langsung untuk mencerdaskan anak bangsa, tidak ada salahnya kan?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Minggu, 2 Mei 2010</em></p>
<p style="text-align: justify;">Danu tidak pernah datang ke rumah singggahku. Padahal, aku ingin memamerkan bunga-bunga hasil tanamanku di kos-kosan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mendatangi Danu ke rumahnya. Aku sudah mendapatkan alamatnya secara detil, walaupun harus dengan sedikit paksaan dan rengekan yang aku lakukan pada seorang bocah usia delapan tahun yang mengetahui dimana rumah Danu berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkahku terhenti di depan sebuah gubuk kecil dan sebuah bendera kuning berkibar. <em>Bendera kuning? Apakah ada yang meninggal? Mungkin, kakeknya Danu</em>, pikirku. Aku beranikan diri untuk memasuki gubuk yang telah penuh oleh para tetangga yang sedang melakukan <em>tahlil</em><a href="#_ftn12">[12]</a>an untuk memastikan siapa orang yang meninggal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terduduk ketika salah satu orang yang aku tanyai menjawab pertanyaanku. Itu Danu. Danu telah tiada. Jatuh sudah semua bunga yang aku bawa. Bunga yang sudah aku susun dengan cantik dan menarik. Aku coba menerima kenyataan ini meskipun sungguh pahit rasanya. Asma dan demam tinggi telah merenggut nyawa Danu. Sedih rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ku coba untuk tegar di dekat makam Danu. Aku seorang diri disana. Para pelayat sudah beranjak pulang, meninggalkan taburan bunga dan doa untuk Danu. Aku tahu setiap ada pertemuan juga ada perpisahan. Tapi, tidak begini caranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menaburkan bunga yang aku bawa di atas gundukan tanah dimana Danu diistirahatkan. Mungkin, Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ku terima semua kenyataan ini bahwa Danu telah tiada. Namun, bagiku Danu tetap hidup dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bunga ini adalah bunga yang pertama dan terakhir untuk Danu yang pernah aku tunjukkan padanya. Bunga hasil kerja kerasku belakangan ini. Ku persembahkan bunga ini padamu. Doakan agar aku dan Indonesia tetap baik-baik saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat jalan, Danu. Senyummu tak akan pernah lekang oleh waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih, Danu. Aura semangatmu akan terus mewarnai hari-hariku.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Miranti Rasyid)</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<hr style="text-align: justify;" size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> “Mbak, kalau kamu tidak memberikan teh mu kepadaku, ya sudah, tidak apa-apa. Beli koranku saja ya”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> “Dek, jangan ke aku”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> “Terima kasih, ya”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Rumah Makan yang menyediakan berbagai macam jenis Pizza</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Perayaan</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> “Hmmh, bisa saja. Tapi, apa kamu yakin kalau nanti mereka akan sama antusiasnya kayak apa yang kamu omongkan?”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Setuju?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Cepat Saji</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> Kakek</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> “Terus, ibunya dimana?”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> “Tidak tahu. Ibunya tidak ada di rumah”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> Berdoa untuk orang yang meninggal.</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/bunga-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta untukmu Sobat</title>
		<link>http://studiokata.web.id/cinta-untukmu-sobat/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/cinta-untukmu-sobat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Cinta untukmu Sobat Oleh: Elvira Dirgayanti Angin berhembus perlahan dan lembut seolah-olah ingin meninabobokan diriku. Pisang goreng dan teh hangat buatan bidadariku menambah nikmatnya suasana sore ini. Tertawa riang bidadari dan pangeran kecilku menambah rasa bangga dan kebahagiaan. Rasanya aku tak ingin liburan ini berakhir. Berat rasa hati meninggalkan mereka walau sedetik, rasa tak ingin [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Cinta untukmu Sobat</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Elvira Dirgayanti</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Angin berhembus perlahan dan lembut seolah-olah ingin meninabobokan diriku. Pisang goreng dan teh hangat buatan bidadariku menambah nikmatnya suasana sore ini. Tertawa riang bidadari dan pangeran kecilku menambah rasa bangga dan kebahagiaan. Rasanya aku tak ingin liburan ini berakhir. Berat rasa hati meninggalkan mereka walau sedetik, rasa tak ingin kehilangan moment penting apapun tentang mereka. Beruntung aku memiliki bidadari seperti dirinya, wanita yang kuat dan sabar, yang membuatku tenang dalam menjalani kehidupan, mengerti dan memahami kesibukanku serta pekerjaanku. Tangan kananku untuk menjaga dan mendidik bidadari-bidadari kecilku serta pangeranku. Semoga Alloh memberikan kekuatan itu untukmu selalu duhai bidadariku. Doaku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-190"></span>Daun kering jatuh menyentuh dahiku kemudian terjatuh lagi melewati kacamataku, membuat aku tersadar dari pikiranku. Membuat aku sadar akan realita bahwa waktu liburku bersama keluarga kecilku tinggal sehari lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“yuk kita mandi, nanti keburu malam, bisa bisa kakak dan adik kedinginan lho kalau mandinya terlalu sore” ajak istriku, “setelah ini kita beres-beres ya, besok kan kita harus pulang ke kota”.</p>
<p style="text-align: justify;">“yach… kok waktu liburnya cepat sekali bunda? Kakak kan masih ingin di sini!” pinta bidadari kecilku.</p>
<p style="text-align: justify;">“lain waktu, kalau kakak dan adik-adik libur lagi, insyaalloh kita ke sini lagi” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">“iiiihhhh…. Ayah, kan kakak bicara ma bunda, kok yang jawab ayah??? Eh, ga pa pa dech yang jawab ayah, tapi benar ya ayah, kalau liburan lagi, kita ke sini lagi ya ayah…”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan istriku saling menatap dan tersenyum, merasa lucu dengan komentarnya. Setelah aku mengiyakan permintaannya, dia pun merasa senang, kemudian ia mulai mengemasi sebagian barangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiada henti rasa syukurku atas karunia ini. Keluarga kecilku yang melengkapi hidupku. Anugerah ilahi yang mengiringi langkah-langkah dalam menggapai ridhoNya. Bersyukur mempunyai anak-anak yang ceria, riang dan cerdas. Bersyukur dianugerahi seorang istri bak bidadari syurga, lembut, penuh kasih sayang dan sabar dalam menghadapiku maupun anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenang pertemuan pertama dengan dia, bidadariku, istriku, Nindia Anindita. Bagaimana ketika benih cinta itu tumbuh pada pandangan pertama. Melihat senyum manis dan wajah kalem yang tertunduk malu begitu membuat desiran lembut dalam hatiku. Sangat indah dan tak terlupakan. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dari masa laluku. Pertengkaran dengan salah satu sahabatku. Sebelum aku menemukan bidadariku.</p>
<p style="text-align: justify;">“sebaiknya kamu tidak usah lagi mencarikan perempuan untuk kau jodohkan denganku!” pintaku yang sudah putus asa karena proses perkenalan dan perjodohanku dengan beberapa orang selalu gagal. Apalagi kebanyakan dari yang ditawarkan selalu kurang masuk dengan criteria yang kuharapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“apa? Enak saja kau putuskan itu sendiri. Siapa yang sudah memulai untuk memintaku yang mencarikanmu calon pendamping hidupmu? Tidak! Aku tidak akan berhenti! Aku sudah memulainya, jadi, aku pun akan menyelesaikan tugas ini sampai selesai! Sampai engkau benar-benar menemukan pendamping yang benar-benar sesuai dengn apa yang kau inginkan!” tekad Nayla, sahabatku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aku malu Nay! Aku malu!” keluhku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Malu sama siapa???” Tanya Nayla geregetan.</p>
<p style="text-align: justify;">“ya malu sama kamu Nay…, emang aku tuch siapa sich, kok minta dicarikan yang paling bagus… padahal aku juga tidak begitu bagus… aku sudah banyak merepotkanmu Nay… sudahlah tidak usah lagi kau carikan… hentikan saja pencarianmu… biar aku mencari sendiri” jelasku.</p>
<p style="text-align: justify;">“ya kan memang sudah begitu perjanjian kita, kita sama-sama mencari sampai kau dapatkan yang benar-benar pas untuk kau jadikan istri… kalau pun nanti kau lebih dulu menemukannya ya nggak pa pa, tapi kau harus segera menghubungiku jika kau sudah menemukannya”. Nayla mencoba mengingatkan perjanjian kami dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nayla, sahabat yang paling keras kepala diantara sahabatku yang lain. Meskipun begitu, dia yang tetap paling mengerti dan mau memahami aku. Dia sudah seperti kakak untukku. Tempat curhat yang selalu ada untukku. Pendengar setia akan keluh kesahku. Dia selalu siap mendengar ceritaku. Tetapi, dia juga orang yang selalu siap menggertakku kapan saja ketika aku dianggapnya salah langkah. Itulah Nayla.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubungan kami berjalan seperti biasa saja sejak pertengkaran kecil itu. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing sambil mencari calon pendamping hidupku. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan dia sibuk dengan rutinitasnya dengan keluarga kecilnya. Sampai pada suatu hari aku membuatnya kecewa dan marah besar. Dia tidak pernah mau memaafkan aku, tidak mau menerima telepon dariku, bahkan sms tidak pernah juga dibalasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“gimana sich?! Kok baru kasih tau sekarang? Kalau gitu, jangan kau buka dulu email yang kukirimkan kemarin! Kalau bisa langsung kau hapus saja! Aku tidak mengijinkanmu membukanya! Aku benar-benar kecewa denganmu! Kenapa kau tidak menepati janji?! Kan aku sudah bilang, kalau kau sudah menemukan calon pendamping, segeralah kabari aku. So, aku pending langkahku untuk mencarikan calon untukmu!” protesnya ketika ia kuberi tahu bahwa aku baru kenal dengan sesseorang dan aku merasa menyukainya.</p>
<p style="text-align: justify;">“aku baru kenal Nay… dan baru merasa suka… apa itu sudah dianggap aku sudah dapat calon pendampingku???” sanggahku saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“pokoknya hapus! Jangan kau baca! Selesaikan dulu urusanmu dengan perempuan itu. Kalau memang benar-benar jadi, ya selamat… kalau hasilnya “tidak”, ya… silahkan cari lagi… oke???” jawabnya sekenanya, langsung menutup teleponnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak berani menelponnya meskipun saat itu aku sangat ingin menelepon untuk menjelaskan semuanya. Tapi, kuurungkan niatku, karena aku tahu, Nayla tidak akan pernah akan menerima telepon atau membalas sms-ku. Kalau Nayla marah, dia tidak akan pernah bisa diajak bicara. Dia akan menghindar, sampai dia tenang. Maka, aku menunggu beberapa waktu lamanya untuk bisa menghubunginya lagi. Namun, sampai sekarang aku belum berhasil menghubunginya. Aku pun sudah tidak pernah mengetahui dimana keberadaan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nay… dimana kamu sekarang Nay… andai kamu mengenal bidadariku ini…” batinku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Email-ku yang terakhir pun tidak dibalasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Nay… plisss hentikan marahmu. Kamu satu-satunya sahabatku yang bisa ngerti aku. Kamu satu-satunya sahabatku yang bisa kuajak bicara dan sangat aku percaya. Plisss… diammu membuat aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku…</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nay…prosesku untuk mengenal gadis itu lebih jauh dan untuk menjadikan dia calon pedampingku sudah aku batalkan. Terakhir aku bertenmu dengannya, ternyata dia sudah menerima pinangan orang lain. dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nay…sampai kapan kamu akan menghindari aku??? Nay…plisss, balas emailku…</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Aku menunggu dan menunggu balasan emailnya. Tiap telepon berdering, aku berharap itu dari Nayla. Tiap ada sms masuk, kuharap ada nama Nayla yang muncul dilayar hp-ku. Tapi, harapan itu Cuma harapan kosong. Sampai saat ini, 10 tahun, dan aku sudah memiliki keluarga kecil yang menemani serta mewarnai kehidupanku.</p>
<p style="text-align: justify;">“mas…” sapa lembut bidadariku membuyarkan ingatanku akan masa lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya menoleh kearahnya sambil mengernyitkan dahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“mas, ada sesuatu yang ingin kusampaikan…” sambungnya, pelan dan sangat hati-hati sekali nada bicaranya. Ia mengajakku duduk di ruang tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">“mas, ada surat yang harus mas baca”. Ia memberikan sepucuk surat dengan amplop berwarna biru muda, meletakkan perlahan-lahan digenggaman tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">“dari siapa Dik? Kok warnanya biru muda? Dari adik sendiri ya? Wah, lagi romantis nich….” Goda-ku. Namun, ia hanya tersenyum tidak memberikan jawaban apapun membuat aku penasaran dengan isi suratnya. Ia memberikan isyarat untuk segera membacanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“oke… oke… eh, tapi, lebih enak bicara langsung deh kayaknya… ada apa sih Dik? Udah, tidak usah malu, bicara saja” aku mencoba memancingnya, tetapi ia tetap datar, wajahnya tidak mengekspresikan apa-apa, seperti ada sesuatu yang masih dia pikirkan. Mungkin merancang kata-kata untuk menjelaskan maksudnya nanti. Pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-perlahan aku membuka amplop dan kuambil lipatan kertas yang ada di dalamnya. Kubuka lipatan kertas itu. Sedikit terperanjat melihat tulisan tangan dalam surat itu. Tulisannya seperti tulisan tangan bidadariku, tapi ada yang berbeda. Yang ini guratan-guratannya lebih jelas dan tegas. Seperti tulisan tangan Nay…. Ah… rasanya tidak percaya dengan apa yang kupikirkan, tapi aku coba untuk membacanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Teruntuk sahabatku, dr. Firman Ali Bintoro</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dimanapun kau berada………</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Apa kabar sahabatku? Maaf, aku tidak bisa membalas email terakhir yang kau kirim, aku masih sibuk, banyak hal yang harus aku selesaikan. Aku tidak marah padamu. Kemarahanku sudah reda setelah seminggu pertengkaran kita. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Maafkan aku, aku terlalu egois terhadap dirimu. Mungkin karena aku terlalu sayang kepadamu. Aku hanya tidak ingin kau mendapat istri yang tidak bisa menerima keluargamu. Aku hanya ingin kau hidup bahagia dengan istri yang bisa kau andalkan dalam menjaga anak-anakmu, menjaga kehormatanmu dan menjaga nama baik keluargamu. Aku hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik diantara wanita-wanita baik. Tapi aku lupa, bahwa terbaik menurutku tentu tidak akan sama terbaik menurutmu.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> Apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Tuhan. Bisa jadi apa yang terbaik menurut kita Tuhan tidak suka dan apa yang kita benci bisa jadi Tuhan justru menyukainya dan meridhoi. Keegoisanku lah yang telah menutupinya sehingga aku lupa bahwa ada Tuhan yang menentukan apa-apa yang menjadi milik kita.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sahabatku, maaf aku tidak punya waktu lagi untuk mengurusi dirimu lagi. Sekarang, waktuku untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga tercintaku. Di sisa waktuku.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk mengurusi urusanmu. Untuk itu, aku mengirimkan seorang sahabat untukmu. Dia adalah seorang adik dan sahabat terbaikku. Dia sudah banyak tahu tentang dirimu. Dia sudah mengenalmu seperti aku mengenalmu. Aku berharap dia sesuai dengan kriteria dan impianmu. Dan apabila ia tidak sesuai dengan kriteriamu, aku minta tolong untuk kau carikan dia pendamping yang sesuai untuknya. Dan jika dia sesuai dengan kriteriamu, jagalah dia dan cintailan dia sepenuh hatimu.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Nindia Anindita</em></strong><em>, dialah cinta yang kukirimkan untukmu. Semoga dia bisa mewakili cinta untukmu sahabatku………</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Diujung lembah hijau Kampung Kita, juli 2006</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salam terhangat untukmu,</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nayla Nurina</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Aku masih terdiam, terpaku, bingung, antara percaya atau tidak percaya. Aku baca ulang surat itu untuk kedua kalinya. Aku menatap sosok dihadapanku yang tertunduk, menunggu pertanyaanku. Ia hanya diam melihat aku beranjak sambil mondar-mandir di ruang tengah memegang kertas itu. Aku sendiri masih sibuk dengan pikiranku. Dan dia masih menunggu reaksiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini surat dari Nayla. Sebulan setelah kukirim e-mail terakhirku. Nindia Anindita adalah wanita pilihannya? Jadi, selama ini…. Oh… Nay… kenapa kau tidak langsung memberitahuku? Kenapa setelah 10 tahun lamanya…. Kenapa? Bicaraku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">“apa maksud surat ini Dik?” akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku, bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">“itu surat dari Kak Nayla mas, dia memintaku untuk tidak memberikan langsung kepadamu. Dia memintaku untuk memberikan surat ini setelah usia pernikahan kita lima tahun. Alasannya agar cinta yang tumbuh diantara kita benar-benar karena kecintaan kita sendiri, bukan karena keterpaksaan untuk menuruti keinginannya sebagai sahabat kita.” Jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kak Nay adalah kakak kelasku sewaktu masa kuliah dulu. Dia sahabat sekaligus kakak untukku. Aku banyak mendengar tentang dirimu darinya, dia banyak bercerita tentangmu sebelum dia memintaku untuk menemuimu. Awalnya, aku ragu untuk melakukan permintaannya untuk menemuimu atau sekedar menampakkan wajahku ditempat kerjamu. Aku hanya mengiyakan tapi tidak kulakukan permintaannya, aku tidak berani. Sampai akhirnya, ketika ibu sakit keras dan aku mengantarnya ke rumah sakit dimana mas bekerja. Saat itu aku hanya sempat melihatmu sekilas dari kejauhan, ingin segera kuberikan surat Kak Nay, tapi kuurungkan niatku, karena aku ingat bahwa Kak Nay memintaku untuk memberikan surat ini jika benar-benar kau menjadikan aku istrimu.” Jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“dan… pertemuan kita adalah ketika jadwalku untuk visite ke kamar ibu…” aku mengangguk-angguk. “lalu, kenapa Nay tidak hadir pada acara pernikahan kita?” tanyaku mencoba setenang mungkin dalam mengutarakannya. Tetapi hening. Untuk beberapa waktu, Nindia hanya terdiam. Seperti sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">“karena… pada saat itu dia di rumah sakit… Kak Nay sakit keras… kankernya sudah menyebar sampai ke paru-parunya… dia menyaksikan akad pernikahan kita via video call. Kak Nay… pergi meninggalkan kita beberapa saat setelah ijab qobul kita dinyatakan syah oleh penghulu dan saksi.” Ceritanya pelan dan perlahan. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya terdiam. Aku tidak bisa berkata-kata. Terduduk lemas memeluk surat terakhir Nayla.</p>
<p style="text-align: justify;">Terimakasih Nay… kau kirim bidadari untukku… yang mencintaiku sepenuh hati… bahkan dia melebihi kriteria yang kuharapkan. Tiada henti syukurku kepadaNya yang telah menganugerahkan sahabat yang penuh cinta sepertimu dan dia, Nindia Anindita, istriku, bidadariku. Selamat jalan Nay… semoga Tuhan melapangkan jalan Syurga untukmu. Doaku dalam hati.</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcinta-untukmu-sobat%2F&amp;linkname=Cinta%20untukmu%20Sobat" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcinta-untukmu-sobat%2F&amp;linkname=Cinta%20untukmu%20Sobat" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcinta-untukmu-sobat%2F&amp;linkname=Cinta%20untukmu%20Sobat" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcinta-untukmu-sobat%2F&amp;linkname=Cinta%20untukmu%20Sobat" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcinta-untukmu-sobat%2F&amp;linkname=Cinta%20untukmu%20Sobat" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fcinta-untukmu-sobat%2F&amp;linkname=Cinta%20untukmu%20Sobat" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/cinta-untukmu-sobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hatin, Perempuan yang Sendiri Bersama Doanya</title>
		<link>http://studiokata.web.id/hatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/hatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Hatin, Perempuan yang Sendiri Bersama Doanya Oleh : Rien Hanafiah Sudah sebulan, Peri, adiknya Hatin, mengeluhkan beberapa orang temannya yang mulai mengolok-olok, karena uang buku, juga sekolah, tidak dibayar. “Mereka bilang bahwa bapak nggak punya orang untuk dibunuh dan dikubur lagi.” Peri berurai mata siang itu di atas dipan kayu. “Heh! Kok temanmu ngomong gitu?!” [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hatin, Perempuan yang Sendiri Bersama Doanya</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Rien Hanafiah</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sudah sebulan, Peri, adiknya Hatin, mengeluhkan beberapa orang temannya yang mulai mengolok-olok, karena uang buku, juga sekolah, tidak dibayar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mereka bilang bahwa bapak nggak punya orang untuk dibunuh dan dikubur lagi.” Peri berurai mata siang itu di atas dipan kayu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heh! Kok temanmu ngomong gitu?!” Hatin membelalak kaget. Peri tambah beringsut mengelap matanya yang kian basah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Habis bapak kan memang gemar mengubur orang? Setelah selesai, bapak pulang dengan wajah segar, dapat uang, dan bisa membayar uang sekolahku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin tergugu. Bapak memang seperti itu. Tapi Bapak bukan pembunuh. Setiap ada yang meninggal, Bapaklah yang akan dipanggil untuk menggali kubur. Dengan demikian imbalannya adalah uang dan sedikit makanan dari keluarga yang ditinggalkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-187"></span>Sebulan ini, tampaknya tidak banyak yang memanggil Bapak. Padahal sebelumnya, ada saja yang meminta jasa Bapak sebagai penggali kubur. Penghasilannya memang tidak seberapa, makanya Hatin rela menghabiskan harinya sebagai tukang cuci pada tetangga mereka, yang berumah mewah di komplek seberang. Tangannya sudah tak berbentuk, kasar semua akibat deterjen yang harus ia raup setiap harinya berbarengan dengan rupiah. Lumayan, cukup untuk makan selama bapak tidak menerima panggilan. Apalagi ibu sekarang entah dimana keberadaannya. Pergi begitu saja setelah melahirkan Peri. Malu katanya, punya suami yang kerjaannya dari dulu hanya sebagai penggali kubur, berumah kumuh dan reot hampir doyong.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa to, Pak, nggak cari ganti ibu? Kalau aku dan Peri nanti sudah tidak ada, bapak nggak akan kesepian. Masih ada yang bisa menemani bapak,” ucap Hatin pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bapak melengos. “Untuk apa? Memangnya kalian mau kemana?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lho Pak! Siapa tahu ada jodoh, lelaki yang meminang kami pasti akan memboyong kami. Bisa-bisa jauh dari bapak.” Hatin dan bapak terkekeh. <em>Mimpi!</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kasihan bapak. Terkadang terawangan matanya tidak dapat Hatin ungkap. Hanya bapak yang tahu apa yang sedang berkecamuk di tubuh lelahnya. Mungkin ingat ibu?</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap malam, gemericik air selalu terdengar, dibelakang dekat dapur sempit yang ukurannya hanya muat tatakan untuk masak beserta kayu arang, dengan lantai yang dibuat dari papan yang agak renggang, agar air cucian bisa jatuh ke bawah rumah. Disitu juga biasanya asal gemericik air itu datang. Di malam buta, bapak melakukan dengan simbahan air mata. Sujudnya panjang, sepanjang malam yang ingin bapak tuntaskan. Setelah itu biasanya lelaki tua itu duduk dengan beberapa ayat ia lantunkan. Kemudian tubuhnya merapat bersandar di dinding menatap lampu templok. Jika tidak begitu, bapak akan menjelang subuh dengan menyiapkan peralatan cangkulnya. Bunyi berisik itu seperti irama bahagia bagi Hatin, karena jelas itu irama uang, dan Peri tak perlu malu karena tidak bisa bayar uang sekolah. Namun akhir-akhir ini, bapak lebih banyak diam memandang lampu templok.</p>
<p style="text-align: justify;">Nekat Hatin kerap berdoa, semoga ada orang yang mati, jadi bapak bisa dapat uang, dan bapak melotot ketika tahu ia punya panjatan doa seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngawur kamu, Nduk! Orang kok didoakan mati?” kata bapak gusar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Banyak orang mati, bukannya akan banyak lubang yang bapak gali? Itu berarti semakin banyak uang yang kita terima.“ Hatin tanpa dosa nyerocos.</p>
<p style="text-align: justify;">“Istighfar, Nduk! Doamu itu nggak bener!” bapak melotot.</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin ciut. Tapi doa itu tetap ia panjatkan. Dia tidak ingin Peri menangis disela kantuk karena tak berani menghadapi pagi hari disekolahnya. Sedang Hatin, jadi lebih sering pinjam uang sama bu Derma, majikan yang berperawakan tinggi, putih, dan selalu berpakaian besar. Majikan yang perhatian padanya, ketimbang majikannya yang lain, walaupun Hatin hanya tukang cuci dirumah besarnya. Bu Derma selalu menanyakan kabar bapak dan Peri. Bu Derma yang kerap berseloroh, kalau nanti ia mati, inginnya, bapak saja yang menggali kuburan untuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah, Bu! Jangan berpikir yang nggak-nggak!” Hatin ngilu mendegar keinginan Bu Derma</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin, semua manusia kan pasti mati. Coba siapa yang bisa menolaknya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin tersenyum. <em>Benar juga!</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu ingat nggak, waktu tsunami di Aceh? Wah, nggak kebayang berapa mayat yang bergelimpangan. Mereka malah nggak sadar akan ada kejadian seperti itu kan? Masih pagi, pas semua asik leha-leha. Siapa yang bisa mengelak, coba?”</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin ingat. Waktu itu ia melihat kabar peristiwa itu dari televisi di rumah majikannya itu. Semua hancur, bahkan air laut itu hanya menyisakan mesjid-mesjid saja. Semua dilibas tanpa ampun. Malahan Hatin sempat berpikir, alangkah banyak uang bapak, jika banyak mayat seperti itu yang harus dikubur. Alangkah senangnya jika bapak bisa diminta oleh para keluarga korban itu untuk menyediakan lubang untuk makam kerabatnya. Kalau begitu, apa perlu tsunami lagi? Hatinya geli. Tidak mungkin orang-orang yang mengalami tsunami itu memikirkan liang yang hanya  seukuran satu kali dua meter sebagai tempat terakhir. Tampaknya memang tak perlu. Dengan jelas ia lihat di televisi, lubang besar dibuat oleh mobil besar pengeruk tanah, untuk menimbun ratusan mayat itu. Jangan-jangan, penggali kubur seperti bapaknya hanya dicibirin, mengharap sesuatu yang aneh.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir Hatin tertarik mengerucut.</p>
<p style="text-align: justify;">@@@</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak, belum tidur? Sudah malam, sudah jam sepuluh,” Hatin menyibak kain lusuh, pembatas antara biliknya dan tempat bapak duduk sekarang. Bapak hanya diam, matanya menerawang sayu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalian berdua nggak akan ninggalin bapak kan, Nduk?” Bapak beralih memandang Hatin. Matanya berawan. Hatin cemas, tidak seperti biasanya sikap bapak seperti itu. Mata itu memang berawan sejak ibu pergi. Tapi gelapnya tak seperti malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa? Bapak kalut?” Hatin beringsut mendekati. Diletakkannya kedua telapak tangannya di atas tulang kering kaki yang berselonjor, milik lelaki tua itu. Ditekannya pelan. Bapak tampak lelah sekali. Seharian Hatin tak melihat lelaki tua itu, hingga senja merambat baru terlihat pulang. Kopi yang ia seduh tadi pagi pun, sama sekali tak disentuh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bapak keliling mencari kerja sampingan. Semua menolak.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin memandang wajah bapak. Wajah itu tua dan lelah. Hatin jadi ingin menangis. Tapi ia tak ingin dilihat bapak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak, aku masih ada uang walau sedikit. Bapak nggak usah ngoyo, cari kerja sana sini. Kalau memang sepi panggilan untuk menggali, kita berdoa saja, agar besok ada panggilan untuk itu.” Hatin mencoba menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin! Ngomongmu itu dimurkai Gusti Alloh, Nduk!” bapak melotot</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin terkesiap. Tak biasanya bapak seperti ini. bapak biasanya tahu kalau Hatin sedang bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, Pak! Nggak ada maksud meminta hal jelek.” Air matanya mengalir. Pedih. Ia merasa ucapannya memang keterlaluan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nduk, masalah mati itu rahasia. Untuk apa kamu malah mendoakan orang lain untuk segera mati? Dosa, Nduk!”</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin terisak. Tangannya beralih memijit cuping hidungnya yang basah. Bapak tetap memandang lampu templok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapapun pasti sedih ketika ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai. Jangankan ditinggal mati, diam-diam pergi tanpa kabar berita pun, bapak masih belum bisa menerimanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin teriris. Bapak pasti ingat ibu. Delapan tahun ibu meninggalkan kami. Selama itu pula bapak mengingat kesalahan-kesalahannya sebagai seorang lelaki yang tak pandai memelihara hati wanita. Hati milik ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, bapak tahu, Tin. Rejeki itu ada ketika ada yang mati. Uang itu akan mengalir ketika seseorang menjemput bapak untuk menggali kuburan. Kalian bisa makan dari harapan-harapan seperti itu, kan? Bapakmu ini tak tahu diri!” Bapak mengepal tangannya. Kilatan dimatanya pun berkelebat. Bapak kembali gusar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak, bukan salah bapak. Ini semua hanya…”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin, bapak macam apa kalau bisa memberi anaknya makan dengan mengharap kematian orang lain? Bapak tak ubahnya seperti pembunuh!”</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin memeluk tungkai tua milik bapak. Ia merasa bersalah sekarang. Beberapa hari ini, omongannya ternyata telah mempengaruhi bapak. Lelaki tua itu pastinya merasa tak berhasil mendidik dan membuat omongan anaknya ini menjadi baik. Buktinya, pengharapan Hatin akan banyak kematian sebagai penyambung kehidupan mereka sangat ironis.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maafin aku, Pak!” Hatin terisak, walau tetap terkalahkan oleh suara hujan yang mulai deras malam itu. Beberapa bunyi aneh pun terdengar di atas atap seng kumuh milik mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kletek&#8230; Kletek&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Suara itu semakin kencang. Hatin jadi kelu. Bulu kuduknya merinding. Suara itu seperti memberikan tanda lain baginya. Hatinya kalut. Baru kali ini ia merasa ketakutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Peri yang sedari tadi tidur di sekat sebelah, keluar, memburu ke arahnya. Pasti ia pun ketakutan akan suara keras di atas rumah mereka. Mereka berdua berdekapan, sementara bapak memilih berdiri dan menuju pintu. Lelaki tua itu membuka pintu dan keluar. Bapak pasti penasaran akan suara keras itu. Tak lama bapak masuk tersengal-sengal.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hujan dan anginnya gede, Tin! Kamu dan Peri tetap disini. Jangan kemana-mana, sampai bapak kembali!” Bapak bergegas keluar lagi tanpa melihat anggukan Hatin. Peri menarik kain lusuh, menutupi tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, suara keras di atas rumah, berganti suara. <em>Krak&#8230; Krak&#8230;</em> Sepertinya pohon asam dibelakang rumahnya mau tumbang. Hatin bergegas ke pintu belakang yang terbuka. Ia ternganga karena air telah menggenangi dapur, hingga panci-panci rombengnya mengapung begitu saja. Ia tak sadar, ketika menjauhi Peri, kakinya memang telah basah. Ia langsung berbalik kembali ke tempat Peri meringkuk. Cepat ditariknya tangan Peri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bapak mana, Mbak?” teriak Peri, sementara air semakin menggenang, mencapai pinggang Hatin. Semakin naik, dan Peri tetap mencengkeram tangan Hatin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dek, berenang ya!” Hatin mengalungkan tangannya ke tubuh Peri. Di dekapnya adiknya. Suasana gelap. Kaki Peri mengepak hingga terus melaju kedepan. Tangan Hatin pun terlepas dari tubuh Peri. Digapai-gapainya, berharap kaki Peri bisa ia raih. Malang, Peri terlalu cepat berenang. Suara minta tolong terdengar lirih ditelinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">@@@</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin duduk di sudut bangunan sekolah Peri. Kedua tangannya mengalung mendekap kedua kakinya ke arah dada. Bibirnya membiru dan bergetar. Kakinya penuh lumpur coklat yang berasal dari tanggul yang jebol semalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilihatnya orang-orang hilir mudik di depannya. Ada yang menangis, meraung, atau kebingungan melihat deretan mayat diruangan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hatin tergugu, gemetaran. Di ujungnya, tubuh Peri kaku bersama kain lusuh membalut lehernya. Mata Hatin pun menyorot tubuh-tubuh lain disamping adiknya. Tubuh yang ia kenal, pun kaku. Bu Derma. Sedang bapak tak pernah ia temukan. Bapak, bu Derma dan Peri meninggalkannya. Sendiri.</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fhatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya%2F&amp;linkname=Hatin%2C%20Perempuan%20yang%20Sendiri%20Bersama%20Doanya" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fhatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya%2F&amp;linkname=Hatin%2C%20Perempuan%20yang%20Sendiri%20Bersama%20Doanya" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fhatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya%2F&amp;linkname=Hatin%2C%20Perempuan%20yang%20Sendiri%20Bersama%20Doanya" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fhatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya%2F&amp;linkname=Hatin%2C%20Perempuan%20yang%20Sendiri%20Bersama%20Doanya" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fhatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya%2F&amp;linkname=Hatin%2C%20Perempuan%20yang%20Sendiri%20Bersama%20Doanya" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fhatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya%2F&amp;linkname=Hatin%2C%20Perempuan%20yang%20Sendiri%20Bersama%20Doanya" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/hatin-perempuan-yang-sendiri-bersama-doanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sungguh… Aku Tak Menginginkan, Menjadi…</title>
		<link>http://studiokata.web.id/sungguh%e2%80%a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/sungguh%e2%80%a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh… Aku Tak Menginginkan, Menjadi… Oleh: Irni Fatma “Apa yang harus aku lakukan agar orang tuamu menyukaiku. Mau sampai kapan orang tuamu memperlakukan aku seperti ini?”, baru kali ini Bowo berbicara dengan nada tinggi, Nila terkejut dan menjadi terbata-bata menjawab pertanyaan Bowo. “Aaa…ku akan coba bicara dengan Ibu dulu mas.” “Kapan?” tanya Bowo masih dengan [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Sungguh… Aku Tak Menginginkan, Menjadi…</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Irni Fatma<strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Apa yang harus aku lakukan agar orang tuamu menyukaiku. Mau sampai kapan orang tuamu memperlakukan aku seperti ini?”, baru kali ini Bowo berbicara dengan nada tinggi, Nila terkejut dan menjadi terbata-bata menjawab pertanyaan Bowo.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Aaa…ku akan coba bicara dengan Ibu dulu mas.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kapan?” tanya Bowo masih dengan nada suaranya yang tinggi</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Secepatnya, InsyaAllah minggu depan saat aku pulang ke Jombang, aku minta mas bersabar dulu”, jawab Nila seketika untuk menenangkan kondisi Bowo.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span id="more-184"></span>Saat itu perasaan Nila benar-benar tidak karuan, dia bingung, sangat bingung, janji yang sudah diucapkannya kepada mas Bowo untuk berbicara dengan Ibu, seperti membuat lidahnya kaku tak berkelu seketika.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nila tak tahu apa yang akan ia katakan kepada Ibunya, jelas-jelas Bapak dan Ibu Nila tidak pernah menyetujui hubungannya selama ini, meski mereka sudah berpacaran selama 6 tahun, dan sampai hari ini saat Bowo mempunyai niat menikahinya, Bapak dan Ibu Nila sama sekali belum memberikan lampu hijau pada hubungan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tiga hari sebelum pulang ke Jombang, Nila meminta saran dari kedua sahabatnya, apa yang seharusnya ia katakan pada Bapak dan Ibunya saat pulang nanti. Siang ini adalah waktu yang tempat untuk berbicara dengan kedua sahabatnya, sembari makan siang di kantin kampus dan menunggu waktu bimbingan skripsi, mereka pun duduk dengan makanan yang sudah dipesan sesuai selera.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kapan kamu mau pulang?”, tanya Riska pada Nila membuka pembicaraan makan siang saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“InsyaAllah besok lusa, kan pas hari Sabtu… jadi sekalian weekend, kebetulan minggu depan aku gak ada jadwal bimbingan lagi dengan Bu Laras.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Trus?”, tanya Riska lagi secepat kilat setelah jawaban Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Ntahlah, bingung aku Ris, gak tahu harus bicara apa sama Ibu. Kalian tahu sendiri kan bagaimana Bapak Ibuku selama ini, mereka tidak pernah suka dengan mas Bowo”, jawab Nila dengan wajah lemas sambil meminum es jeruknya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Alasan dasarnya orang tuamu tidak suka dengan Bowo kenapa Nil?”, tanya Lena.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Yah… menurut mereka mas Bowo tidak seperti apa yang aku nilai selama ini, apalagi Bapak… sangat sangkal jika mas Bowo itu adalah orang baik-baik seperti yang aku ceritakan selama ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Hmmmmm… ribet juga yah, insting orang tua gak bisa dilawan”, sahut Riska spontan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Iya juga sih Ris, tapi mau bagaimana lagi, aku hanya ingin menikah dengan mas Bowo, dia sudah kerja, lagipula rencananya setelah menikah, kami akan tinggal di Malang setelah aku lulus nanti”, Nila terus berusaha meyakinkan sahabatnya dengan keputusan  yang diambilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Yah kalau begitu ceritanya, tergantung kamu lagi Nil, bagaimana caranya meyakinkan orang tuamu tentang pilihanmu”, saran Riska saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nila terdiam seketika, di dalam pikirannya dia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada orang tuanya besok lusa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Yup, aku setuju Ris, cepat atau lambat kamu memang harus bicara dengan orang tuamu, gimana Nil kamu siap?”, sahut Lena menimpali saran Riska.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Siap tidak siap aku harus siap kan, bantu doa yah, semoga niat ibadahku dengan mas Bowo berjalan lancar.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Iya pasti, tapi apa rencanamu selanjutnya, jika kemungkinan terburuk orang tuamu tetap tidak setuju dengan rencana kalian?”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Astagfirulloh, Nila hanya bisa berkata dalam hatinya, dia benar-benar tidak terpikir hal yang baru saja dikatakan Riska, apa yang harus ia katakan pada mas Bowo jika kedua orang tuanya tetap tidak setuju dengan rencana mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Hei… kok malah ngelamun, Nil…, kamu dengar pertanyaanku kan”, tanya Riska sambil mengibas-ngibas tangannya di depan mata Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Eh… iya, aku dengar, gak tahu Ris, putus kali… tapi… (Nila terdiam sejenak), tapi… gak tahu ah… gak mau mikir negatif dulu.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Hmmmmmmmmmmmm, baiklah jawab mereka kompak dan percakapan makan siang saat itu menghasilkan kebingungan yang semakin luar biasa di dalam kepala Nila, dia benar-benar harus mempersiapkan kata-kata yang tidak menyakiti kedua orang tuanya saat pulang nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Hari yang ditunggu pun tiba, Nila tiba di rumah pukul 13.00 siang WIB. Dia masih berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berbicara dengan Ibunya sore ini. Meski dia masih tidak tahu apa yang akan dikatakannya nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Jadi kamu sudah mantap dengan pilihanmu Nduk?” tanya ibu pada Nila setelah mendengar pengakuannya sore ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Iya bu, piye sama Bapak? Opo bapak iso nerimo mas Bowo, wong jelas-jelas dari dulu Bapak gak pernah merestui hubunganku dengan mas Bowo”, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yo… nggko Ibu tak ngomong karo Bapakmu, tapi Ibu gak iso janji opo-opo, nek Bapakmu tetap gak setuju, Ibu harap kamu yo patuh dengan kata-kata Bapakmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nila hanya terdiam, sambil menark nafas panjang. Nila pun berharap bahwa ibunya bisa membantu meluluhkan hati Bapaknya, jika tidak berarti Nila harus menerima kenyataan bahwa Bowo bukanlah jodohnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Empat hari Nila di rumah, dan belum ada tanda-tanda Bapak telah menyetujui hubungannya, sedangkan Bowo terus menanyakan berita terbaru tentang Bapak melalui SMS. Nila hanya terus membalas agar Bowo bersabar dan menerima apapun keputusan Bapak.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Nduk, Ibu mau bicara”, panggil Ibu agar memintaku untuk menghampirinya di dalam kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Bapakmu wes ngerestui hubunganmu, bapakmu mimpi tentang kalian semalam, pesan Bapak, kalau Bowo memang serius, ndang ngelamar awakmu nduk, dadi Bapakmu iso nyiapno sing liane.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Ibu serius?”, tanyanya masih dengan nada tak percaya, kedua bola matanya pun ikut membesar seketika, hanya sekedar untuk meminta ketegasan dari pertanyaan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Iya nduk, ndang ngelamar, ndang nikah ndang beres&#8230;, sing penting Bapakmu wes ngerestui.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Perasaan Nila bercampur aduk, bahagia, haru, tak percaya dan masih diliputi pertanyaan yang sangat dalam. Apa yang membuat Bapak akhirnya merestui hubungannya dengan Bowo. Apa yang Bapak mimpikan tentang Nila dan Bowo. Pertanyaan itu terus bersarang di dalam kepala Nila, tetapi rasa syukur dan bahagia mengalahkan rasa penasarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak sabar ia pun segera memberitahu Bowo berita bahagia itu, dan satu bulan kemudian mereka pun menikah. Riska dan Lena yang ikut menghadiri proses pernikahan itu pun, ikut merasakan kebahagiaan Nila, apalagi mellihat kebahagiaan terpancar dari wajah Nila yang begitu cantik dengan kebaya berwarna emas di hari pernikahannya. Kedua sahabatnya hanya bisa tersenyum menyaksikan hari bahagia Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dua bulan sudah pernikahan itu berjalan sempurna, Bowo dengan pekerjaannya, dan Nila dengan kesibukan sebagai ibu rumah tangga sembari menunggu proses wisuda. Tak ada yang kurang dalam pernikahan mereka. Menyewa rumah kecil di Malang, kota yang mereka pilih untuk membangun keluarga kecil dan sederhana.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Awal pernikahan yang indah, Nila tampak bahagia dengan rumah tangga barunya, bahkan dia selalu mengabari kedua sahabatnya tentang hari-harinya menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tetapi semua itu hanya menjadi kenangan indah selama dua bulan, sejak kejadian…</p>
<p style="text-align: justify;">“Mas, bangun mas, sudah mau maghrib, mas belum sholat Ashar, nanti waktunya habis”, bisik Nila dengan perlahan membangunkan Bowo yang masih tertidur pulas di kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Mas….”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Arghhhhhhhhh, apa sih maumu?”, jawab Bowo dengan nada marah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Mas belum sholat Ashar, sebentar lagi Maghrib”, jawab Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Plak… Plak… tamparan dari Bowo mendarat di pipi kanan dan kiri Nila seketika, Nila pun terkejut tak menyangka Bowo akan marah sebesar itu, hanya karena dirinya membangunkan tidurnya untuk sholat Ashar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Sekali lagi kamu ganggu tidurku, aku pukul kamu?”, sahut Bowo sembari kembali ke tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu Nila hanya menangis menjadi-jadi, tak menyangka suaminya Bowo akan menamparnya di usia pernikahan mereka yang masih baru dua bulan. Nila pun berusaha mengerti kondisi suaminya yang kelelahan setelah seharian bekerja, dan ia pun tidak berani membangunkan suaminya. Hingga akhirnya Nila pun tertidur dalam keadaan menangis dan membelakangi tubuh suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mentari pagi bersinar terang, perasaan Nila sudah mulai tenang, dan ia pun tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan sarapan untuk suaminya yang masih tertidur pulas sejak kemarin sore. Nila sama sekali tidak berani membangunkannya. Ia takut suaminya akan marah seperti kemarin sore. Dia pun menunggu hingga matahari sudah berada di puncak, dan waktu pun sudah mulai memasuki waktu sholat Dzuhur.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kali ini Nila mencoba memberanikan diri membangunkan suaminya, dan yang terjadi sungguh-sungguh di luar dugaan Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Sudah aku bilang, jangan bangunkan aku, kamu ini tidak dengar atau apa?”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Tapi mas, ini sudah masuk waktu Dzuhur, dan dari semalam mas hanya di tempat tidur tanpa beranjak sedikit pun, kecuali ke kamar mandi.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pertengkaran mulut pun terjadi, dan kali ini Bowo benar-benar lepas kendali.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Plak… Plak…</p>
<p style="text-align: justify;">“Belum puas tamparanku kemarin dan sekarang untuk membuatmu diam.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kenapa mas menamparku, salahku apa?”, tanya Nila mencoba mencari tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan Nila tidak digubris, Bowo justru semakin mengamuk dan memukul Nila, Nila tidak bisa melawan, dia hanya merunduk sembari memohon ampun suaminya, tetapi Bowo semakin tidak mampu mengontrol amarahnya. Bukan hanya wajah yang menjadi sasaran kemarahan Bowo, tetapi kepala dan lengan Nila juga mendapatkan bogem mentah dari laki-laki yang baru dinikahinya dua bulan lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nila hanya bisa menangis dan menangis bersujud di kaki suaminya, tetapi tangisan itu tak kunjung membuat Bowo menyadari perbuatannya. Kali ini dia melemparkan tubuh Nila, hingga Nila tersungkur di sudut lemari mereka. Nila sungguh tak menyangka suaminya seperti orang asing yang dengan tega dan tanpa belas kasihan terus memukul dirinya tanpa henti.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Siang itu Nila benar-benar tidak menyangka dirinya diperlakukan seperti ini, tak banyak yang bisa ia lakukan, setelah Bowo puas melampiaskan amarahnya, ia pun pergi entah kemana. Nila tak bisa banyak bergerak karena seluruh tubuhnya sakit, dia hanya mencoba berdiri dan merogoh beberapa pakaiannya dan kemudian pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Bowo.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Hey Nil… kenapa kok mendadak datang kesini, gak pake ngomong dulu kalau mau datang”.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Boleh aku masuk dulu Ris?”, tanya Nila singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kamu kenapa? Kok bawa tas begini, emang mau kemana, ke Jombang?”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Aku boleh nginep disini beberapa hari, aku kabur dari Malang dan Ibuku gak tahu kalau aku ada di Surabaya., jawab Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kabur?, kamu serius, kenapa?”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tanpa banyak bicara Nila langsung menunjukkan luka-luka lebab di lengan, punggung, paha dan di bagian kepala. Dia tak bisa menahan tangis saat menunjukkan semua luka-luka itu, dia hanya bisa memeluk Riska dan teringat semua kejadian tadi siang.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Suamiku Ris yang melakukannya”, kata Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tak banyak yang dapat dikatakan Riska, dia hanya terus memeluk sahabatnya dan berusaha menenangkan Nila.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Satu jam kemudian Lena datang dan menginap di rumah Riskan, malam itu Nila menjelaskan semua kejadian yang menyebabkan Bowo bersikap kasar kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Lalu apa keputusanmu Nil?”, tanya Lena.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Aku mau bercerai.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kamu yakin dengan keputusanmu, apa kamu sudah siap dengan semua resiko yang terjadi?”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Iya Ris, aku siap… aku mau bercerai, aku tidak perduli dengan semua omongan orang, yang jelas aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang terus memukuliku.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Hmmm… kami berdua dukung apapun keputusanmu, besok pagi kita antar kamu pulang ke Jombang, dan kita bantu bicara dengan orang tuamu.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya tak banyak yang dapat diucapkan oleh orang tua Nila tentang keputusannya untuk bercerai. Inilah resiko yang harus dipertanggungjawabkan Nila atas keinginannya menikah dengan laki-laki yang dipacarinya selama enam tahun, dan selama itu pula orang tuanya tidak pernah setuju. Kini rumah tangganya yang singkat itu harus berakhir dengan perceraian.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nila tetap pada pendiriannya, dan dia tidak memperdulikan omongan orang lain. Hanya karena dia baru menikah selama dua bulan dan kemudiaan bercerai. Apapun yang orang lain katakan, hanya Nila yang mengerti bagaimana rasanya. Predikat baru pun kini disandang oleh Nila, bukan hanya berhasil sebagai seorang Sarjana, tetapi ia juga menyandang predikat baru sebagai seorang janda korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Catatan :</p>
<p style="text-align: justify;">Diangkat dari sebuah kisah nyata, setelah melalui proses perceraian yang sangat panjang selama dua tahun, dan cobaan-cobaan karena teror dari keluarga mantan suaminya Bowo, kini Nila sudah dapat bangkit dari trauma KDRT yang dialaminya dan memutuskan menikah untuk kedua kalinya, dengan laki-laki yang telah dipilihkan oleh (almarhum) Bapaknya. Keluarga kecilnya saat ini sedang berbahagia, dikarenakan sekarang Nila tengah mengandung tiga bulan buah percintaannya dengan suami keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Selamat yah Nil, semoga keluarga barumu dilindungi oleh Allah SWT. Amien…</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fsungguh%25e2%2580%25a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%25e2%2580%25a6%2F&amp;linkname=Sungguh%E2%80%A6%20Aku%20Tak%20Menginginkan%2C%20Menjadi%E2%80%A6" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fsungguh%25e2%2580%25a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%25e2%2580%25a6%2F&amp;linkname=Sungguh%E2%80%A6%20Aku%20Tak%20Menginginkan%2C%20Menjadi%E2%80%A6" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fsungguh%25e2%2580%25a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%25e2%2580%25a6%2F&amp;linkname=Sungguh%E2%80%A6%20Aku%20Tak%20Menginginkan%2C%20Menjadi%E2%80%A6" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fsungguh%25e2%2580%25a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%25e2%2580%25a6%2F&amp;linkname=Sungguh%E2%80%A6%20Aku%20Tak%20Menginginkan%2C%20Menjadi%E2%80%A6" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fsungguh%25e2%2580%25a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%25e2%2580%25a6%2F&amp;linkname=Sungguh%E2%80%A6%20Aku%20Tak%20Menginginkan%2C%20Menjadi%E2%80%A6" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fsungguh%25e2%2580%25a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%25e2%2580%25a6%2F&amp;linkname=Sungguh%E2%80%A6%20Aku%20Tak%20Menginginkan%2C%20Menjadi%E2%80%A6" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/sungguh%e2%80%a6-aku-tak-menginginkan-menjadi%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janjiku</title>
		<link>http://studiokata.web.id/janjiku/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/janjiku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Janjiku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Janjiku oleh: Miranti Rasyid Brakk, suara guci pecah terdengar lagi. Menurut perhitunganku ini sudah yang ketiga kalinya. Ini semua karena salahku. Seandainya, kebimbangan yang menyangkut masa depan itu tidak hadir dalam hidupku. Tidak ada dalam lika–liku hidupku. Mungkin hal ini tidak pernah terjadi. Sudahlah, penyesalan memang datang belakangan. Yang sekarang kulakukan hanyalah menunduk dalam-dalam. Mendengarkan [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: center;">Janjiku</h1>
<p style="text-align: center;">oleh:</p>
<p style="text-align: center;">Miranti Rasyid</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Brakk</em>, suara guci pecah terdengar lagi. Menurut perhitunganku ini sudah yang ketiga kalinya. Ini semua karena salahku. Seandainya, kebimbangan yang menyangkut masa depan itu tidak hadir dalam hidupku. Tidak ada dalam lika–liku hidupku. Mungkin hal ini tidak pernah terjadi. Sudahlah, penyesalan memang datang belakangan. Yang sekarang kulakukan hanyalah menunduk dalam-dalam. Mendengarkan dan merasakan betapa mengerikannya kemarahan ayah. Ya, ayah marah padaku. Kemarahannya memuncak setelah dia mengetahui semua yang telah aku perbuat di luar sana.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-180"></span>“Ris, ayah kecewa padamu. Ayah bingung dengan apa yang kau mau. Ayah sudah lelah denganmu. Ayah pusing”, ayah memijat kepalanya dengan lembut untuk mengurangi rasa pusingnya. Ayah pergi dengan beban diwajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi  Yah, dengar dulu penjelasanku”, aku berteriak memanggil ayah agar dia berbalik dan mendengarkan penjelasanku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak, pikirkan semua itu”, ayah menjawab panggilanku dengan kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Haahhhh, bangsat”, ucapku sambil membanting kepingan guci kesayanganku yang sudah dipecahkan oleh ayah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Anakku, bangunlah”, ujar pria tua yang memiliki janggut putih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hah, kamu siapa?”, ujarku setengah sadar yang juga dipenuhi sejuta tanda tanya dalam kepalaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku kakekmu. Aku akan membantumu, Nak. Mengatasi semua masalahmu. Menjawab semua pertanyaanmu selama ini. Marilah ikut bersamaku”, ucap orang itu yang mengaku sebagai kakekku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, aku akan ikut bersamamu. Tapi, awas kalau kau menipuku. Aku akan membunuhmu”, ujarku sambil mengancam dan mengepalkan tangan menuju ke arah lelaki tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu hanya tersenyum menerima ancamanku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Aku diajaknya berkeliling entah kemana. Sepanjang perjalanan dia menceritakan perjalanan hidupnya saat dia masih berusia remaja sepertiku. Aku tidak menyimaknya dengan baik. Sebab, aku sudah terpesona oleh keindahan pemandangan di sekitarku. Indah sekali. Pohonnya yang hijau, danaunya berwarna biru dikelilingi oleh wanginya rerumputan disekitar danau tersebut, dan sejuknya suasana membuatku tersihir untuk sesaat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Paham, Nak?”, kakek itu memberikan pertanyaan itu kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh ya, paham kek. Paham”,  aku sadar kembali dari lamunanku dan kembali ke alam nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hidup itu seperti air, Nak. Terkadang tenang, kadang juga beriak, bahkan ombak pun bisa menghempasmu jika kau tidak bisa memilih jalan hidupmu yang baik. Janganlah engkau sepertiku nak”, ucap kakek itu menasihatiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Seperti apa, Kek?”, tanyaku kala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, rupanya kau tidak mendengarkanku”, jawab kakek itu sedikit kecewa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, Kek. Aku tadi tidak mendengarkanmu. Aku hanya memperhatikan keadaan sekelilingku”, ucapku meminta maaf kepada kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, akan aku ulangi”, kakek berkata dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Tidak bisa, semuanya harus berjalan sesuai rencana”, ucap seseorang di dalam gudang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, semua bahan makanan dan persediaan sudah habis untuk dua minggu ke depan”, jawab pria yang ada di dekatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada dan tidak ada bahan makanan, semua ini harus berjalan”, ujar orang itu yang sering dipanggil Bang Gun oleh teman–temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ok, baiklah. Sekarang apa yang bisa aku lakukan?”, tanya pria itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tolong kamu panggilkan Mas Tok kesini. Suruh dia membawa seperangkat peralatan untuk siasat. Lekaslah, ini darurat”, jawab Bang Gun dengan tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siap, Bang”, lelaki itu pergi meninggalkan Bang Gun untuk memanggil kawannya tersebut yang mereka nilai adalah orang terpintar diantara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Laporan Bang Gun. Mas Tok datang”, lelaki itu kembali ke dalam gudang tersebut sambil membawa Mas Tok ke hadapan Bang Gun.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa Gun?”, tanya Mas Tok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini mas, menurut informasi yang diberikan oleh kaki tangan saya, Belanda sebentar lagi akan menyerang wilayah kita. Apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya?”, tanya Mas Gun sedikit panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan panik. Kita pikirkan bersama”, jawab Mas Tok sedikit menenangkan hati Mas Gun.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, bagaimana caranya?”, Bang Gun mengulangi lagi pertanyaanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini, menurut saya bagaimana jika kita membuka sekolah pendidikan dokter agar para pemuda bisa mengenyam pendidikan dokter dan hal ini dapat berfungsi saat kita membutuhkan mereka untuk mengobati para pejuang kita yang terluka di medan perang”, jelas Mas Tok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Usul mas boleh juga. Akan aku pertimbangkan. Tapi, setelah aku pikir–pikir, untuk mengusir Belanda apakah hanya itu saja yang bisa dilakukan?”, pertanyaan yang sama terulang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak hanya itu, kita bisa membentuk sebuah perhimpunan pemuda yang berisi seluruh pemuda yang memiliki semangat juang yang tinggi yang bisa melawan tindak tanduk para Sekutu”. Mas Tok menjelaskannya kembali dan kali ini menenangkan hati Bang Gun lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ide yang bagus”, Bang Gun memberikan komentarnya tentang gagasan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dua hari kemudian, Bang Gun langsung menunjuk dr. Wahidin Soedirohusodo yang kita kenal sebagai pemrakarsa sekolah kedokteran (STOVIA) yang bisa menjadikan para pemuda lebih pintar dan dapat diharapkan bisa menjadi seseorang yang berguna di masa yang akan datang. Sejak saat itu, dibentuklah sebuah organisasi Budi Utomo. Kebangkitan para pemuda itulah hingga saat ini masih diagungkan, namun tersingkirkan oleh masa masuknya budaya luar negeri ke dalam negeri yang menyebabkan hilangnya ciri khas asli bangsa Indonesia .</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Lalu kek, bagaimana dengan perkembangan organisasi tersebut?”, tanya Aris kepada kakek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sayangnya, organisasi tersebut tidak dapat bertahan dengan lama. Kurangnya rasa persatuan dan kesatuan membuat organisasi tersebut tidak berjalan dengan baik”, ujar kakek sambil menerawang ke angkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi, bagaimana selanjutnya dengan keadaan Indonesia pada masa itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Yah, sudah bisa ditebak. Kurang koordinasi. Tapi, setelah kejadian tersebut, kami memulai lagi dari awal. Munculnya tokoh–tokoh pendidikan pada masa itu membuat kami bangkit dari kebodohan”, mata kakek berkaca–kaca mengingat hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Berarti secara tidak langsung, untuk memperoleh pendidikan sangatlah susah, apa benar itu, Kek?”, tanyaku sedikit penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, benar–benar susah. Untuk memperoleh pendidikan kami harus bersembunyi dari kekuatan Sekutu yang sudah berkuasa dan berbuat semena – mena terhadap saudara kita yang ada di seluruh Indonesia. Hal ini sungguh berbeda dengan keadaan Indonesia saat ini. Kini, para pemuda justru menyiakan–nyiakan waktu mereka hanya untuk bersenang-senang dan menghamburkan kesempatan untuk menutut ilmu. Mereka hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri tanpa melihat apa yang akan  terjadi dengan mereka dan bangsa ini di masa yang akan datang. <em>Free sex</em>, narkoba, dan perbuatan kriminalitas sudah membudaya dalam diri mereka. Rasa heran timbul dalam diri kami. Sungguh diluar dugaan.  Kami, para pemuda jaman dulu, sangat sedih dengan perbuatan mereka. Kamu ingat dengan perjuanganku dan kawan-kawan? Kami dengan susah payah merebut kemerdekaan negeri ini, malah mereka yang menghancurkan cita–cita kami. Dunia yang damai menjadi impian kami. Tapi, apa yang mereka lakukan justru membuatnya hancur berantakan”, air mata kakek mulai menetes satu persatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan kakek bangkit dari duduknya. Dia mengeluarkan sebuah cermin berbentuk lingkaran dari dalam jubahnya. Cermin itu bukan sekedar cermin biasa. Cermin itu bisa menunjukkan kondisi bangsa saat ini. Melalui pantulan sinar kebaikan, kalian semua dapat melihat situasi yang terkini di Indonesia dan di seluruh jagad raya. Wanita diperkosa, anak-anak kecil dijual dan kemudian menjadi pengemis, dan para koruptor tak henti-hentinya melakukan korupsi yang merugikan bangsa dan negara. Hal itulah yang terjadi selama ini. Ya, jaman sudah semakin berkembang dan teknologi semakin maju, namun moral semakin merosot dan pikiran semakin dangkal.</p>
<p style="text-align: justify;">“Astaga, ternyata itukah yang terjadi selama ini?”, tanyaku kaget.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, seperti itulah yang terjadi saat ini. Dunia penuh dengan kepalsuan. Orang- orang palsu yang mengatakan dirinya dapat mensejahterakan rakyat. Lihatlah, banyak sahabat kita yang meminta–minta. Sekarang, mana buktinya? Oh Tuhan, mengapa kau hukum bangsa ini?”, kakek mengankat kedua tangannya hingga berposisi seperti orang berdoa.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jeegggeerrrr</em>, muncul suara petir menyambar bumi. <em>Astaga, begitu besarkah permohonan kakek sehingga Tuhan menjawabnya dengan kilat dan petir</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tenanglah kek, janganlah engkau bersedih dan marah  seperti ini”, ujarku sambil menyentuh bahu kakek. Menenangkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maafkan aku nak, aku terlalu emosional. Ini mungkin karena aku terlalu kecewa dengan kondisi bangsa saat ini”, ujar kakek sambil menyeka air matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Seandainya aku bisa menyelamatkan bangsa ini?”, lirihku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bisa. Engkau bisa anakku. Bangsa ini masih bisa diselamatkan”, kakek mendengarkan lirihku yang kemudian dijawabnya dengan penuh keyakinan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana caranya?”, tanyaku kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Belajar dan berdoa. Itulah jalan yang paling mudah dan paling sulit untuk dijalankan”, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Paling sulit, mengapa?. Aku yakin itulah hal yang paling mudah”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Itu bukan hal yang gampang. Kau harus banyak belajar. Belajar tidak hanya dengan menguasai pelajaran. Guru yang paling baik adalah pengalaman, guru yang paling dasar ialah buku, dan guru yang paling perhatian ialah orang yang menasihati dan mengajarimu. Belajarlah dengan mereka. InsyaAllah, mereka akan membantu”, tegas kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apakah hanya tiga hal tersebut ?”, tanyaku sedikit penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak. Tanpa berdoa kita tidak bisa menjadi apa-apa. Ingat, manusia hanyalah pembuat rencana tapi Tuhan-lah yang menentukan segalanya. Tidak ada sesuatu pun yang sempurna di dunia ini. Camkan itu”, ucap kakek dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk paham.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba–tiba kakek memelukku. Erat sekali. Aku tak mengerti mengapa dia melakukannya. Yang aku rasakan hanya tetesan air yang jatuh di bahuku. Getaran dan keringat dingin aku rasakan dipundakku. Tiba-tiba, darahku mengalir dengan cepat. Mungkin itu pertanda gugup. <em>Astaga, kakek menangis</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nak, aku butuh bantuanmu. Aku ingin kau menolongku. Selamatkanlah negeri ini dari kekuasaan para penganut paham KKN, orang–orang palsu, dan pengaruh globalisasi. Hanya engkau dan penerus bangsa Indonesia lainnya yang bisa melakukannya. Aku mohon, nak. Jangan biarkan usaha kami merebut dan mempertahankan kemerdekaan kemerdekaan ini sia–sia. Isilah kemerdekaan ini dengan hal–hal positif  yang bisa membawamu ke dunia yang bisa mengajari dirimu tentang arti hidup yang sebenarnya. Tolong, nak”, air mata kakek mengalir sangat deras.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan aku melepaskan pelukan kakek. Aku memegang bahunya dengan lembut dan menenangkan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kek, aku janji. Aku akan memenuhi impian dan cita–citamu. Aku akan melindungi bangsa ini. Tenanglah, kek”, ujarku menenangkan kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terima kasih, nak. Aku senang sekali, jika kau dan manusia lainnya dapat bekerja sama untuk melindungi bumi ini. Karena, di bumi inilah aku lahir, hidup dan berkembang. Disinilah, aku dibesarkan. Dan disini pulalah aku dimatikan. Tanah ini tumpah darahku. Hidup matiku. Terima kasih…anakku”, ujar kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kakek menghilang secara tiba–tiba setelah dia mengucapkan hal itu. Aku kaget dan bingung. Tapi, aku tetap berjanji akan memenuhi keinginanmu, kek….</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris, bangun. Ini sudah jam 7. Nanti kamu kesiangan”, ujar ayah membangunkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah, maafkan aku. Aku akan penuhi keinginanmu. Aku pasti akan jadi dokter. Aku janji”, aku langsung memeluk ayah dan mengucapkan maaf padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan dipaksakan. Ayah mengerti keinginanmu. Ayah hanya emosi saja pada malam itu. Mungkin, kau marah pada ayah”, ucapan ayah sengaja aku potong.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak. Aku tidak marah. Maafkan aku yah”,ujarku sekali lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tenanglah anakku”, ayah memelukku kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam pelukkannya, aku berjanji mimpiku semalam akan menjadi motivasi bagiku dan akan aku ceritakan pada temanku lainnya agar mereka dapat membantuku untuk mewujudkam impian kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Samarinda, 12 Maret 2008</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk orang – orang yang membutuhkan kebenaran</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/janjiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKHIR PENCARIAN CINTA</title>
		<link>http://studiokata.web.id/akhir-pencarian-cinta/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/akhir-pencarian-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:37:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[AKHIR PENCARIAN CINTA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[AKHIR PENCARIAN CINTA Oleh : Miranti Rasyid Sudah lama aku memandangi wajahnya. Sejak mentari masih bersembunyi hingga sang surya membasahi bumi dengan sinarnya yang dahsyat. Pohon-pohon yang rindang kini bergelut manja padaku seakan aku mengajaknya bermain bersama. Dia, seorang gadis yang sejak tadi aku amati, menangis sambil menyandar di bawah pohon yang memberikannya sedikit keteduhan. [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>AKHIR PENCARIAN CINTA</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Miranti Rasyid</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sudah lama aku memandangi wajahnya. Sejak mentari masih bersembunyi hingga sang surya membasahi bumi dengan sinarnya yang dahsyat. Pohon-pohon yang rindang kini bergelut manja padaku seakan aku mengajaknya bermain bersama. Dia, seorang gadis yang sejak tadi aku amati, menangis sambil menyandar di bawah pohon yang memberikannya sedikit keteduhan. Perlahan, dia menyeka air mata  yang masih membasahi pipinya. Hatiku tergetar untuk menolongnya. Aku mulai beranjak dari tempatku. Tapi, aku mengurungkan niatku sebab dia menghampiriku. Aku memutuskan untuk bersembunyi agar dia tidak mengetahui keberadaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membawa sebuah buku. Aku tak tahu jenis buku yang sedang dibawanya. Dari ciri-cirinya, terlihat seperti sebuah buku harian. Mungkin, buku itu sangat berarti baginya. Sayangnya, aku salah. Buku itu tidak berguna untuknya sebab dia mulai merobek satu persatu isinya. Dia menghancurkan kertas tersebut dengan cara menggenggamnya kuat-kuat, kemudian dia melemparkannya ke arah tempatku bersembunyi. Ya, aku menghindar. Aku beruntung karena kertas itu tidak mengenai wajahku. Gadis itu menangis lagi, bahkan semakin kencang. Apakah karena buku harian itu? Aku tak tahu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-177"></span>“Mas, ada yang <em>ndak</em><a href="#_ftn1">[1]</a> <em>betemu</em><a href="#_ftn2">[2]</a><em> awak</em><a href="#_ftn3">[3]</a>”, ujar seorang pria yang sedang berdiri di depan orang yang diajaknya berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapa?”, tanya orang yang diajak berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ndik</em><a href="#_ftn4">[4]</a><em> </em>tahu. Aku <em>ndik </em>kenal. <em>Bunyinya</em><a href="#_ftn5">[5]</a> dari perusahaan.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Perusahaan? Aku jadi bingung.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Mungkin, <em>nya</em><a href="#_ftn6">[6]</a><em> ndak bebisnis</em><a href="#_ftn7">[7]</a><em> lawan</em><a href="#_ftn8">[8]</a><em> kita</em><a href="#_ftn9">[9]</a>”, ujar pria itu berusaha menenangkan pikiran lawan bicaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mudahan saja. Orangnya disuruh kesini saja. Cepat!”</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu keluar dan mempersilakan keempat orang yang sedang menunggu di luar itu agar segera masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian, pria tersebut memasuki sebuah ruang tamu bersama empat orang tersebut. Pria itu mempersilakan mereka untuk duduk dan menunggu sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai, pak Halim. Apa kabar? Sudah lama tak berjumpa dengan anda. Sedang sibuk apa?”, ujar seorang pria yang baru memasuki ruang tamu sambil menjabat tangan lawan bicaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masrin, makin segar aja nih. Kabarku baik. Sekarang lagi sibuk dengan tugas pembangunan proyek di pinggiran sungai”, ucap Pak Halim dan membalas uluran tangan yang telah diberikan padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Proyek? Wah, makin kaya aja nih kamu”, ujar Masrin bangga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya begitulah. Semenjak ada investor yang datang ke daerah dimana aku mengembangkan usaha, aku mulai bangkit dari kemiskinanku”, kata-kata Pak Halim membuat Masrin tertarik untuk berbisnis seperti apa yang dilakukan oleh tamunya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh iya, ngomong-ngomong itu siapa? Bule darimana?”, tanya Masrin bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, ini Mr. Edward. Dia dari Jerman”, jawab Pak Halim.</p>
<p style="text-align: justify;">Masrin mengangguk pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Mein name ist Edward Khielson. Ich komme aus Jerman</em><a href="#_ftn10">[10]</a>”, ujar Mr. Edward memperkenalkan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masrin mengangguk paham. Untunglah, dia mengerti arti bahasa tersebut. Sekolahnya di kota sudah mengajarkannya banyak hal, termasuk bahasa asing itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedatangan empat orang itu bermaksud untuk melakukan sebuah pembangunan proyek pada daerah yang mereka kunjungi. Kota Bangun merupakan wilayah terakhir yang mereka tinjau. Bagi mereka, Kota Bangun memiliki ciri yang khas yang tidak dimiliki oleh wilayah lainnya. Akhirnya, setelah bernegosiasi cukup lama dengan Masrin, sang pemilik tanah dan perkebunan, mereka memutuskan untuk membangun sebuah pabrik pengolahan kelapa sawit yang akan diekspor ke Negara Jerman dan sebagai imbalannya, mereka akan membangun sebuah tempat penampungan yang berfungsi untuk menampung korban-korban bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Mereka akan bekerja selama 1,5 tahun yang rencananya akan menghabiskan dana sekitar US$ 2.000.000. Angka yang cukup menghebohkan bagi warga Indonesia. Pembangunan ini akan terus berjalan hingga masa yang telah ditentukan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Encek, maafkan aku”, ujar seorang wanita muda sambil meneteskan air mata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, kenapa?”, tanya pria yang sedang duduk bersama wanita muda itu sambil berhadapan dan memegang jari-jari tangan wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Encek, aku sudah dijodohkan oleh orang tuaku. Aku tidak bisa menolaknya karena mereka terus memaksaku. Aku bingung. Maafkan aku”, jawab gadis itu sambil menunduk dan meneteskan airmata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dijodohkan? Dengan siapa?”, tanya Encek sedikit panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, aku sudah dijodohkan dengan salah satu para pekerja yang sudah lama membangun proyek di desa seberang. Kata ibu, dia bukan kuli tapi seorang manager. Tenang, ini cuma sementara kok”, ujar wanita itu mencoba untuk menenangkan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sementara? Dayang, jelaskanlah padaku. Jangan membuatku semakin bingung.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya, ibu memaksaku untuk melakukan kawin kontrak dengannya. Tapi, aku berkeras untuk menolaknya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Coba kamu jelaskan dengan ibumu tentang dosanya melakukan kawin kontrak dengan pria yang disebut manager itu”, ujar Encek memberikan saran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah, tapi aku tak berhasil”, ucap wanita itu sedikit menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dayang, sabar ya. Aku selalu mendukungmu, walaupun kamu tak lagi disisiku. Kamu tidak salah dan maksud orang tuamu itu baik, mereka hanya mengingikan kamu bahagia. Hartalah yang salah sebab dia tidak memilih diriku untuk memilikinya. Ibumu terlalu percaya bahwa harta yang akan membahagiakan segalanya. Makanya, kedua orang tuamu lebih memilih orang-orang yang berkuasa dan memiliki harta agar anaknya bisa memiliki kebahagiaan yang tidak pernah mereka rasakan”, Encek mencoba menenangkan Dayang dengan cara memeluknya dalam-dalam dan mengusap punggungnya pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Air mata Dayang semakin mengalir dengan deras setelah dia mendengar ucapannya Encek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sabar ya”, Encek terus menenangkan gadisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, mereka tidak pernah mengerti dengan keinginanku. Aku benci dengan mereka. Benci!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssst”, Encek mencoba menenangkannya. “Ikhlaskan saja. Toh, maksud mereka kan baik. Jadi jangan risau”, lanjut Encek sambil terus menenangkan Dayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang menangis dan terus menangis. Menangisi kemalangan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintikan air mulai membasahi bumi. Gerimis telah datang, menandakan bahwa hujan akan segera turun dengan derasnya. Hujan kali ini merupakan sebuah berkah yang telah diberikan oleh Allah kepada warga Kota Bangun sebab sudah hampir sebulan mereka mengalami kekeringan. Sawah, ladang, dan perkebunan yang mereka miliki banyak yang mengalami gagal panen. Paceklik tahun ini menyebabkan beberapa pabrik pengolahan tanaman hasil perkebunan menutup pabrik mereka untuk sementara hingga musim penghujan tiba. Akibatnya, hampir separuh dari penduduk wilayah tersebut tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menutupi kebutuhan mereka, mereka rela melakukan apa saja termasuk menggunakan sistem “kawin kontrak” agar mereka mendapatkan uang dalam waktu yang singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pokoknya, aku tidak mau!”, teriak seorang gadis yang menambah suasana gemuruh hujan di siang hari.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heh, denger ya. Sekarang ini susah buat cari uang. Cobalah untuk mengerti”, ujar seorang pria tak mau kalah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, apakah aku harus mengorbankan cintaku demi uang?”, tanya gadis itu dengan nada yang tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cinta! Cinta! Cinta! <em>Bullshit</em><a href="#_ftn11">[11]</a> dengan cinta. Memangnya cinta yang memberikan makan? Cinta yang memberikan harta? Hei Dayang, kalau cinta yang memberikanmu uang, makan, dan segalanya, ambil tu cinta!”, jawab pria tersebut sambil berkacak pinggang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, apakah dengan uang, kebahagiaanku bisa dibeli?”, teriak Dayang kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hahaha”, pria itu tertawa keras. “Ya iyalah, dengan uang kamu bisa merasakan segalanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku pergi dari rumah”, Dayang memutuskan untuk keluar dari rumah. Tetapi, keinginannya tersebut tidak berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu ternyata adalah ayah kandungnya sendiri. Dia yang telah menggagalkan rencana Dayang untuk pergi dari rumah. Dia telah menarik Dayang sebelum anak gadisnya itu melangkahkan kaki keluar rumah. Dayang ditarik hingga dia memasuki sebuah ruangan kosong di sudut rumah. Di ruangan tersebut sudah tersedia sebuah alat pasung yang akan digunakan untuk memasung Dayang. Akhirnya, Dayang dikurung di tempat itu hingga waktu pernikahan kontrak itu tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari demi hari berganti, minggu demi minggu pun terlampaui. Dua hari lagi pernikahan kontrak itu pun tiba. Ruangan kosong tempat Dayang dipasung itu dibuka. Dayang terlihat sangat pucat dan kusut. Dia tidak memiliki semangat untuk menjalani hidupnya kembali. Sayup-sayup suara kunci berdentang terdengar di telinga. Akhirnya, Dayang dikeluarkan dari pasungan agar dia bisa beristirahat sebelum pernikahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang terduduk lemas di atas tempat tidur kesayangannya. Ibunya sedang duduk di hadapannya sambil menyodorkan nasi ke mulutnya. Tapi, dia menggeleng dan menjauhkan mulutnya dari nasi tersebut. Ibunya terus berusaha agar Dayang makan. Sayangnya, semua usaha ibunya sia-sia. Dia tetap pada pendiriannya. Ibunya menyerah dan meninggalkannya sendiri di dalam kamar dalam keadaan terkunci. Kini, Dayang hanya memandang kosong ke arah pintu. Dia seperti kehilangan tujuan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dayang hilang!”, teriak seorang wanita dan makanan yang sedang dipegangnya itu tejatuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Teriakan wanita itu mengagetkan seorang pria yang sedang duduk di halaman rumah. Pria itu memasuki rumah dengan tergesa-gesa dan panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa dia bisa hilang?”, tanya pria tersebut panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tidak tahu. Aku baru masuk ke kamar dan dia sudah tidak ada”, jawab wanita itu gugup.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu memeriksa keadaan di sekelilingnya. Dia menemukan sebuah kerusakan pada jendela yang sudah terbuka. Ya, mungkin Dayang melarikan diri melalui jendela. Pria itu membanting jendela tersebut dan segera berlari keluar untuk mencari Dayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang berlari tergesa-gesa. Dia menoleh ke belakang dan kemudian berlari lagi untuk menghindari sesuatu. Menghindari kedatangan ayahnya. Dia masuk kedalam hutan. Dia terus berlari sambil membersihkan ilalang dan akar-akar pohon yang mengganggu jalannya. Dia mencari ujung dari hutan yang sedang dilaluinya. Akhirnya, dia menemukan ujung dari hutan tersebut. Ternyata, di ujung hutan itu, dia menemukan sebuah kampung. Kampung itu memiliki sebuah penyebrangan menggunakan <em>ketinting</em><a href="#_ftn12">[12]</a>. Dayang menggunakan jasa tersebut untuk menyebrang ke kampung seberang. Dia menyebrang agar dia bisa menemui Encek, kekasih hatinya yang sedang bekerja di sebuah perusahaan di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kejauhan terlihat sebuah cerobong asap milik perusahaan tempat Encek bekerja. Dayang segera menaiki <em>tangga behek</em><a href="#_ftn13">[13]</a> setelah dia membayar jasa <em>ketinting</em> tersebut. Dia berlari terburu-buru agar dia bisa menemui lelaki pujaan jiwanya.  Sesampainya di sana, Dayang bertemu dengan seorang pria yang sedang mengemudikan mobil pekerja. Dayang menanyakan tentang keberadaan kekasihnya. Pria itu mengatakan bahwa Encek sedang beristirahat di taman belakang. Dayang segera berlari, meninggalkan pria itu sendiri dalam keterkejutannya atas kedatangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang terus mencari Encek. Dia memusatkan pikirannya untuk mencari orang yang ingin dia temui. Ternyata, dia merasakan sebuah petir menyambarnya di siang hari setelah dia menyaksikan pemandangan yang mengejutkan hatinya. Dia melihat Encek sedang bercanda dengan seorang gadis muda. Dia bercanda seolah gadis itu adalah kekasihnya. Hal ini yang menyebabkan Dayang mendatanginya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Encek”, ujarnya pelan tapi terdengar oleh lawan bicaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dayang”, Encek terkejut dengan kedatangan Dayang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ternyata, kamu…”, ucapan Dayang terputus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sayang, itu siapa sih? Kok dia kenal sama kamu?”, tanya gadis yang sedang bersama Encek itu sambil bergelayut manja di tangan Encek.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang meneteskan air mata dan segera berlari meninggalkan Encek. Encek mencoba mengejarnya tapi sia-sia. Dayang terlalu cepat berlari dan dia kehilangan jejak gadis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pelariaannya, Dayang berpikir bahwa ternyata cinta sejati itu tak pernah ada. Cinta yang selama ini dipujanya, kini telah merobek hatinya. Cinta tak selamanya membawa kebahagian. Hanya membawa sebuah rasa sakit hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia, gadis yang aku amati, tertawa kecil. Dia tersenyum melihat secarik kertas yang sedang dibawanya. Kertas kecil yang berharga baginya. Perlahan, dia menggaruk dan menarik rambutnya. Sambil tertawa, dia mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami. <em>Ini sebuah tanda</em>…, pikirku. Aku tak berani melanjutkannya kembali. Sungguh, aku tak menyangka ternyata berakhir seperti ini. Hatiku tergetar untuk menolongnya. Tapi, aku takut. Jujur, aku tak berani menunjukkan sosokku yang sebenarnya. Aku sangat malu, sebab aku hanyalah sesosok sepatu <em>boot</em> yang telah rusak dan disingkirkan dari kehidupan empunya. Aku sangat tidak berdaya. Namun, semua yang telah aku saksikan adalah sebuah realita yang tak mungkin bisa dihindari lagi. Kenyataan yang sungguh menyakitkan. Dia, gadis yang ternyata bernama Dayang itu, gila di akhir pencarian cintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<hr style="text-align: justify;" size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> mau</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> ketemu</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> kamu</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> tidak</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> katanya</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> dia</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> berbisnis</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> dengan</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> kamu</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> Nama saya adalah Edward Khielson. Saya berasal dari Jerman</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> Omong kosong</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> Perahu kecil menggunakan mesin</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref13">[13]</a> Tangga kecil yang terbuat dari pohon kelapa</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/akhir-pencarian-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riak Sungai Mahakam</title>
		<link>http://studiokata.web.id/riak-sungai-mahakam/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/riak-sungai-mahakam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Mahakam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[“Deg!” Kembali aku berpaling ke belakang, di dekat parit, di depan sekolah Farmasi di gang Bhakti. Serasa aku tak percaya. “Ikam adingnya Juariah kah?” Dengan logat Banjarnya, si empunya wajah menegurku dengan senyum tipisnya.Wajah yang dulu merupakan bahan gossip kakak kelas kami di SMEA Negeri 2 Samarinda. Ternyata Junaidi masih mengenalku dengan baik.  Dua puluh [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Deg</em>!”</p>
<p>Kembali aku berpaling ke belakang, di dekat parit, di depan sekolah Farmasi di gang Bhakti. Serasa aku tak percaya.</p>
<p>“<em>Ikam adingnya Juariah kah</em>?” Dengan logat Banjarnya, si empunya wajah menegurku dengan senyum tipisnya.Wajah yang dulu merupakan bahan gossip kakak kelas kami di SMEA Negeri 2 Samarinda.</p>
<p>Ternyata Junaidi masih mengenalku dengan baik.  Dua puluh lima tahun aku meninggalkan kampung halamanku ini, aku tidak menyangka wajahku masih ada tersimpan di memori mereka. Termasuk di nganteng ini.</p>
<p>“<em>Bujur banar. Ikam jadi pengusaha lah wayah ini</em>?” Aku sedikit bercanda, mengatakan dia seorang pengusaha.Padahal dia hanya menghamparkan barang dagangannya di sebuah lembaran papan <em>plywood </em>tipis.Jualannya seperti gantungan kunci, jepit rambut dan beberapa aksesories kecil.</p>
<p><span id="more-173"></span>Junaidi terlihat malu.Aku melihat wajahnya sedikit memerah.Wajahnya tetap seputih dulu.Mungkin karena aktifitasnya hanya di malam hari, maka garangnya panas matahari Samarinda tidak menyentuhnya. Pekerjaannya hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan itu dilakukan sesuai dengan jadwal pasar malam yang ada di kota ini.</p>
<p>“<em>Bisa aja ikam ini. Urang bejualan kaya’ ini aja pang!</em>?” Senyumnya masih seperti dulu, manis!</p>
<p>“<em>Berapa anak?</em>” Aku memilah-milah barang yang mungkin bisa aku beli. Sambil berjongkok,  aku memegang barangnya dan sekalian mengajak dia ngobrol. Serasa ada perasaan nyaman, karena bertemu dengan kenalan lama.</p>
<p>“<em>Aku kada laku</em>!”</p>
<p>“<em>Ikam ini, masa cowok idola kayak ikam kada laku</em>? <em>Yang bujur aja lah</em>!” Nggak masuk di akalku, kalau sang idola sekolah dulunya, disaat tua begini tidak punya pendamping hidup.</p>
<p>“<em>Berapa lah harganya gantungan kunci hitam ini</em>?” Dengan dialek Banjar, seorang calon pembeli memutus percakapan kami. Dan beberapa orang wanita paruh baya  mulai jongkok di sampingku, dan sepertinya berminat dengan gelang manik-manik yang telah dipegangnya.</p>
<p>Aku pun mundur diri, tidak bisa meneruskan percakapan.  Sambil berdiri, aku hanya melambaikan tangan padanya, sambil mengucapkan :</p>
<p>“<em>Kapan-kapan kita bekesahan lagi lah</em>.”</p>
<p>_____OOO______</p>
<p>“<em>Woi….woiii…</em>”Rasanya seseorang memanggilku.Aku pun berhenti berjalan.Memperbaiki letak jilbabku yang mulai di acak-acak angin sungai.</p>
<p>Seorang wanita melambaikan tangannya di pinggir sungai Mahakam, tepat berseberangan kantor Gubernur. Kebiasaan memanggil seseorang dengan kata, “<em>woiii…woiii</em>,” rupanya masih terpakai saat ini.</p>
<p>Aku ingat sebuah peristiwa bersejarah di kota ini. Saat masih di SMEA, kami para pelajar se-kota Samarinda di suruh turun ke jalan protokol untuk menyambut presiden Suharto beserta rombongan menteri kabinetnya.Maka kami pun dengan semangat yang menyala-nyala menunggu beliau di daerah jalan Bhayangkara, sambil memegang kayu seukuran sapu lidi, yang telah diikat dengan bendera merah putih.</p>
<p>Saat presiden akan melewati jalan, maka didahului dengan polisi dengan mengendarai motor <em>Chip</em>, dan meraungkan sirinenya sambil menyapu para pelajar yang telah turun dari trotoar jalan. Maka seperti sebuah koor, para pelajar itu langsung meneriakkan :</p>
<p>“<em>Woiii….woiii…woiii</em>!!”</p>
<p>“<em>Rindu kampung nih ye</em>….?Wanita yang tadi melambaiku, ternyata telah tepat di hadapanku, langsung memelukku.</p>
<p>“<em>Sania</em>!” Aku pun mengucurkan aliran anak sungai di kedua pipiku.Sahabat yang hampir aku lupakan di perantauan, ternyata mengingatku dengan jelas.Tak merasa ragu sedikit pun, seperti diriku saat ini.</p>
<p>“<em>Katanya kamu di Jakarta</em>?” Aku sedikit takjub dengan penampilannya saat ini.Gayanya bak aktris ibukota.Padahal dulu dia termasuk gadis yang sangat sederhana dalam penampilan.</p>
<p>“<em>Yah… aku lagi jalan-jalan.</em>” Sambil memegang topi di kepalanya yang kelihatan agak miring.Topi dari rajutan rotan, diplitur warna coklat muda, berbentuk bundar.Diberi hiasan bunga kecil berwarna-warni.Cukup cantik di mataku.</p>
<p>“<em>Kamu makmur sekarang ya</em>?” Dulunya Sania termasuk dari keluarga sederhana.Kami berteman pun karena sama-sama punya tingkatan ekonomi yang sederajat.</p>
<p>“<em>Alhamdulillah. Benar katamu dulu. Bahwa hidup ini akan selalu bergulir seperti bola. Dulu kita serba kekurangan, sekarang saatnya kita menikmati apa yang dulu kita impikan</em>.” Matanya menerawang ke sungai.Terlihat banyak tumbuhan enceng gondok yang bergerombol, bergoyang-goyang saat beberapa kapal kayu melewati daerah di dekatnya.</p>
<p>“<em>Kamu ingat Jun?</em>”Aku mulai merangsang memorinya.Sania termasuk gadis yang memendam rasa terhadap pria itu.</p>
<p>“<em>Maksudmu Junaidi</em>?” Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya.Wajahnya bersemu merah. Aku penasaran.</p>
<p>“<em>Kamu masih ada hati padanya</em>?” Aku mulai menggodanya.Padahal umur kami saat ini sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.Usia yang telah memasuki warna kuning untuk sebuah kematian.</p>
<p>“<em>Kenapa sih nanya-nanya masa yang lewat? Apa kamu telah bertemu dengannya? Dia bilang apa sama kamu?</em>” Dia mengedipkan sebelah matanya, sepertinya ingin balas menggodaku.</p>
<p>“<em>Belum sempat nanya sih tadi malam. Dia kan jualan di pasar malam. Kasihan juga ya.Aku sedikit prihatin dengan nasibnya. Dulunya dia idola, tapi saat ini katanya dia belum punya pendamping</em>.” Aku mengingat kembali wajahnya tadi malam.Tapi kelihatanya wajahnya tetap seperti yang dulu.</p>
<p>“<em>Masa sih dia mengatakan begitu</em>?” Sania menutup pembicaraan,  sambil memelukku erat dan mengatakan akan menghubungi aku lewat telpon nantinya. Dia memasuki mobilnya, membungyikan suara klakson sebagai salam pamit kepadaku.</p>
<p>Aku penasaran dengan ucapan Sania terakhir.Kelihatannya dia menyimpan berita tentang Junaidi. Tapi tentang apa ya?</p>
<p>&#8212;&#8211;OOO______</p>
<p><em>Sekali minum air Mahakam</em></p>
<p><em>Terpikat janji hati terpendam</em></p>
<p><em>Akan kembali ke Samarinda sayang</em></p>
<p><em>Itu lah bukti kesaktian Mahakam</em></p>
<p>Penggalan lagu itu seakan-akan saat ini bisa aku benarkan. Karena walau telah berpuluh tahun aku tinggalkan, riak-riak air di pinggiran sungai Mahakam, tepatnya di jalan Gajah Mada yang sering aku tongkrongi bersama  Siah adikku, selalu terbayang. Aku merasakan melodi tanpa kata bila aku berada di atas beton turap pinggiran sungai. Memandang di seberang sungai, terlihat lampu-lampu dari kota Samarinda Seberang, yang serasa menghangati dada di malam hari.</p>
<p>Aku mengurangi volume<em> tape</em> siaran Radio Republik Indonesia yang menyiarkan lagu daerah Kaltim.Menghempaskan badan, mengambil bantal.Terasa nyaman bisa kembali di kamar ini.Dindingnya memang telah banyak di makan rayap.Aku tumbuh dan besar di kamar ini.Dulu aku bersama kakak dan adikku.</p>
<p>“<em>Kak… Adik..aku merindukan kalian</em>.” Setetes aliran bening serasa merayapi kedua pipiku yang kata orang makin tipis.</p>
<p>“<em>Kenapa kamu baru pulang? Kaum kerabat tidak bisa menemukanmu.Kamu seperti hilang ditelan bumi. Tante dan om hampir meyakini, kamu telah tiada.” </em>Masih tergiang di telingaku percakapan siang tadi.</p>
<p>“<em>Aku telah berusaha berlari sejauh-jauhnya dari daerah ini. JIka aku angin, mungkin aku tak akan dapat kembali ke sini. Tapi darahku, hidupku dan kenanganku semua ada disini. Aku ingin lenyapkan semua memoriku di kota ini, tapi ternyata aku salah. Semua lintasan peristiwa, khususnya peristiwa kematian ayah, ibu dan saudaraku tidak bisa aku hapuskan.Rasa bersalah terlalu kuat di hatiku.Telah banyak dzikir yang aku keluarkan dari mulutku. Sujud di malam-malam dingin selama dua puluh tahun ini pun tak mampu membuat damai dadaku in</em>i.” Aku akhirnya terisak, karena harus mengumbar kesedihan yang telah lama aku pendam dengan kuat.</p>
<p>Perasaanku sedikit longgar, setelah pertemuan siang tadi. Karena ternyata mengeluarkan perasaan sakit yang dipendam lama, terhadap orang yang  mengasihi kita, membuat beban sedikit terbagi.</p>
<p>“<em>Ya Allah, cukup lah rasa ini aku tanggungkan. Aku mohon ampunan-Mu.Aku mohon rahmad-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar dadaku yang selalu sesak ini, engkau lapang kan</em>.”</p>
<p>&#8212;&#8211;OOO______</p>
<p>“<em>Siapa sih yang ingin, orang yang dikasihinya mati karena ulahnya?  Atau siapa sih yang mampu mematikan seseorang yang masih ditakdirkan hidup oleh Allah? Coba lihat, beberapa peristiwa bunuh diri yang dilakukan orang-orang di Samarinda, ternyata tidak semuanya bisa  mati kan?”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Seharusnya kamu bisa mendamaikan hatimu sendiri. Karena kecelakaan kapal yang akan berangkat ke Melak itu kan bukan karenamu? Kamu hanya ingin mengajak keluargamu menikmati aliran air sungai di hulu Mahakam</em>. “ Junaidi menceramahi aku panjang kali lebar.</p>
<p>“<em>Bukankah semua peristiwa ada hikmahnya? Coba bayangkan jika peristiwa itu tidak terjadi.Mungkin kamu tidak seperti saat ini. Mungkin saja kamu tidak merasakan kedekatan dengan Allah disujud-sujud  shalatmu. Atau kamu mungkin tidak akan istiqomah dengan shalat lailmu seperti saat ini. Efek dari kesedihanmu maupun perasaan bersalahmu itu, membuatmu menjadi orang yang selalu dekat dengan sang pencipta kehidupan ini. Sayang kan jika kedekatan itu tidak membuatmu bersyukur</em>?” Junaidi menambahkan lagi petuahnya.</p>
<p>Aku tidak menyangka jika dia seorang yang shaleh.Pantas saja wajahnya terlhat damai, tenang dalam berkata-kata.</p>
<p>Aku hanya diam di samping Sania yang kelihatan sibuk dengan HP yang dipegangnya.Sania tidak sedikitpun menanggapi percakapan kami pagi ini. Padahal dia yang menelponku untuk ketemuan  Junaidi di Masjid Baiturahim.</p>
<p>“<em>Tanti, aku juga kehilangan istriku saat akan mengunjungi kerabatnya di Kota Bangun. Kapal yang kami tumpangi bertabrakan dengan sebuah kapal tongkang yang memuat batu bara. Peristiwa naas itu melemparkan tubuhku jauh dari Asma istriku.Sementara Asma tidak bisa berenang. Dia meninggal karena tenggelam di sungai</em>.” Wajah kelam terlihat selintas di wajah Junaidi.Walau pun dia berusaha mengusirnya dengan sebuah senyum.</p>
<p>____OOO__________</p>
<p>Apa yang dikatakan  Junaidi maupun keluargaku adalah sebuah kebenaran. Semakin kita ingin menghapus kenangan pahit, maka akan semakin melekat kuat dalam ingatan. Karena saat kita ingin membuangnya, maka saat itu pula lah ingatan itu kita ikat di di dalam hati.Pikiran yang mengembara terusik dengan suara panggilan Hp di meja.</p>
<p>“<em>Assalamu’alaikum. Ada apa sayang…</em>” Aku membuka suara dengan perlahan.</p>
<p>“<em>Maaf Tanti, aku telah ada di bandara Temindung. Aku mau ke Tarakan sore ini. Salam sama Junaidi ya.</em>” Suara Sania serasa terburu-buru.Hanya dua hari di Samarinda. Dia berkeliling dari satu kota ke kota lain.  Mengurusi bisnisnya yang bermacam-macam.Kehidupan yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya.</p>
<p>“<em>Semoga kita bisa bertemu lagi ya San</em>.” Aku pun menutup HP dengan gamang.</p>
<p>“<em>Apakah aku masih tetap harus di Samarinda beberapa hari lagi? Atau aku kembali ke sebuah desa di Sulawesi untuk  meneruskan hidup? Usiaku tidak muda. Tiga puluh delapan tahun, hampir empat puluh tahun.</em>” Aku membatin sendiri.</p>
<p>Perlahan aku merogoh saku baju gamisku.Ada selembar kertas, yang siang tadi di berikan Sania padaku.Aku belum membacanya.</p>
<p><em>Tanti sayang….</em></p>
<p><em>Jika Junaidi melamarmu jangan lah kamu tolak.Dia seorang yang baik untukmu.Kalian berdua serasi.Walau hanya dua hari, aku mengamati diskusi kalian.Kalian seirama dalam langkah.</em></p>
<p><em>Jika Junaidi mengatakan dia hanya lah seorang penjual pada pasar malam, maka memang itu lah yang tampak. Tapi percaya lah, hidupmu akan tercukupi  dengannya. Dia punya perusahaan batu bara di Sebulu. Kamu harus tahu itu.Aku termasuk mitra usahanya.Dia hanya sesekali datang ke perusahaannya.Karena dia menyukai suasana rakyat kecil di pasar malam.</em></p>
<p><em>Wassalam,</em></p>
<p><em>Sania Salim</em></p>
<p>Aku pun melipat kertas dari Sania. Dan aku sedikit tersenyum dengan surat konyol di kantong bajuku  ini.  Kenapa aku harus memikirkan lamaran Junaidi.Memikirkan untuk menikah saja, belum pernah terlintas.Apakah benar Junaidi mau melamarku?Apalagi Junaidi tidak setitik pun menyatakan hatinya padaku.Ahhh&#8230;Sania itu ada-ada saja.</p>
<p>Aku membuka penutup HP saat deringannya memanggilku.Belum aku membuka mulut, suara diseberang langsung saja berkicau.“<em>Assalamu’alaikum. Saya Alif sepupu Junaidi. Benarkah saya bicara dengan Tanti?</em>”.Suara di Hp ku serasa sedikit bergetar.</p>
<p>“<em>Benar. Saya Tanti. Ada yang bisa saya Bantu?</em>” Sepertinya aku merasakan desiran tak enak merambati hatiku.</p>
<p>“<em>Anu… Anu&#8230; Junaidi di Rumah Sakit Islam.Dia tadi pagi kecelakaan.Kapal speed yang ditumpanginya terbalik. Katanya dia ingin ketemu sama kamu</em>.” Dengan terbata-bata Alif menerangkan maksudnya menelponku.</p>
<p>“<em>Ahhh…</em>.”Sepertinya bumi yang aku pijak merekah dan menelanku hingga aku tak mampu berteriak lagi.</p>
<p>_______OOO______________</p>
<p>Sengata , 30 April 2010</p>
<p>Halimah Taslima</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/riak-sungai-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

