You are currently browsing the archives for the Informasi category.

Nick Vujicic, Sang Motivator dan Inspirator

on Dec3 2009

Oleh :  Tri Wahyuni

Ketika saya dan suami mengikuti acara CPW (Core Person Weekend) di Wonosalam, Jombang pada awal bulan November lalu. Salah satu pembicara yaitu, Ibu Yunita menyampaikan materi tentang sikap. Disela-sela penyampaian materi tersebut, beliau menayangkan video dengan durasi pendek.

Video tersebut menampilkan Nick Vujicic, seorang pria berusia 26 tahun yang menjalankan hidupnya dengan sempurna.

Awal dari video tersebut, hanya terlihat raut wajah Nick Vujicic yang bersemangat sambil memperkenalkan diri dihadapan kamera.

Semula, saya pribadi begitu terpesona melihat wajahnya yang menarik dan tersenyum. Namun, ketika sorot kamera mengarahkan ke seluruh tubuhnya, saya sempat terenyuh melihatnya.

Nick Vujicic, seorang pria yang menginspirasi banyak orang di dunia ini untuk selalu bersikap positif dan terus berani menghadapi kehidupan ini, ternyata tidak memiliki kesempurnaan pada fisik tubuhnya yaitu tidak mempunyai tangan dan kaki sejak lahir.

Sejenak saya tertegun. Nick Vujicic memang orang yang sangat luar biasa. Dalam ketidaksempurnaan fisik yang ia miliki, tapi ia mampu memberi inspirasi dan semangat kepada orang lain yang memiliki fisik lebih sempurna dari nya.

Dalam video tersebut di perlihatkan kehidupan sehari-hari yang dijalani Nick Vujicic.Mulai dia bangun tidur,melakukan aktifitas di kamar mandi,mengenakan pakaian,sampai mengisi kegiatan hari itu. Ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Padahal ia tidak memiliki tangan ataupun kaki seperti orang lain. Namun wajahnya tetap bersemangat.

Di session lain, di tunjukkan beberapa album foto Nick dari bayi sampai dewasa, yang semuanya menggambarkan bahwa Nick benar-benar menghargai kehidupan ini dengan penuh semangat dan antusias.

Namun ada pula session selanjutnya di video tersebut, terlihat Nick pun mengungkapkan bahwa ia pun pernah merasakan saat down,namun hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk terus bangkit dan maju.

Tapi yang paling menyentuh adalah session video pada saat Nick dengan segala kesederhanaan yang ia miliki memberikan motivasi kepada para siswa sekolahan yang hadir untuk bertemu dengannya. Nick dengan penuh kesungguhan memberikan motivasi yang sangat membekas dihati para siswa tersebut.

Nick,mungkin hanya pria biasa dengan kekurangan fisik. Namun dengan keadaannya tersebut, tidak membuat dia minder ataupun putus asa menghadapi dunia ini. Bahkan Nick mampu menunjukkan kepada dunia siapa dirinya sekaligus menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Dunia ini begitu indah untuk diisi hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Sobat,belajar kisah Nick Vujicic ini,permasalahan SIKAPdan PIKIRAN adalah hal yang paling inti dan penting dalam hal ini. SIKAP dan PIKIRAN seorang Nick memang sangat luar biasa. Dari semua keterbatasan fisik yang ia miliki, ia mampu bersikap dan berfikir positif menghadapinya, dan bahkan ia mampu merubahnya sebagai sumber kekuatan dalam hidupnya.
Pertanyaan saya sangatlah sederhana pada diri saya sendiri dan para sobat? Apakah selama ini kita dapat mampu ber SIKAP dan BERFIKIR Positif dalam menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidup kita? Bahkan bila hal yang terjadi tersebut benar-benar merontokkan semangat kita dan membuat kita terpuruk serta merasa bahwa tidak ada jalan untuk menghadapi itu semua selain menyerahkan nasib.

Melihat sosok Nick dengan penuh aura positif yang dimilikinya, membuat kita harus intropeksi diri kembali. Tanpa kita sadari, begitu banyak anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita. Termasuk kesempurnaan fisik yang tidak dimiliki oleh Nick. Tapi mengapa perasaan bersyukur dan sikap positif Nick malah lebih bermakna dari pada kita? Terlebih ia bisa begitu banyak menginspirasi dan membangkitkan semangat orang lain.

Well sobat. Semua memang tergantung dari SIKAP dan PIKIRAN kita masing-masing. Bila kita selalu belajar bersikap dan berfikir positif, maka hal-hal positif pula lah yang akhirnya dapat kita tarik. Sedikit mengambil intisari dari buku The Secret tentang law of atraction atau hukum tarik menarik. Saya jadi ingat satu pesan orangtua terdahulu agar kita selalu bersikap dan berfikir positif. Ya..,karena dengan begitu kita akan menarik hal-hal positif kepada diri kita.

Karena itulah sobat.., tariklah hal-hal yang positif disekitar kita. Buang jauh-jauh hal-hal negatif ke laut aje :)

Nick mengajarkan banyak hal pada saya pribadi dan semua orang tentunya. Tidak hanya ttg sikap dan berfikiran positif saja. Tetapi tentang arti semangat dan perjuangan hidup yang ia di wujudkan melalui kehidupan yang ia jalani dengan penuh rasa syukur dan menginspirasi banyak orang untuk berubah lebih positif dan baik…. :)

VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Catatan Parenting Skill “Mendidik Anak Cerdas dan Berkarakter”, 22 November 2009

on Nov23 2009

oleh : Tri Wahyuni

Mungkin suara kita keprek-keprek ditelinga anak-anak kita,tetapi yakinlah bahwa suara kita merdu di hati mereka…

(By : Bapak Miftahul Jinan- Parenting Skill, Bontang 22 November 2009)

Kata-kata mutiara yang menarik tersebut saya dapatkan ketika mengikuti parenting skill. Tema “Mendidik Anak Cerdas dan Berkarakter” oleh Bapak Ust. Miftahul Jinan,M.Pdl.

Parenting skill yang dilaksanakan di mesjid Baiturahman Bontang ini merupakan salah satu program POMG KB dan TK IT Baiturahman yang saya sadar begitu banyak manfaatnya setelah saya ikuti

Mungkin selama ini kita merasa benar dalam mendidik anak. Namun,hasil yang kita harapkan kepada anak ternyata tidak sesuai. Bahkan kenyataannya, kita sering merasa kerepotan bila menghadapinya. Terlebih bila anak kita beranjak remaja. Yang terjadi malah sebaliknya, ketidak adaan rasa selaras dan seimbang antara apa yang menjadi keinginan anak ataupun orangtua. Sehingga terkadang terjadi pertengkaran antara orangtua dan anak yang seharusnya bisa kita hindari.

Ada beberapa hal yang bisa saya sheringkan dari hasil parenting skill yang saya ikuti.

Menurut pembicara, Bapak Ust. Miftahul Jinan,M.Pdl.ada beberapa hal yang harus kita ketahui tentang anak.

1. Bermain= Belajar
Bagi anak, proses bermain adalah sama dengan proses belajar. Jadi,lkebutuhan akan bermain bagi anak adalah hal normal. Semakin sering anak bermain, berarti anak tersebut aktif. Karena akan banyak manfaat dari bermain sendiri bagi anak baik dari segi permainan fisik,mental maupun permainan umum. Permainan fisik misalnya bermanfaat untuk keseimbangan ataupun koordinasi anak.
Namun tetap dalam proses bermain,kita sebagai orang tua harus bisa memberikan jadwal bermain untuk anak agar dia bisa melakukan kegiatan lainnya.

2. Meniru
Anak adalah peniru yang ulung. Meniru adalah proses kreatifitas.maka biarkan mereka meniru. Hanya tetap kita sebagai orang tua mengarahkannya. Meniru hal yang positif dari idolannya.

Bahkan ust.Miftahul menyarankan kepada orang tua, bila ada kekuatiran anak akan meniru orang lain, seperti menyanyikan lagu yang dinyanyikan idolanya. Maka jadilah kita idola anak kita sendiri, dengan mencoba menyanyikan lagu yang bernilai positif di hadapannya. Sehingga muncul kata-kata mutiara beliau :
“Mungkin suara kita keprek2 ditelinga anak2 kita,tetapi yakinlah bahwa suara kita merdu di hati mereka… ”

3. Rasa Ingin Tahu
Anak normal pasti memiliki rasa ingin tahu. Mereka akan mengeluarkan banyak energi melalui banyaknya pertanyaan. Dan orang tua pun harus punya jawaban akan pertanyaan tersebut karena akan mengasah kecerdasan si anak melalui dialog tanya jawab tersebut.intinya orangtua harus terus belajar ya… :)

4.Konsentrasi
Sering kali kita menyalahkan anak karena sulitnya konsentrasi ketika belajar atau mengerjakan sesuatu. Padahal kapasitas anak dalam mengerjakan sesuatu berbeda-beda. Ada cara yang paling efektif untuk mengetahui konsentrasi anak.yaitu dilihat bagaimana ketika dia sedang bermain.

5. Aturan
Dalam menjalankan aturan kita harus bersikap tegas dan konsisten. Walaupun ini tidak mudah. Adanya reward dan hukuman adalah bagian dari aturan tersebut. Namun perlu diperhatikan, pemberian reward kepada anak sebaiknya dihindari dalam bentuk hadiah.tetapi berikan pujian. Seandainya diberikan hadiah,tetap diberikan syarat agar tidak terkesan sebagai sogokan. Sebaliknya untuk hukuman, berikan secara tegas kepada anak. Namun tidak dilakukan dengan emosi, tapi nada suara yang di rendahkan. Hukuman yang paling baik adalah dengan mengurangi kenyamanan anak.

Disamping itu adalah hal menarik yang disampaikan ust Miftahul Jinan, bahwa ada dua hal yang membentuk faktor sukses anak yaitu kompetensi (15 %) dan Moral (85%).

Moral mendapatkan persentase tinggi dalam membentuk faktor sukses anak. Dimana ada beberapa tahapan moral pada anak :
A. Attachement (usia 0-2 th)
B.Percaya diri (usia 2-4 th)
C.Otoritas (usia 4-8 th)
D. Teman sebaya (8-14 thn)
E. .Moralitas sosial (14-20 thn)
F. Moralitas Objektif (20 – ..)

Sedangkan aspek-aspek pendidikan moral sendiri dibagi 3 yaitu moral knowling,moral felling dan moral action.

Untuk lebih jelas mengenai moral bisa lihat di buku karangan ust. Miftahul Jinan yang berjudul : Aku Wariskan Moral bagi Anakku”. Buku ini cocok sekali buat para pembaca yang punya anak dan ingin anaknya cerdas dan berkarakter. Sukses ya para orang tua… :)

Bontang,22 November 2009 parenting skill

VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Catatan dari Seminar dan Bedah Buku Sastra Terbitan Kantor Bahasa Provinsi Kaltim (3 November 2009)

on Nov15 2009

Oleh : Tri Wahyuni

Ada kisah menarik yang bisa saya sherringkan kepada rekan-rekan mengenai keikutsertaan saya dalam seminar dan bedah buku sastra terbitan kantor bahasa Provinsi Kaltim yang dilaksanakan tanggal 3 November 2009. Acara tersebut berlangsung di Aula Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur Samarinda.

Selain saya sendiri dari Bontang,sebenarnya ada beberapa rekan penulis yang di undang. Yaitu Sunaryo Broto, Untung Erha, Shantined, Parjoto, yang semuanya dari STUDIO KATA, dan terakhir Ibu Muthi dari FLP. Namun dikarenakan ada satu dan lain hal, hanya saya dan pak parjoto dari Bontang yang bisa hadir di samarinda. Saya dapat hadir di acara tersebut karena bersamaan kepulangan saya dari Surabaya karena urusan pekerjaan, sehingga sekalian mencocokan waktu mengikuti acara tersebut.

Seminar tersebut mengambil tema “Peran Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan timur dalam Pengembangan Sastra di Kalimantan Timur”. Disamping itu buku yang di bedah antara lain adalah Biografi Pengarang Kaltim dan Ikhtisar Sastra Kaltim.

Pembicara yang dihadirkan yaitu Drs.Pardi,M.Hum (Kepala Kantor Bahasa), Drs. Hamdani (Dewan Kesenian Daerah), dan Drs. Syaiful Arifin, M.Hum (Universitas Mulawarman)

Acara di buka oleh pementasan teater dari mahasiswa dan mahasiswi jurusan bahasa indonesia Universitas Mulawarman. Pementasan teater tersebut cukup menarik dan enak di tonton. Kemudian dilanjutkan pembacaan puisi oleh sastrawan Bontang, Bapak YB Paryoto yang meruoakan guru dari YPK Bontang.

Peserta seminar dan bedah buku sendiri terdiri dari berbagai kalangan, yaitu sastrawan, guru, pelajar, mahasiswa dan pemerhati sastra di kalimantan Timur.

Pada acara inti yaitu pemaparan materi oleh ketiga pembicara, peserta tampak serius menyimaknya. Bahkan dari sesi tanya jawab, tampak antusias dari peserta. Ini terlihat dari banyaknya peserta mengajukan pertanyaan yang menarik.

Pembicara Bapak Pardi yang juga Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kaltim banyak memaparkan tentang perkembangan sastra di Kalimantan Timur. Beliau bahkan mengungkapkan bahwa terjadi perkembangan cukup signifikan di tiap daerah di Kaltim.

Misalnya munculnya komunitas-komunitas Sastra di masing-masing daerah disertai dengan karya yang di hasilkan. Misalnya JPK (Jaring Penulis Kaltim) yang di motori Korie Layun Rampan, Herman Salam dkk yang telah menghasilkan buku Antologi Cerpen Bingkisan Petir dan Samarinda Kota Tepian.

Bapak Drs. Syaiful Arifin, M.Hum dari Universitas Mulawarman dan Bapak Hamdani dari Dewan Kesenian Daerah memaparkan topik bedah buku tentang Biografi Pengarang Kaltim.

Syaiful Arifin mengamati buku Biografi Pengarang Kaltim sebagai salah satu buku yang cukup lengkap untuk menjelaskan biografi pengarang yang ada di Kaltim dari jaman dulu sampai sekarang. Walaupun ada beberapa pengarang kaltim yang belum termasuk di dalamnya. Bahasa dalam buku Biografi pun disorot beliau karena bahasa nya yang enak di baca, tidak kaku. Hal ini mungkin tim penulis Balai Bahasa sendiri yang masuk angkatan muda.

Di dalam Biografi Pengarang Kaltim tersebut, terdapat nama-nama Penulis dari Bontang, antara lain Abdul Hakim, Sunaryo Broto, YB Paryoto, Untung Erha, Shantined dan Tri Wahyuni. Dimana nama Komunitas Studio Kata pun masuk ke dalam biografi tersebut.

Dalam Buku Ensklopedia Sastra Kaltim, menuliskan segala hal dari abjad A-Z mengenai sastra di Kalimantan Timur. Halaman Pembuka diisi Biogrfi Penulis Bontang, Abdul Hakim. Disamping itu Buku Kumpulan Puisi Aku Ingin Hidup Lebih Lapang Karya Sunaryo Broto beserta biografi beliau juga termasuk di dalamnya.

Ada pula Buku Balada Manusia Industri terbitan Etam Media Press, kemudian Biografi penulis Bontang, Untung Erha, Shantined, YB Paryoto, Tri Wahyuni. Untuk Komunitas di Bontang, terdapat Club Baca 33 dan Teater Timur Bontang.

Dari segi hasil karya penulis Bontang, terdapat buku Kumpulan Cerpen Tidak Cukup Hanya Cinta karya Tri Wahyuni. Antologi Puisi Cahaya Hati karya SDIT As Syamill terbitan FLP . Antologi Prosa Cerita dari Anglasa karya SD YPK 2 terbitan FLP dan sebagainya.

Pembicara Bapak Hamdani, menyoroti peran media lokal di Kaltim untuk sastra. Memang telah dirasakan daya dukung media lokal terutama pemberian ruang sastra di media sangatlah kurang.

Namun beliau mengatakan agar tetap optimis. Apalagi selama ini ia sendiri membuktikan bahwa kegiatannya bersastra termasuk menulis, berteater dsb, ternyata dapat menghasilkan finansial yang baik. Beliau malah mencontohkan, penulis skenario ayat-ayat cinta yang merupakan penulis dari Balikpapan, bisa menghasilkan uang yang banyak dari menulis skenario . Benar-benar luar biasa kan…

Samarinda-Bontang,
November 2009 Seminar dan Bedah Buku 3 Nopember 2009

VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:R_U [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Dari Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan di Samarinda

on Oct16 2009

Undangan ini dibawa oleh teman saya yang penggagas Studio Kata, Tri Wahyuni untuk menghadiri Seminar Nasional Sastra dari Balai Bahasa Kaltim. Dari Bontang yang diundang saya dan Tri Wahyuni. Ini adalah undangan kedua dari instansi yang berhubungan dengan sastra di Kaltim selama saya bermukim di Bontang. Dulu saya pernah mendapat undangan dari Dewan Kesenian Kaltim melalui ketuanya A Rizani Asnawi untuk menghadiri diskusi sastra di Samarinda sekitar tahun 2001 tetapi karena kesibukan sebagai karyawan belum sempat hadir.

Kali ini saya usahakan hadir karena memang saya ingin mengenal para aktivis sastra di Kaltim. Sayapun menulis paper tentang peran media. Paper ini sebenarnya artikel saya yang menyoroti peran media yang saya kirimkan ke Tribun Kaltim tetapi tidak dimuatnya. Saya edit sedikit dan saya kirim saja ke panitia. Tak dinyana ternyata paper tersebut diterima untuk pemakalah pembanding. Ya sudah menikmati saja diskusi sastra di Samarinda.

Seminar sastra bertempat di ruang Serba Guna Kantor Gubernur Kaltim, Jl. Gadjah Mada No1, Samarinda. Awalnya saya prediksi yang hadir hanya kelompok kecil karena biasanya seminar sastra tidak terlalu menarik minat publik. Ternyata yang hadir banyak sekali. Ketua Panitia yang juga ketua Balai Bahasa, Pardi pada saat memberi sambutan menyebut jumlah 470 undangan yang datang. Kalau tidak ditutup maka bisa 1000-an, katanya. Saya datang saat acara akan dimulai dan langsung dituntun panitia duduk di depan. Yang hadir guru, seniman, budayawan dan kebanyakan alumni fakultas sastra.

Acara diawali dengan pentas musikalisasi puisinya Korrie Layun Rampan oleh para siswa SMA 2 Samarinda. Seminar dibuka oleh asisten Gubernur Kaltim, Yansen. Setelah seremonial pidato pembukaan dilakukan pembagian buku yang baru saja diterbitkan Balai Bahasa, yaitu Buku Tata Bahasa Kutai, Kamus Bahasa Bauna-Indonesia, Ikhtisar Sastra Indonesia di Kalimantan Timur dan Biografi Pengarang kalimantan Timur. Saya sebagai salah satu wakil diantara banyak wakil yang menerima bingkisan buku tersebut.

Pembicara pertama Dr. Suroso, dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan gaya akrab dan enaknya mengawali seminar. Judul makalahnya Budaya Baca Tulis dan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah. Dia membuka fakta yang telah dipublikasikan oleh Taufik Ismail, kenapa minat baca rendah, buku sastra tak berkembang. Dia ingin memperbaikinya dari sekolah supaya para murid SMA seperti waktu zaman Belanda, melalap 25-an judul buku novel dalam setahun. Guru bahasa harus mempunyai terobosan supaya sastra disukai murinnya. Guru bahasa harus juga sebagai penulis puisi, cerpen, novel sehingga dapat memberi contoh tentang karya sastra. Bukan sekedar berteori sastra. Pembicara kedua Dr. Surya Silli dari Universitas Mulawarman dengan makalah Penggunaan Bahan Ajar & Kegiatan Otentik dalam Pengajaran Bahasa Asing. Ketua Balai Bahasa, Pardi Suratno mengetengahkan pengalamannya dalam makalah Bengkel Sastra Media Alternatif dalam Mendekatkan Siswa Terhadap Sastra.

Pada sesion kedua, Ahmad Ridhani (Unmul) dengan makalah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Sunaryo Broto (Pupuk Kaltim Bontang) dalam Peran Media dalam Mengembangkan sastra di Kaltim, Yudianti Herawati (Kantor Bahasa Kaltim) dengan makalah Sastra Lokal dan Pengajaran Sastra dan Winarti (Kantor Bahasa Kaltim) dengan makalah Surat Kabar sebagai Sarana Pembelajaran Bahasa.

Kedua session diwarnai dengan acara tanya jawab dengan para peserta. Sekitar jam 16 lebih acara ditutup oleh pejabat Pemprov Kaltim dengan beberapa kata sambutan dan penutup. (sunaryo broto)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 3.0/5 (3 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Peran Media dalam Menumbuhkan Kantong Sastra di Kaltim

on Oct16 2009

Peran Media dalam Menumbuhkan Kantong Sastra di Kaltim*)

Oleh Sunaryo Broto**)

Media mempunyai peranan penting dalam apresiasi karya sastra karena melalui media karya sastra dapat dinikmati publik, bisa diapresiasi publik dan bisa dikritik publik juga. Hal ini akan menimbulkan ”kedinamisan” dalam diskusi karya sastra. Bagaimana hal ini bisa terjadi tanpa adanya media?

Kondisi Media di Kaltim

Setelah bermukim sekitar 17 tahun di Bontang, Kaltim, saya merasakan iklim yang tidak kondusif dalam berkarya sastra karena minimnya dukungan media lokal. Hampir tidak ada –kalau boleh dikatakan tidak ada- rubrik seni dan budaya di koran lokal Kaltim.

Hal yang membuat saya merasa “tidak nyaman” dalam membaca koran daerah adalah sangat terasanya tidak ada kapling untuk lembaran sastra dan budaya secara kontinyu. Untuk pemuatan essay sastra, berita budaya atau cerpen masih kadang ada tetapi tidak kontinyu. Cerpen dicampur dengan artikel lainnya bahkan bercampur dengan iklan.

Sebelumnya saya mengikuti koran daerah di Yogya dan Jawa Tengah yang secara rutin menyediakan kaplingnya untuk lembaran sastra dan budaya karena saya bermukim di daerah tersebut. Hal ini dapat menumbuhkan kantong sastra di daerah. Sudah sangat dikenal di Semarang, Yogya, Tegal dengan dengan Komunitas Sastra Negeri Poci dan daerah sekitarnya dkenal sebagai kantong sastra. Beda sekali dengan di Kaltim yang belum tumbuh kantong sastranya meski saya yakin, potensi ke arah itu sangat besar. Hanya tak ada medianya.

Sewaktu Rendra ke Kaltim dalam pentas Rambateraterata sekitar tahun 2001, saya menulis di Kaltim Post yang berjudul Rendra dan Perkembangan Sastra Kaltim. Saat itu saya menyoroti peran media massa yang tak memberikan ruang pada perkembangan sastra Kaltim, bahkan saya menyontohkan kondisi Jogja dan Jawa Tengah sebagai salah satu kantong sastra daerah bisa berkembang sangat baik berkat dukungan sekian media massanya dengan menyediakan lembar sastra dan budaya.

Sebenarnya perhatian koran daerah terhadap karya sastra sudah ada tetapi belum banyak. Sekedar contoh untuk menyebut koran 2 daerah dengan oplah cukup besar, Kaltim Post (KP) dan Tribun Kaltim (TK). KP pernah memuat liputan pentasnya Rendra Rambateraterata sekitar tahun 2001. Belum lama TK memuat tulisan 4 seri dari Tribun Sastra Community pada tanggal 17-20 Juni 2009. Tulisan berjudul Menumbuhkan dunia sastra dan seni di Kaltim membahas tentang upaya untuk menumbuhkan dunia sastra dan seni di Kaltim.

Sebelumnya sangat jarang ada pembahasan sastra sampai diadakan diskusi dan ditulis berseri di media massa. Memang ada satu dua tulisan artikel tetapi hanya seperti lewat saja. Tanpa tanggapan dari pembaca lain. Hal ini tidak saya jumpai sewaktu ada event kunjungan beberapa penggiat sastra nasional ke Kaltim. Nama-nama sastrawan yang pernah ke Kaltim, diantaranya Emha Ainun Nadjib, Rendra, Hamzad Rangkuti, Taufik Ismail dll sampai penulis yang novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang baru ngetop, Habiburrahman El-Shirazi. Dengan  kedatangan para sastrawan tersebut, di media massa local hampir tak ada jejaknya. Yang ada hanya berita kecil dan sepertinya tidak penting. Tidak ada halaman khusus –misalnya pada hari Minggu- yang berisi lembaran sastra dan kebudayaan seperti media masa nasional dan beberapa media massa local yang peduli. Atau halaman khusus wawancara dengan para sastrawan tersebut.

Emha Ainun Nadjib baca puisi di Samarinda dan Bontang sekitar tahun 1995 dan Rendra mementaskan Rambateraterata di gedung Koperasi Pupuk Kaltim sekitar tahun 2001 saja hampir tak banyak media local yang memuat beritanya. Terlebih resensinya. Teatre Grandrik pernah beberapa kali pentas di Bontang tetapi tak banyak yang tahu. Leo Christy pernah juga pentas di Bontang dengan penonton yang sangat sedikit dan tak ada beritanya di harian lokal. Hamzad Rangkuti pada Mei 2009 ke Bontang dengan diskusi kecil tentang sastra dan menulis, tanggapan media datar-datar saja. Hanya ada berita kecil sekali saja. Jangan berharap ada resensinya atau kolom apresiasinya. Belum berderet pameran lukisan atau pertunjukan seni lainnya. Pertunjukan Teatre Timur, Teatre Yupa dan kiprah Untung Erha sudah banyak dalam aktivitas teatre tetapi tak banyak yang mengapresiasi dengan publikasi. Dengan adanya nama nasional saja kurang dapat tanggapan dari media terlebih kalau pelakunya semuanya local.

Kantong Sastra di Kaltim

Yang dimaksud dengan kantong sastra di sini adalah semacam komunitas yang peduli terhadap karya sastra. Di situ ada kegiatan berkarya, berdiskusi tentang sastra. Sekedar informasi, sebenarnya ada beberapa komunitas pecinta sastra yang sudah tumbuh meski kehidupannya juga belum menggembirakan. Di Samarinda, ada Jaring Penulis Kaltim, Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) dengan salah satu penggiatnya oleh Amien Wangsitalaja, di Bontang, baru tumbuh Studio Kata yang dimotori Abdul Hakim dan Tri Wahyuni dan juga ada Club Buku CB33 dan KKPKT (Korps Karyawan Pupuk Kaltim) di komunitas Pupuk Kaltim dengan anggotanya diantaranya Sunaryo Broto, Ezrinal Azis dan Manik Priandani yang belum lama mengundang cerpenis Hamzad Rangkuti. Di Tenggarong ada Kosa Kata. Tak lupa juga adanya kegiatan Forum Lingkar Pena Kaltim yang dimotori Muthi Masfufah.

Di dunia maya, bila kita mencari di Google maka ada beberapa blog tentang sastra Kaltim, diantaranya Jurnal Kembang Kemuning, Panjipatah, Penyair Nusantara Kaltim, Arungnala miliknya cerpenis Nala Arung.

Sekitar tahun 90-an ada tradisi Sastra Purnama yang mengadakan kegiatan sastra di daerah-daerah setiap tahun yang digalang oleh Hamdani. Dalam salah satu kegiatannya, Bontang pernah menjadi tuan rumah. Acaranya diskusi sastra, baca puisi. Di situ ada nama Hamdani, Mugni Baharuddin dll. Juga nama-nama lain, diantaranya Jumrie Obeng, Tatang Dino Hero, Herman A Salam, Safrudin Pernyata, Rizani Asnawi

Tetapi karena kurangnya dukungan media sehingga kita sulit mencari dan membaca karya-karya mereka. Beberapa penulis Kaltim yang terkenalpun sulit mencari jejaknya. Padahal, jelas akan banyak lagi penulis yang dikenal bila karya-karyanya dimuat di media massa.

Pentingnya Dukungan Media

Kalau masalah seberapa banyak dukungan masyarakat akan pentingnya kegiatan sastra, jelas tak sebanyak dunia intertainment tetapi jelas ada. Di beberapa tempat memang komunitas ini tidak terlalu meriah kegiatannya tetapi tetap eksis karena kecintaan pelakunya. Media sastra tetap masih dibutuhkan dalam menjawab kebutuhan, seperti beberapa contoh. Novel Namaku Taweraut dari Ani Sekarningsih adalah upaya untuk menjelaskan kondisi anthropologi masyarakat Suku Asmat di Papua melalui media sastra. Novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih dari Habiburrahman juga upaya memasyarakatkan kegiatan beragama melalui media sastra. Novel Para Priyayinya Umar Kayam adalah gambaran sejarah tentang kondisi masyarakat pada saat konflik politik sekitar tahun 1965 melalui media sastra. Ada juga istilah jurnalisme sastrawi yang diusung Majalah Tempo. Sastra tetap masih dibutuhkan.

Saya yakin meskipun belum ada ruang di media massa lokal, para penikmat seni ini tetap menulis sastra di file pribadinya. Beberapa penerbitan lokal juga menerbitan beberapa karya yang berbau sastra. Sekedar menyebut contoh, Kumpulan Cerpen Bingkisan Petir, Kumpulan Cerpen Nala Arung Balada saripin dan KD, Kumpulan Puisi Balada Manusia Indistri dll. Coba klik di Google, banyak tulisan yang berbau sastra dipublikasikan melalui blog pribadi maupun komunitas.

Dengan adanya dukungan media ini sangat penting. Karena dukungan ini bisa menumbuhkan iklim bersastra. Katakanlah ada satu ruang lembaran sastra pada edisi Minggu. Biasanya di situ ada cerpen, puisi dan essay tentang sastra. Awalnya bisa saja tak banyak yang mengisi tetapi bila terbit terus dan khalayak mulai tahu kalau ada ruang untuk memuat karya maka akan merangsang mereka untuk menulis. Di Kaltim juga ada nama-nama sastrawan yang sudah terbiasa menulis, antara lain Korrie Layun Rampan. Ada Amien Wangsitalaja, Shantined, Herman A Salam dll yang bisa menjadi penggiat sastra.

Atau dengan cara networking dan bekerja sama dengan para penggiat sastra di komunitas sastra di beberapa daerah di Kaltim pasokan bahan juga bisa diatasi. Coba hitung berapa komunitas atau kantong sastra di Balikpapan, Samarinda, Bontang, Tenggarong, bila satu komunitas sastra berpartisipasi dalam satu edisi sudah bisa mencover edisi awal lembaran sastra dan kebudayaan. Bola ini akan bergulir. Terlebih bila ada apresiasi atau resensi seperti Sutardji Calzoum Bachrie yang mengasuh lembaran sastra di Kompas atau semacam Umbu Randu Paranggi dengan Persada Study Club di Yogya yang telah melahirkan banyak sastrawan.

Mengutip Kompas.com, 28 Agustus 2008 memuat laporan dari Samarinda. Pengelola media cetak di Kalimantan Timur didorong untuk melestarikan budaya sastra melalui rubrik khusus. Sebab, sampai sekarang belum ada yang menyediakan halaman khusus untuk sastra atau bahasa antara lain puisi, cerita pendek, dan fiksi.

“Kami berharap tiap minggu ada rubrik khusus itu,” kata Kepala Kantor Bahasa Kaltim Pardi Suratno di Samarinda. Bahkan lembaganya bersedia memberi honor bagi penulis yang karyanya termuat di media cetak. Menurutnya, rubrik sastra sangat berguna untuk memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia. Di samping itu juga memacu munculnya generasi baru penulis dan mendiskusikan persoalan berbahasa yang baik dan benar.

Kerja Sama Antar Institusi atau penerbitan sendiri

Kerja sama antar institusi? Why not? Antar institusi yang peduli pada sastra sebaiknya bekerja sama. Bisa Balai Bahasa Kaltim, komunitas sastra dan media. Masing-masing mengambil perannya sendiri.  Penerbitan atau media massa menyediakan halamannya untuk lebar sastra dan budaya, komunitas sastra mengisi halaman yang telah disediakan dan Kantor Bahasa bisa menyediakan support fasilitas dan dana –kalau ada. Dengan kerja sama antara institusi ini kesinambungan dan karya sastra dapat lebih diapresiasi masyarakat luas. Bila sudah rutin ada di media dan masyarakatnya bisa menikmati maka akan merangsang generasi berikutnya untuk melahirkan karya sastra.

Dengan dukungan media massa local dapat memungkinkan apresiasi sastra lebih luas. Bagi Koran daerah, tinggal membuka lembaran sastra budaya dan mempersilakan pembaca untuk berpartisipasi. Syukur menyediakan apresiasinya.

Atau menerbitkan karya sastra dalam bentuk buku. Tetapi hal ini harus ditunjang dengan distribusi yang baik supaya dibaca publik. Penerbitan buku bila tak ada yang membaca juga tak terlalu berarti. Hanya menjadi tempat dokumentasi. Bila ada dukungan media maka penerbitan buku bisa dipublikasikan dalam resensi buku melalui media.

Semoga upaya menumbuhkan kantong sastra di Kaltim dapat cepat terwujud dengan dukungan media.

*) Disampaikan dalam Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan 2009, Samarinda 6 Agustus 2009

**) Penulis adalah karyawan Pupuk Kaltim, penikmat sastra, aktif di komunitas Club Buku CB33 dan Studio Kata, Bontang. Alamat rumah Jl. Gladiol No6 PC VI Komplek Pupuk Kaltim, Bontang. Email: sbroto@pupukkaltim.com, HP 0811551451, situs: sbroto.multiply.com

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Pantun

on Oct15 2009

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun “versi pendek” (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah “versi panjang” (enam baris atau lebih).

Peran pantun

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Berikut contoh pantun (sebetulnya adalah karmina) dari kalangan pemuda:

Mawar merah tumbuh di dinding
Jangan marah, just kidding

Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur Pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.

Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun ini:

Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh

Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

sumber:  Wikipedia bahasa Indonesia

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Mengenalkan Kecerdasan Finansial Secara Dini Kepada Anak*)

on Sep9 2009

Oleh : Tri Wahyuni

Suatu sore menjelang berbuka puasa, seorang ibu mengajak anak sulungnya untuk mencari makanan untuk berbuka puasa di rumah mereka. Tentu saja hal ini sangat menyenangkan bagi si anak, karena di pikirannya telah terbayang berbagai macam kue dan makanan yang telah ia rencanakan untuk di santap ketika berbuka. Dan benar saja, saat telah sampai ke pusat pasar ramadhan, si anak pun dengan semangatnya menunjuk berbagai jualan kepada sang ibu dengan tujuan agar sang ibu membelikannya.

Awalnya si Ibu menuruti saja kemauan si anak. Namun, ketika si Ibu melihat begitu banyak hal yang ingin di beli si anak, tentu saja si ibu langsung melarangnya. Singkat cerita terjadilah kisah dramatis, dimana si anak merajuk dan menangis karena keinginannya tidak di penuhi. Apa yang di lakukan si Ibu? Akhirnya si Ibu mengalah untuk menuruti kemauannya karena malu dan tidak tahan mendengar rengekan si anak.

Cerita di atas bukan hanya sebuah dongeng, namun sering terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, dan bahkan mungkin kita pun pernah mengalami hal seperti itu. Kegiatan berbelanja kebutuhan sehari-hari ke supermarket, mall, toko ataupun ke pasar tradisional bisa mendadak menjadi ricuh karena ulah si anak. Atau bahkan rencana belanja yang telah di catat sebelumnya, tiba-tiba menjadi bertambah banyak dengan barang-barang yang sebenarnya tidak di perlukan pemakaiannya. Sebenarnya hal ini bisa kita atasi bersama, karena bukan hal yang sulit untuk mengenalkan tentang uang dan bagaimana pemanfaatannya secara ekonomis kepada anak.

Bila saat ini kita lebih sering mendengar tentang kecerdasan emosi, kecerdasan spritual, tentunya kita tidak begitu asing dengan namanya kecerdasan finansial. Menurut buku Rich Kids, karangan Ahmad Gozali, dengan belajar finansial secara dini, di harapkan si anak akan mampu mengetahui konsep kebijakan finansial yang benar semenjak dini. Mereka di ajak untuk memiliki konsep berpikir yang benar dan melakukan pembiasaan secara konsisten dan membuat mereka terbiasa menabung.

Sebenarnya ada beberapa faktor yang membuat pengenalan kecerdasan finansial kepada anak belum mengena ke masyarakat luas. pertama, pola didik orang tua mengenai keuangan. Seperti yang kita tahu, kebanyakan dari orang tua tidak punya pengalaman mengenal keuangan ketika mereka kecil dahulu. Sehingga hal itu lantas terbawa ketika mendidik anak-anak mereka. Mengenalkan keuangan secara sederhana pun jarang di lakukan, karena sebagian menganggap anak kecil masih terlalu tabu mengenal uang. kedua, pemahaman anak mengenai keuangan jelas berbeda dengan orang dewasa. Karena mereka dalam tahap berkembang dan belajar, sehingga perlu di kenalkan dengan pendekatan bahkan dengan cara yang khusus.

Tentunya kita akan berfikir bagaimana memulai mengenalkan kecerdasan finansial secara dini kepada anak. Sebenarnya alangkah baiknya bila kita memulai mengenalkannya pada saat usia dini atau Golden Age. Pada usia ini otak anak mengalami proses pembentukan tercepat, sehingga pemahaman tentang finansial yang dikenalkan akan terbawa hingga dewasa karena telah tertanam di otak alam sadar mereka.

Pertama yang perlu di lakukan adalah mengenalkan fungsi uang kepada anak secara sedehana.Anak perlu di ajarkan fungsi uang sebagai alat tukar.

Hal ini bisa di jelaskan dengan praktek langsung, misalnya anak bisa di ajarkan mengenai berbagai macam bentuk uang, baik recehan ataupun kertas. serta bentuk nominalnya, misalnya saja ratusan dan ribuan. Praktek sederhana yang bisa di lakukan adalah mengajak si kecil berbelanja di warung atau toko. Kita pun dapat mengajak anak bermain jual beli sendiri dengan mengunakan barang-barang yang ada. Dari sini, anak-anak akan mengenal dengan jelas bagaimana fungsi uang sebagai alat tukar.

Kedua, tahapan berikut ini adalah mengajarkan anak seputar pemanfaatan uang. tahapan ini memang agak rumit, karena di tahap ini anak mengalami banyak keinginan dan kebutuhan di bandingkan dengan uang yang mereka miliki. sehingga kita perlu melatih mereka untuk menunda keinginan yang tidak begitu penting mengingat dana yang di miliki terbatas. Kita dapat melatih mereka untuk memilih yang lebih prioritas untuk di beli. Pemberian uang saku untuk anak sekolah adalah salah satu cara anak mengenal pemanfaatan uang. Dalam hal ini anak akan belajar bertanggung jawab untuk membelanjakan uang sakunya. secara tidak langsung mereka akan belajar mengelola keuangan uang sakunya. Mereka akan merasa lebih percaya diri karena di berikan kebebasan mengatur uang sakunya.

Di samping itu, kita pun dapat meminimalisir keinginan berbelanja si anak bila kita mengajak mereka berbelanja di toko ataupun swalayan. Antara lain dengan menjelaskan rencana perjalanan berbelanja bersama. Hal ini bisa di lakukan dengan menjelaskan tujuan perjalanan berbelanja, apakah berbelanja untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga saja ataukah untuk alasan lain. Kita dapat menjelaskan pilihan tempat yang akan dituju dan waktu kapan di laksanakan. Dan yang paling penting adalah buat perjanjian di awal dengan si anak mengenai barang-barang apa saja yang akan di beli.

Disamping itu, apabila memang ada dana lebih, cukup bijak bila kita memberikan hak anak untuk berbelanja barang kebutuhannya sesuai kesepakatan awal. Kita tidak perlu ragu memberikan hadiah kepada anak atas kerjasamanya menemani kita berbelanja, misalnya dengan mentraktirnya makan atau membelikan sesuatu untuknya.

Yang terpenting dalam mengenalkan kecerdasan finansial kepada anak adalah kembali kepada orang tua. Orang tua sebagai panutan dari si anak untuk mengelola keuangannya. Apabila sebagai orang tua, kita mampu mengelola keuangan secara benar dan baik, secara otomatis si anak akan mencontoh apa yang dilakukan kita lakukan. Secara dini pun, kita dapat mengajarkan anak untuk menabung dan bersedekah. Fungsinya agar si anak tidak hanya belajar mengelola keuangan, tetapi juga dapat bersyukur kepada Tuhan atas apa yang di milikinya dan dapat membantu orang lain dengan cara bersedekah. Sehingga kita tidak hanya mengajarkan bagaimana anak mengelola keuangan namun mengajarkan bagaimana mereka berbagai kepada orang lain yang membutuhkan. Amin….

*)Penulis : Tri Wahyuni

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

Hamzad Rangkuti Meresmikan Studio Kata Bontang

on May27 2009

(Tribun Kaltim, 4 Mei 2009)

BONTANG – Selain menyerahkan bantuan buku pelajaran sebanyak 8.700 eksemplar dengan nilai Rp 100 juta kepada Dinas Pendidikan Kota Bontang, Korps Karyawan Pupuk Kaltim (KKPKT) mendatangkan sastrawan senior, Hamsad Rangkuti dalam Sarasehan Penulisan dan Penerbitan dengan tema Ayo Menulis di Gedung Koperasi Karyawan PKT, Sabtu (2/5).

Selain Hamzad, hadir Ima Rahmawati, dari PR Company Eventa Prima Communication, yang juga adalah seorang editor dan mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Politik.
Menurut Ketua Panitia, Manik Priandani, kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi warga Bontang, baik itu pelajar, guru, maupun masyarakat umum untuk menulis. “Melalui kegiatan ini kami harapkan yang suka menulis jadi makin semangat”, katanya.

Manik berharap kegiatan itu bisa memberi wawasan penerbitan dan pemasaran buku, memunculkan penulis lokal yang kreatif dan berkualitas serta memacu munculnya penerbit lokal berskala regional atau bahkan nasional.

Salah satu pemrakarsa kegiatan, Ezrinal Azis, menyebutkan bahwa di Bontang cukup banyak kaum intelektual yang perlu dimotivasi dan difasilitasi agar berkembang. “Masyarakat Bontang sangat beragam, dan tingkat pendidikan juga sudah cukup baik. Saya pernah berbincang dengan Emha Ainun Najib, beliau mengatakan bahwa Bontang itu unik karena keragaman budayanya, sehingga sangat potensial untuk memunculkan industri-industri kreatif”, ujar Ezrinal yang juga penulis ini.

Hamsad Rangkuti menyempatkan diri bertandang di Studio Kata (SK) Bontang, komunitas penulis di Kota Bontang. Sekitar 50 penulis senior dan pemula bersama sama duduk lesehan di jalan A Yani 28 Bontang itu, Minggu (3/5). Komunitas yang baru dua minggu dibentuk ini, sekaligus diresmikan oleh Hamsad Rangkuti.

Di sela sela perbincangan, seorang cerpenis dan sastrawan nasional itu memberi motivasi bagi para penulis untuk selalu berimajinasi ketika menulis. “Jangan seperti bikin berita di koran ketika menulis cerpen, artinya buatlah sisi pandang yang imajinatif saat menuangkan ide, walaupun ide itu sebenarnya berasal dari kejadian nyata,” katanya kepada para peserta diskusi.

Selain itu, muatan lokal dari kosa kata daerah setempat, bisa menjadi semacam daya tarik bagi para pembaca. Ungkapan “nah” dan ” pa’lek” yang menjadi ciri khas daerah Kaltim bisa saja dimasukkan dalam cerita, untuk memperkaya sekaligus mengentalkan cerita itu sendiri.

Sebagai langkah awal, penulis Sunaryo Broto merelakan koleksi buku sastranya untuk bisa dipinjamkan kepada para anggota SK sebagai bahan referensi untuk menulis. Tentu dengan syarat jangan sampai hilang atau rusak, karena sebagian besar koleksinya adalah buku buku lama yang telah susah di cari.

Dalam diskusi itu Amien Wangsitalaja memberi tips agar penulis mengenali ciri khas masing masing media massa, ketika mengirimkan karya, supaya lekas dimuat.

Sedang Untung Erha menyayangkan tidak adanya dukungan media massa lokal di Kaltim yang memuat halaman atau rubrik budaya, khususnya sastra seperti yang ada di Pulau Jawa. “Para penulis Kaltim sementara ini hanya bisa mengandalkan blog dan millis sastra untuk publikasi karya. Padahal tidak semua pecinta sastra tidak fasih mengoperasikan perangkat tersebut,” katanya. (*/asi)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark
« Previous

Menu

Search

FlickR

flickrRSS probably needs to be setup





























widgeo.net

free counters


Adsense Indonesia


Produk SMART Telecom
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.