Buku Puisi Norak Nala Arung yang Puitis – oleh Sunaryo Broto
on Apr17 2012Judul: Efpei I’m in Love,
Penerbit Rindulaku,
Cetakan I April 2011.
159 Halaman
Info itu begitu mendadak di antara waktu kerja. Ada sms dari Mbak Shantined bahwa ada teman penulis Nala Arung dari Tenggarong mau launching buku puisinya terbaru di Bontang. Dia sekalian menjadi juri pada monolog teater di Bontang. Apa yang dapat saya bantu? “Minimal datang di acara, Jum’at malam di Pujasera BSD. Acara santai, dialog dan ngopi-ngopi. Kalau bisa memberi ulasan,” begitu infonya. Oke, saya akan datang. Puisinya katanya norak dan judulnya Efpei I’m in Love. Saya pun dikirim covernya via facebook. Covernya memang norak untuk sebuah buku puisi. Saya pikir, ini seperti puisi humor yang pernah melanda Indonesia tahun 70-an di majalah Aktuil.
Saya bertemu Nala Arung pertama waktu acara KKPKT dan Studio Kata yang mendatangkan Hamsad Rangkuti di Gedung Koperasi PKT, Bontang sekitar tahun 2009. Sebelumnya saya baca publikasi di Kaltim Post tentang launching buku cerpen pertamanya, Balada Saripin dan KD dengan mendatangkan Butet Kertarejasa. Memang di Kaltim termasuk acara langka launching buku dengan liputan besar-besaran dan dimuat beberapa hari di Kaltim Post. Saat itu Nala Arung masih anggota DPRD Kutai Kertanegara. Saya penasaran saja bukunya seperti apa. Belakangan, saya baca melalui Kaltim Post ada masalah di Tenggarong dan Nala Arung termasuk yang dimintai keterangan. Di situ juga dijelaskan nama aslinya dan Nala Arung adalah nama pena.
Ketemulah saya dengan Nala Arung di BSD bersama event organizernya Mas Untung Erha dan istrinya, Shantined pada Jum’at malam, 8 April 2011. Lalu ngomong-ngomong sebentar dan dia tanya buku saya, kumpulan cerpen, Pertemuan di Kebun Raya. Wah, saya hanya bawa buku Kumpulan Puisi, Tentang Waktu. Bagaimana? Barter saja. Maka barteran buku dan saling tanda tangan sebagai penulis he..he.. Lucu juga. Lalu pengunjung pada datang di antaranya ada guru SMA dan beberapa anggota teater Kolong Langit asuhan Untung Erha. Ada teman penulis Tri Wahyuni, Manik, Yanto Kribo, Agus dll. Mulailah acara launching buku dengan beberapa ulasan, diskusi, baca puisi, komentar dll.
Melihat cover buku memang nampak bukan buku kumpulan puisi. Cover bergambar kartun dengan visual seorang gadis membawa mike dan rumahnya porak poranda dengan di sebelahnya lelaki berpeci putih membawa pentungan. Sepertinya ilustrasi aktivitas Efpei waktu “mengamankan” tempat karaoke sesuai dengan judulnya. Cover kartun seperti buku kartun Jepang yang digemari anak-anak. Judulnya juga merupakan plesetan dari novel remaja yang juga difilmkan, Eifel I’m in love. Judul diambil dari puisi yang berupa kisah anggota Efpei yang jatuh cinta pada penyanyi karaoke tetapi terhalang tembok Efpei. Ditulisi Kitab Puisi Norak. Memang penuh humor. Pengantarnya dari penulis blog terkenal dari Bandung yang dikenal dengan bahasa yang lain, Pidi Baiq yang menegaskan bahwa ini memang kumpulan karya slengekan.
Bicara puisi humor, seperti yang dimuat dalam artikel Majalah Sastra Horison No 8 Agustus 1979 berjudul Humor dalam puisi Indonesia popular tulisan Sudjarwo, bahwa puisi humor sudah berlangsung lama. Puisi tersebut dimuat dalam majalah hiburan seperti Aktuil, Top, Stop, Yunior dll sekitar tahun 1972-an. Puisi humor istilahnya pun berganti-ganti yaitu puisi mbeling, puisi lugu, puisi awam. Puisi mbeling lebih terkenal dan menjadi luas pengertiannya mencakup sajak-sajak pop yang lain. Penyair yang menulis puisi mbeling biasanya anak-anak muda yang mengejek, berkelakar, mengolok-olok, menyindir “kemapanan” para penyair senior macam Rendra, Goenawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono. Penyair puisi mbeling saat itu diantaranya Remy Silado, Yudhistira, Toto Prawoto, Hardoyo Rajiyowiryono dll. Themanya beragam dari ejekan politik, keseharian, percintaan sampai menjurus ke arah selonjor (seloroh jorok).
Tetapi apa iya buku puisi ini norak abis? Apa semua puisinya norak? Memang mendominasi tetapi tidak semua di antara 115 puisi. Ada puisi serius dengan bahasa yang puitis model Sapardi Joko Damono. Judulnya Siapa Bisa Melawan Rindu. Ada puisi yang sangat puitis dengan bumbu romantis, Kau adalah Engkau. Ada puisi yang enak dibaca, Mengenang Pagi di Jelang Senja. Puisi Berhentilah menyusun huruf-huruf juga enak dibaca. Ada puisi singkat tapi enak, Baju Baru. Ada puisi Persaksian. Ada puisi permainan kata model Sutardji Calzoum Bachri seperti puisi Tanah air mata, Pekerjaan Rumah yang Tak Selesai. Puisi yang dipakai judul buku meski judulnya plesetan isinya tak terlalu norak. Meski isinya humor tetapi kaidah puisi masih ada.
Simak salah satunya, Kukirimkan Sepasang Mataku. Kukirimkan sepasang mataku/agar bisa kau pertemukan dengan bibirmu/ Hanya itulah satu satunya pintu/ hingga bisa kupandang tembus hatimu.Ada lagi, Puisi Kau adalah Engkau. Kau seperti angin, sayang/ suaramu dayu/kau seperti pagi, sayang/ lagumu merdu/ kau ibarat daun, sayang/ gerakmu rayu/ kau laksana burung, sayang/ gelakmu lugu/ Kau adalah engkau, sayang/ Tetaplah begitu. Bukan puisi norak bukan?
Ada puisi setengah serius, Kukirimkan Sepasang Mataku. Ada puisi yang puitis tetapi isinya norak, Syair Bulan Merah. Atau puisi campuran keduanya, Jika kamu tak rela. Ada puisi Ini Medan Bung. Medanlah Ini yang ada kata-kata Alamakjang, mengingatkan saya pada deklamator dan tokoh teater Jose Rizal Manua, pemilik Toko Buku di TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta. Selebihnya puisi campuran antara serius, humor, bercanda, gila, nyerempet jorok, jorok, gak jelas sampai norak. Silakan hitung prosentasenya. Ini memang gado-gado puisinya. Tidak jelas alirannya. Tergantung mood penulisnya.
Sebenarnya kalau mau serius, penulis bisa konsisten dengan puisi serius yang puitis bahasanya. Yang enak mengalir dengan sedikit kritis menyoroti kondisi faktual. Tetapi ini memang butuh kesabaran. Butuh stamina. Kalau tidak sabar, ya praktis saja, keluar puisi yang kadang gak jelas. Ini memang godaan. Toh sah-sah saja sebagai puisi. Terserah maunya penulis. Saya hanya menyayangkan saja. Atau ada maksud lain, untuk membuat cair suasana. Atau ingin mengajak orang lain dengan menunjukkan cara mudah membuat puisi. Atau memang mau main-main saja. Entahlah.
Tak usah serius membaca resensi ini. Ini juga saya tulis sepontan saja he..he.. Seperti sajak penyair kawakan, Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran dengan satu kalimat saja, Bulan di atas kuburan. Puisi tersebut dibuat spontan saat malam lebaran Sitor berkunjung ke rumah novelis Pramudya Ananta Toer dan Pram tak ada di rumah. Sitor kecewa lalu pulang jalan kaki melewati kuburan dan melihat bulan. Puisi tersebut menjadi puisi “yang paling banyak diperdebatkan” saat itu karena yang menulis seorang penyair kuat semacam Sitor.
Selamat atas penerbitan buku ini dan semoga bisa menambah ragam khasanah sastra di Kalimantan Timur. Tentunya saya menunggu karya berikutnya yang lebih jelas alirannya he..he.. (Bontang, 9 April 2011, Sunaryo Broto)




