KATA HATI

on Jun3 2010

“Anak baru dari Surabaya ya?”, begitu pertanyaan yang diajukan sewaktu aku makan semeja dengannya di kantin kantor di hari pertama aku berstatus sebagai karyawan baru. Dia dan teman-temannya yang semeja denganku adalah karyawan senior enam bulan di atasku dan lebih duluan diterima di Perusahaan ini . Aku mengangguk. Sejenak terlihat pria  jangkung  itu akan menanyakan lagi sesuatu kepadaku, tetapi diurungkannya. Langsung saja ekspresi serius dan tanpa senyum terpasang di mukanya yang sebenarnya tergolong manis bila lebih banyak senyum tersungging di bibirnya, dan juga bila tarikan mata tegangnya dikendurkan. Walau seingatku, tadi sekilas senyuman dan tatapan geli ada di raut mukanya saat menanyakan asalku. Setelah itu, tidak ada lagi kata-kata, kalimat, ataupun keramahan di wajahnya. Tidak ada. Dia melanjutkan makannya dan berkonsentrasi ke makanan yang ada di piring, dan segera menyelesaikan makan siang tersebut, lalu beranjak pergi. Aku terbengong…

Dan sikap itu berlanjut hingga belasan tahun kemudian, dan kuanggap menjadi pola dari karakter manusia yang memang berbeda-beda. Saat kami mendapat tugas, dinas, ataupun pekerjaan berbarengan-pun,  Tidak ada kalimat panjang terucap atau komunikasi yang wajar. Hanyalah kata iya…ayo…dan tidak… atau sikap ketus yang mengagetkan. Walau ada saatnya dia seakan protektif dan marah saat ada orang usil yang menggodaku di lobby sebuah Hotel, saat itu kami dinas bersama dan menginap di Hotel yang sama.

Mungkinkah Allah memberikan perasaan benci kepada seseorang pada saat pandangan pertama, kebalikan dari rasa suka di pandangan pertama. Tadinya aku tidak mempercayainya…namun setelah itu aku percaya…karena hal itu memang terjadi…dan mengenaiku. Walau aku selalu sering mengingat-ingat, kesalahan apa yang pernah aku perbuat kepadanya? Atau memang sikap dan penampilanku sangat menjengkelkan dan memuakkan? Bahkan aku pernah ingin sekali menanyakan soal ini pada orang-orang yang ada di sekitarku tentang hal ini, tanpa sebab musabab ada seseorang yang terlihat begitu amat sangat membenci dan jengkel kepada seseorang. Sempat bingung dan tak percaya namun aku hanya anak baru yang rasanya belum punya kenalan siapa-siapa. Namun akhirnya aku tak peduli, karena aku harus menjalani hidup ini. Dunia masih indah bagiku. Walau ada satu orang atau lebih yang tidak suka dan muak padaku, namun teman-teman yang lain bersikap baik padaku, setidak-tidaknya mereka tidak sesinis dan seketus dia. Dan aku berusaha tidak peduli….dan akhirnya benar-benar tak peduli.

* * *

”Kalian terlihat tidak pernah saling berbicara… kenapa?”, begitu pertanyaan yang diajukan Iwan sahabatnya kepadaku. ”Memang kami tidak saling kenal, dan dia terlihat sangat tidak suka padaku”, jawabku. ”Memangnya kenapa sih?”, tanya Iwan ingin tahu. ”Namanya nggak suka ya nggak suka…dan perlu Iwan tahu…aku nggak peduli dan nggak jadi masalah buatku…dia mau ramah atau tidak…aku nggak pathek-en”, jawabku sekenanya. ”Aneh…aku khawatir ada sebab-sebab tertentu”, kata Iwan sok tahu.

* * *

”Ada puisi yang bagus lho Bu di blog POETRYKOE. Tulisannya bagus dan keren”, kata anak sulungku, Dara. ”Sebagus apa?”, tanyaku. ”Coba lihat, ini Bu”, kata anakku sambil menunjuk ke layar yang telah di bukanya. ”Puisinya dalam dan menyentuh. Kata-katanya indah..dan seakan Penulisnya menyusun bait demi bait dengan penuh perasaan”, kata anakku yang memang suka ber-puisi ria. ”Silahkan saja Ibu baca dulu, Dara mau menggoreng nugget untuk camilan…laper nih!”. Membaca karya sastra yang unik menjadi salah satu kegemaranku, baik itu berupa buku maupun hasil karya yang sering direkomedasikan Dara Putriku dalam blog. Putriku ini pula yang mengajariku cara membuat blog ataupun hanya membuka-buka blog orang lain.

* * *

”Pekerjaan ini harus segera kita diselesaikan, dan batas akhir Minggu ini. Saya harap dukungan penuh teman-teman. Kita lakukan lembur kalau memang diperlukan”, begitu kata si Mister Perfectionis yang sangat sulit tersenyum itu, namun waktu itu sambil tersenyum kepadaku. Hari-hari berikutnya keramahan itu berlanjut. Aku terbengong…..

Perubahan itu terasa mengejutkan. Bahkan sewaktu kami duduk satu meja, dia sempat mengajak ngobrol. ”Dara itu putri-nya ya”, tanyanya kepadaku. ”Lho kok tahu nama anak saya?”. ”Iya…saya tahu..dia mengomentari tulisan saya, dan dia menyebutkan nama Ibunya yang sangat saya kenal di-blog-nya”, katanya dengan santai. ”Tulisan di mana?”, tanya saya. ”Tulisan di blog”, jawabnya pendek. ”Komentar Dara sangat bagus…dia suka menulis ya?”, tanyanya lagi. ”Iya…dari kecil suka menulis puisi”. ”Oh iya…blog anda yang mana?”, tanya saya. ”POETRYKOE…”, jawabnya. ”Belum pernah membuka blog saya?”, tanyanya lagi. ”Oh…kemarin saya sempat melihat, karena Dara yang memperlihatkan ke saya,  akhirnya saya membaca puisi tulisan anda…bagus menurut saya”, jawab saya sambil mengingat-ingat isi puisi yang telah saya baca kemarin. Saya tetap menjaga sikap formil dengan ber-”anda-anda” seperti belasan tahun silam. ”Suka menulis juga seperti Dara?”, tanyanya. ”Siapa?”, tanya saya bingung. ”Siwi…”, jawabnya sambil melihatku dengan sinar mata geli. Nama saya disebut, hanya dengan kata : Siwi, tanpa Bu ataupun kata ganti Anda. ”Oh..suka juga…walau saya lebih suka membaca saja”, jawabku cepat dan terheran-heran. Aku tidak biasa dipanggil nama langsung seperti itu…Siwi…kalau bukan teman-teman akrab atau sahabatku yang memanggilku. Aku jengah. Dia sok akrab kali ini dan dia bukan teman akrabku. Bahkan mungkin…orang yang paling membenciku…atau yang mengganggap aku musuhnya di dunia ini. Namun saat ini memang tidak lucu lagi menganggap dia sebagai musuh, karena aku merasa waktu terus berjalan dan kami semua telah amat sangat dewasa, dan tidak ada sebab sehingga kami harus menjadi seteru. Bagiku bermusuhan adalah sikap kekanak-kanakan.

Menjelang usai pertemuan…dia mendekatiku sambil berkata : ”Coba saja kalau ada waktu buka-buka blog saya, di sana akan Siwi temukan banyak hal yang mungkin berarti bagi Siwi….”.

* * *

Kubaca pelan-pelan bait demi bait puisi itu, walau kemarin beberapa telah sempat aku baca sambil lalu :

Rinduku

…………..

Rinduku sangat dalam untukmu

Menumpuk belasan tahun

Serasa ngilu

Gerakmu,

Tawamu,

Selalu terbayang

Di angan maupun mimpiku

…………

Kutak tahu

………….

Masih juga kau tak tahu

Kutak tahu kala itu kau masih sendiri

Ketegaranmu menciutkanku

Keangkuhan dan rasa takut itu

bersemayam di diri

Kumenyesal melewatkan kesempatan itu

Untuk menyapamu

Mengenalmu

Kumenyesal

………….

Kau

………

Matamu yang polos

Menatapku dengan rasa ketakutan

Kebingunganmu menggemaskanku

Tetapi aku tak bisa berkata-kata

Kelu….

Tekadku

…………

Tekadku harus bulat ’tuk katakan ini

Sebelum waktu itu terlewat

Sebelum keberanian itu kembali

Masuk ke dalam ruang keangkuhan

Ruang yang menyesakkan…

…………

* * *

Semingguan ini aku jadi bersaing dengan Dara, karena ingin melihat tulisan-tulisan yang semakin rajin ”terbit”. Bertubi-tubi puisi-puisi tertulis di blog itu. Membuatku ternganga dan mengharuskan aku bersikap tenang, walau dada ini terasa panas dan berdentam-dentam. Siapa yang dimaksudkannya. Siapa? Seberapa besar energi cinta yang mendorong seorang Insinyur Sipil yang terlihat serius menjadi begitu puitis ?. Puisi-puisi itu ditulisnya sejak lima tahun silam. Dengan rutinitas yang sangat mengagumkan. Setidak-tidaknya dua puisi setiap bulan. Dan hampir semua sanjungan-sanjungan dan perasaannya yang ditujukan ke seorang wanita, nasib malang yang selalu menghampiri, dan kesendirian yang sangat mencekam dan sepi. Sinyal dalam diriku mengatakan….hati-hati Siwi….

* * *

Walau hari-hari berikut, perhatiannya terasa semakin mengkhawatirkan walau sekaligus membuat ku tersanjung dan melambungkanku. Perhatian dan kepeduliannya itu terasa semakin kental dan lekat. Menjadikanku galau dan resah. Dan minggu-minggu itu aku berusaha untuk semakin dekat kepada-NYA. Aku tak ingin lepas dari kekuatan Yang Maka Kuasa. Doa dan mohon ampun silih berganti aku panjatkan kepada Allah yang Maha Kuat dan Maha Memenangkan.

* * *

Malam itu, kupandangi suamiku yang tertidur lelap bersama dua jagoanku Seto dan Bayu di tempat tidur yang dgelar di atas lantai. Ya Allah, aku sangat mencintai mereka. Mereka adalah sosok-sosok yang mencintaiku dengan tulus dan semata-mata karena-MU. hindarkanlah hamba dari godaan setan yang terkutuk. Suamiku inilah adalah pria yang paling berani dan bersikap jantan. Kerendahan hati dan cinta kasihnya mengalahkan kesombongan yang sebenarnya pasti ada di hatinya. Mas Nanang adalah pegawai negeri instansi Pemerintah yang rajin dan tekun dalam bekerja dan insyaallah amanah.  Sangat mencintai keluarga, peduli, dan bertanggungjawab. Sudah aku buktikan selama hampir delapan belas tahun pernikahan, tidak ada kendala berarti, kecuali perbedaan kecil karena masalah sepele dan hampir selalu terselesaikan pada saat itu juga. Sedangkan tentang dia? Aku tidak kenal banyak….., bahkan jujur aku tak tahu. Yang kutahu dia adalah calon Pimpinan Puncak di suatu Perusahaan yang sama denganku. Hanya itu…

Pagi tadi dia sempat menemuiku dan mengatakan bahwa besok ingin berbicara empat mata perihal sesuatu yang sangat penting tentang aku dan dia dan bukan masalah kantor. Ya Allah….

* * *

Malam ini…. sambil memandang mereka yang aku cinta dan mencintaiku….kubergumam : ”Maafkan aku suamiku dan anak-anakku….walaupun sangat berat, percayalah Istri dan Ibumu ini akan melakukan hal yang terbaik ….”.

Lalu kuambil air wudlu untuk ber-tahajud…..

* * *

Bontang, 20 Mei 2010, Manik Priandani

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 3.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +2 (from 2 votes)
KATA HATI3.052
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Plurk
  • Blogger Post
  • Multiply
  • Share/Bookmark

This entry was posted on Thursday, June 3rd, 2010 at 6:50 AM and is filed under Cerpen. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



One excellent Response

  1. 1 ageucak Says:

     

    on Sep11 10

    emm.. saya suka dengan gaya bahasanya bu..
    entah ini fiksi atau nonfiksi, saya suka dengan alur ceritanya, suka dengan yang benama kekuatan cinta..
    saya numpang bookmark.. dan menunggu cerita ibu selanjutnya
    from operasi”

Add your wisdom

You must be logged in to post a comment.

Menu

Search

FlickR

flickrRSS probably needs to be setup





























widgeo.net

free counters


Adsense Indonesia


Produk SMART Telecom
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.