RESENSI BUKU DI ANTARA DUA CINTA
on Jan9 2012Resensi Novel Di antara Dua Cinta
Judul Buku : Di Antara Dua Cinta.
Penulis : Inni Indarpuri.
Penerbit : Qiyas Media.
Cetakan Pertama, April 2011.
Jumlah halaman 215.
Saya bertemu penulis novel ini, Inni Indarpuri di acara Dialog Borneo pada September 2011 di Samarinda sewaktu dikenalkan teman saya, Tri Wahyuni. Kami sama-sama diundang pada acara temu sastrawan di wilayah Kalimantan ini, termasuk Brunei dan Malaysia. Kami mengobrol seperlunya dan kami saling bertukar karya buku dan saya mendapat buku ini.
Melihat covernya yang agak meriah dan berbau ABG mengurungkan minat baca saya. Tetapi karena ada cerita tentang pengabdian seorang guru di tengah masyarakat suku perdalaman maka saya penasaran ingin membacanya. Rasanya sangat jarang novel dengan setting pedalaman Kaltim karena tak banyak orang Kaltim yang menulis novel. Setelah saya baca sedikit demi sedikit alur cerita ini lumayan mengasyikkan.
Cerita sebenarnya tak terlalu istimewa. Ada seorang guru muda yang cemerlang bernama Horizon ditugaskan ke pedalaman Sungai Mahakam, Kampung Rikong, Muara Pahu, Kutai Barat, pedalaman Kaltim dan harus meninggalkan kekasih setianya, Zahrasari di Samarinda. Di Kampung Rikong Horizon bertemu sekolah yang bangunannya sederhana dan muridnya belum lancar berbahasa Indonesia. Dia juga menghadapi kenyataan bahwa gurunya hanya dua, transportasi dan komunikasi sangat susah. Horizon berusaha menerapkan segala kemampuannya sebagai motivator yang sering ceramah dan menguasai metodologi pengajaran. Dalam segala keterbatasannya Horizon mampu mengatasi keadaan dan membuat sekolahnya bisa maju dan mempunyai perpustakaan sekolah. Godaan mulai datang saat bertemu dengan bidadari hutan anak kepala suku, Leang dan terjadilah jalinan cerita cinta. Horizon dalam balutan keraguan di antara dua cinta dan konflik dengan kekasih lama Leang, Ayus. Dia nyaris terlibat pada tradisi pemenggalan kepala (Ngayau).
Yang menarik setting cerita dihubungkan dengan cerita perladangan berpindah, berbagai ritual adat, di antaranya penyembuhan penyakit menggunakan roh halus (belian), upacara penguburan mayat di atas pohon (lungun) dan upacara Kwangkai. Penulis cukup piawai menceritakan hal ini. Juga pernak perniknya secara detail.
Penulis juga dapat secara lengkap bercerita tentang ekspedisi Diang ke tebing batu kapur di Long Apari dalam kabut Jeram Panjang di hulu Mahakam. Juga cerita tentang kedasyatan Jeram Udang dan Jeram Panjang yang menjaga agar Long Apari tetap elok alami.
Tentunya novel bersetting pedalaman Kaltim patut diapresiasi karena sangat jarang dijumpai novel dengan genre begini. Terlebih ditulis oleh generasi sekarang dan bukan asli dari suku Dayak. Sebuah dokumentasi adat yang dapat dipahami dengan cerita model novel. Memang ada novel Upacara dari Korrie Layun Rampan yang cukup detail bercerita tentang ritual adat belian.
Kalau ada hal yang patut dikritisi pada buku ini adalah covernya yang meriah. Terlalu cakep dan cantik wajah covernya untuk cerita seorang guru di pedalaman hutan sehingga imajinasinya tidak kena. Judulnya juga terlalu biasa dan umum. Coba kalau ada unsur lokalnya supaya dari judul sudah ketahuan setting ceritanya. Juga beberapa data yang kurang tepat, misalnya cerita Soekarno pernah dibuang ke Pulau Nusakambangan, apa iya? Atau panjang tembok China 7.000 km, coba dicek lagi. Ada sumber foto Jeram Udang dari Google.co.id. Google itu mesin pencarinya, alamatnya bukan di google. Atau mungkin tak perlu gambar-gambar ilustrasi tersebut supaya majinasi penonton dapat lebih leluasa. Jarang novel ada ilustrasi foto. (Sunaryo Broto, Bontang, Oktober 2011)
This entry was posted on Monday, January 9th, 2012 at 5:43 PM and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.




