<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Studio Kata &#187; AKHIR PENCARIAN CINTA</title>
	<atom:link href="http://studiokata.web.id/tag/akhir-pencarian-cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studiokata.web.id</link>
	<description>Menulis itu Menyenangkan !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 02:01:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>AKHIR PENCARIAN CINTA</title>
		<link>http://studiokata.web.id/akhir-pencarian-cinta/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/akhir-pencarian-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:37:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[AKHIR PENCARIAN CINTA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[AKHIR PENCARIAN CINTA Oleh : Miranti Rasyid Sudah lama aku memandangi wajahnya. Sejak mentari masih bersembunyi hingga sang surya membasahi bumi dengan sinarnya yang dahsyat. Pohon-pohon yang rindang kini bergelut manja padaku seakan aku mengajaknya bermain bersama. Dia, seorang gadis yang sejak tadi aku amati, menangis sambil menyandar di bawah pohon yang memberikannya sedikit keteduhan. [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>AKHIR PENCARIAN CINTA</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Miranti Rasyid</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sudah lama aku memandangi wajahnya. Sejak mentari masih bersembunyi hingga sang surya membasahi bumi dengan sinarnya yang dahsyat. Pohon-pohon yang rindang kini bergelut manja padaku seakan aku mengajaknya bermain bersama. Dia, seorang gadis yang sejak tadi aku amati, menangis sambil menyandar di bawah pohon yang memberikannya sedikit keteduhan. Perlahan, dia menyeka air mata  yang masih membasahi pipinya. Hatiku tergetar untuk menolongnya. Aku mulai beranjak dari tempatku. Tapi, aku mengurungkan niatku sebab dia menghampiriku. Aku memutuskan untuk bersembunyi agar dia tidak mengetahui keberadaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membawa sebuah buku. Aku tak tahu jenis buku yang sedang dibawanya. Dari ciri-cirinya, terlihat seperti sebuah buku harian. Mungkin, buku itu sangat berarti baginya. Sayangnya, aku salah. Buku itu tidak berguna untuknya sebab dia mulai merobek satu persatu isinya. Dia menghancurkan kertas tersebut dengan cara menggenggamnya kuat-kuat, kemudian dia melemparkannya ke arah tempatku bersembunyi. Ya, aku menghindar. Aku beruntung karena kertas itu tidak mengenai wajahku. Gadis itu menangis lagi, bahkan semakin kencang. Apakah karena buku harian itu? Aku tak tahu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-177"></span>“Mas, ada yang <em>ndak</em><a href="#_ftn1">[1]</a> <em>betemu</em><a href="#_ftn2">[2]</a><em> awak</em><a href="#_ftn3">[3]</a>”, ujar seorang pria yang sedang berdiri di depan orang yang diajaknya berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapa?”, tanya orang yang diajak berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ndik</em><a href="#_ftn4">[4]</a><em> </em>tahu. Aku <em>ndik </em>kenal. <em>Bunyinya</em><a href="#_ftn5">[5]</a> dari perusahaan.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Perusahaan? Aku jadi bingung.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Mungkin, <em>nya</em><a href="#_ftn6">[6]</a><em> ndak bebisnis</em><a href="#_ftn7">[7]</a><em> lawan</em><a href="#_ftn8">[8]</a><em> kita</em><a href="#_ftn9">[9]</a>”, ujar pria itu berusaha menenangkan pikiran lawan bicaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mudahan saja. Orangnya disuruh kesini saja. Cepat!”</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu keluar dan mempersilakan keempat orang yang sedang menunggu di luar itu agar segera masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian, pria tersebut memasuki sebuah ruang tamu bersama empat orang tersebut. Pria itu mempersilakan mereka untuk duduk dan menunggu sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai, pak Halim. Apa kabar? Sudah lama tak berjumpa dengan anda. Sedang sibuk apa?”, ujar seorang pria yang baru memasuki ruang tamu sambil menjabat tangan lawan bicaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masrin, makin segar aja nih. Kabarku baik. Sekarang lagi sibuk dengan tugas pembangunan proyek di pinggiran sungai”, ucap Pak Halim dan membalas uluran tangan yang telah diberikan padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Proyek? Wah, makin kaya aja nih kamu”, ujar Masrin bangga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya begitulah. Semenjak ada investor yang datang ke daerah dimana aku mengembangkan usaha, aku mulai bangkit dari kemiskinanku”, kata-kata Pak Halim membuat Masrin tertarik untuk berbisnis seperti apa yang dilakukan oleh tamunya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh iya, ngomong-ngomong itu siapa? Bule darimana?”, tanya Masrin bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, ini Mr. Edward. Dia dari Jerman”, jawab Pak Halim.</p>
<p style="text-align: justify;">Masrin mengangguk pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Mein name ist Edward Khielson. Ich komme aus Jerman</em><a href="#_ftn10">[10]</a>”, ujar Mr. Edward memperkenalkan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masrin mengangguk paham. Untunglah, dia mengerti arti bahasa tersebut. Sekolahnya di kota sudah mengajarkannya banyak hal, termasuk bahasa asing itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedatangan empat orang itu bermaksud untuk melakukan sebuah pembangunan proyek pada daerah yang mereka kunjungi. Kota Bangun merupakan wilayah terakhir yang mereka tinjau. Bagi mereka, Kota Bangun memiliki ciri yang khas yang tidak dimiliki oleh wilayah lainnya. Akhirnya, setelah bernegosiasi cukup lama dengan Masrin, sang pemilik tanah dan perkebunan, mereka memutuskan untuk membangun sebuah pabrik pengolahan kelapa sawit yang akan diekspor ke Negara Jerman dan sebagai imbalannya, mereka akan membangun sebuah tempat penampungan yang berfungsi untuk menampung korban-korban bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Mereka akan bekerja selama 1,5 tahun yang rencananya akan menghabiskan dana sekitar US$ 2.000.000. Angka yang cukup menghebohkan bagi warga Indonesia. Pembangunan ini akan terus berjalan hingga masa yang telah ditentukan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Encek, maafkan aku”, ujar seorang wanita muda sambil meneteskan air mata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, kenapa?”, tanya pria yang sedang duduk bersama wanita muda itu sambil berhadapan dan memegang jari-jari tangan wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Encek, aku sudah dijodohkan oleh orang tuaku. Aku tidak bisa menolaknya karena mereka terus memaksaku. Aku bingung. Maafkan aku”, jawab gadis itu sambil menunduk dan meneteskan airmata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dijodohkan? Dengan siapa?”, tanya Encek sedikit panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, aku sudah dijodohkan dengan salah satu para pekerja yang sudah lama membangun proyek di desa seberang. Kata ibu, dia bukan kuli tapi seorang manager. Tenang, ini cuma sementara kok”, ujar wanita itu mencoba untuk menenangkan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sementara? Dayang, jelaskanlah padaku. Jangan membuatku semakin bingung.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya, ibu memaksaku untuk melakukan kawin kontrak dengannya. Tapi, aku berkeras untuk menolaknya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Coba kamu jelaskan dengan ibumu tentang dosanya melakukan kawin kontrak dengan pria yang disebut manager itu”, ujar Encek memberikan saran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah, tapi aku tak berhasil”, ucap wanita itu sedikit menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dayang, sabar ya. Aku selalu mendukungmu, walaupun kamu tak lagi disisiku. Kamu tidak salah dan maksud orang tuamu itu baik, mereka hanya mengingikan kamu bahagia. Hartalah yang salah sebab dia tidak memilih diriku untuk memilikinya. Ibumu terlalu percaya bahwa harta yang akan membahagiakan segalanya. Makanya, kedua orang tuamu lebih memilih orang-orang yang berkuasa dan memiliki harta agar anaknya bisa memiliki kebahagiaan yang tidak pernah mereka rasakan”, Encek mencoba menenangkan Dayang dengan cara memeluknya dalam-dalam dan mengusap punggungnya pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Air mata Dayang semakin mengalir dengan deras setelah dia mendengar ucapannya Encek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sabar ya”, Encek terus menenangkan gadisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, mereka tidak pernah mengerti dengan keinginanku. Aku benci dengan mereka. Benci!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssst”, Encek mencoba menenangkannya. “Ikhlaskan saja. Toh, maksud mereka kan baik. Jadi jangan risau”, lanjut Encek sambil terus menenangkan Dayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang menangis dan terus menangis. Menangisi kemalangan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintikan air mulai membasahi bumi. Gerimis telah datang, menandakan bahwa hujan akan segera turun dengan derasnya. Hujan kali ini merupakan sebuah berkah yang telah diberikan oleh Allah kepada warga Kota Bangun sebab sudah hampir sebulan mereka mengalami kekeringan. Sawah, ladang, dan perkebunan yang mereka miliki banyak yang mengalami gagal panen. Paceklik tahun ini menyebabkan beberapa pabrik pengolahan tanaman hasil perkebunan menutup pabrik mereka untuk sementara hingga musim penghujan tiba. Akibatnya, hampir separuh dari penduduk wilayah tersebut tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menutupi kebutuhan mereka, mereka rela melakukan apa saja termasuk menggunakan sistem “kawin kontrak” agar mereka mendapatkan uang dalam waktu yang singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pokoknya, aku tidak mau!”, teriak seorang gadis yang menambah suasana gemuruh hujan di siang hari.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heh, denger ya. Sekarang ini susah buat cari uang. Cobalah untuk mengerti”, ujar seorang pria tak mau kalah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, apakah aku harus mengorbankan cintaku demi uang?”, tanya gadis itu dengan nada yang tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cinta! Cinta! Cinta! <em>Bullshit</em><a href="#_ftn11">[11]</a> dengan cinta. Memangnya cinta yang memberikan makan? Cinta yang memberikan harta? Hei Dayang, kalau cinta yang memberikanmu uang, makan, dan segalanya, ambil tu cinta!”, jawab pria tersebut sambil berkacak pinggang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, apakah dengan uang, kebahagiaanku bisa dibeli?”, teriak Dayang kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hahaha”, pria itu tertawa keras. “Ya iyalah, dengan uang kamu bisa merasakan segalanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku pergi dari rumah”, Dayang memutuskan untuk keluar dari rumah. Tetapi, keinginannya tersebut tidak berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu ternyata adalah ayah kandungnya sendiri. Dia yang telah menggagalkan rencana Dayang untuk pergi dari rumah. Dia telah menarik Dayang sebelum anak gadisnya itu melangkahkan kaki keluar rumah. Dayang ditarik hingga dia memasuki sebuah ruangan kosong di sudut rumah. Di ruangan tersebut sudah tersedia sebuah alat pasung yang akan digunakan untuk memasung Dayang. Akhirnya, Dayang dikurung di tempat itu hingga waktu pernikahan kontrak itu tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari demi hari berganti, minggu demi minggu pun terlampaui. Dua hari lagi pernikahan kontrak itu pun tiba. Ruangan kosong tempat Dayang dipasung itu dibuka. Dayang terlihat sangat pucat dan kusut. Dia tidak memiliki semangat untuk menjalani hidupnya kembali. Sayup-sayup suara kunci berdentang terdengar di telinga. Akhirnya, Dayang dikeluarkan dari pasungan agar dia bisa beristirahat sebelum pernikahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang terduduk lemas di atas tempat tidur kesayangannya. Ibunya sedang duduk di hadapannya sambil menyodorkan nasi ke mulutnya. Tapi, dia menggeleng dan menjauhkan mulutnya dari nasi tersebut. Ibunya terus berusaha agar Dayang makan. Sayangnya, semua usaha ibunya sia-sia. Dia tetap pada pendiriannya. Ibunya menyerah dan meninggalkannya sendiri di dalam kamar dalam keadaan terkunci. Kini, Dayang hanya memandang kosong ke arah pintu. Dia seperti kehilangan tujuan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dayang hilang!”, teriak seorang wanita dan makanan yang sedang dipegangnya itu tejatuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Teriakan wanita itu mengagetkan seorang pria yang sedang duduk di halaman rumah. Pria itu memasuki rumah dengan tergesa-gesa dan panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa dia bisa hilang?”, tanya pria tersebut panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tidak tahu. Aku baru masuk ke kamar dan dia sudah tidak ada”, jawab wanita itu gugup.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu memeriksa keadaan di sekelilingnya. Dia menemukan sebuah kerusakan pada jendela yang sudah terbuka. Ya, mungkin Dayang melarikan diri melalui jendela. Pria itu membanting jendela tersebut dan segera berlari keluar untuk mencari Dayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang berlari tergesa-gesa. Dia menoleh ke belakang dan kemudian berlari lagi untuk menghindari sesuatu. Menghindari kedatangan ayahnya. Dia masuk kedalam hutan. Dia terus berlari sambil membersihkan ilalang dan akar-akar pohon yang mengganggu jalannya. Dia mencari ujung dari hutan yang sedang dilaluinya. Akhirnya, dia menemukan ujung dari hutan tersebut. Ternyata, di ujung hutan itu, dia menemukan sebuah kampung. Kampung itu memiliki sebuah penyebrangan menggunakan <em>ketinting</em><a href="#_ftn12">[12]</a>. Dayang menggunakan jasa tersebut untuk menyebrang ke kampung seberang. Dia menyebrang agar dia bisa menemui Encek, kekasih hatinya yang sedang bekerja di sebuah perusahaan di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kejauhan terlihat sebuah cerobong asap milik perusahaan tempat Encek bekerja. Dayang segera menaiki <em>tangga behek</em><a href="#_ftn13">[13]</a> setelah dia membayar jasa <em>ketinting</em> tersebut. Dia berlari terburu-buru agar dia bisa menemui lelaki pujaan jiwanya.  Sesampainya di sana, Dayang bertemu dengan seorang pria yang sedang mengemudikan mobil pekerja. Dayang menanyakan tentang keberadaan kekasihnya. Pria itu mengatakan bahwa Encek sedang beristirahat di taman belakang. Dayang segera berlari, meninggalkan pria itu sendiri dalam keterkejutannya atas kedatangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang terus mencari Encek. Dia memusatkan pikirannya untuk mencari orang yang ingin dia temui. Ternyata, dia merasakan sebuah petir menyambarnya di siang hari setelah dia menyaksikan pemandangan yang mengejutkan hatinya. Dia melihat Encek sedang bercanda dengan seorang gadis muda. Dia bercanda seolah gadis itu adalah kekasihnya. Hal ini yang menyebabkan Dayang mendatanginya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Encek”, ujarnya pelan tapi terdengar oleh lawan bicaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dayang”, Encek terkejut dengan kedatangan Dayang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ternyata, kamu…”, ucapan Dayang terputus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sayang, itu siapa sih? Kok dia kenal sama kamu?”, tanya gadis yang sedang bersama Encek itu sambil bergelayut manja di tangan Encek.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayang meneteskan air mata dan segera berlari meninggalkan Encek. Encek mencoba mengejarnya tapi sia-sia. Dayang terlalu cepat berlari dan dia kehilangan jejak gadis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pelariaannya, Dayang berpikir bahwa ternyata cinta sejati itu tak pernah ada. Cinta yang selama ini dipujanya, kini telah merobek hatinya. Cinta tak selamanya membawa kebahagian. Hanya membawa sebuah rasa sakit hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia, gadis yang aku amati, tertawa kecil. Dia tersenyum melihat secarik kertas yang sedang dibawanya. Kertas kecil yang berharga baginya. Perlahan, dia menggaruk dan menarik rambutnya. Sambil tertawa, dia mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami. <em>Ini sebuah tanda</em>…, pikirku. Aku tak berani melanjutkannya kembali. Sungguh, aku tak menyangka ternyata berakhir seperti ini. Hatiku tergetar untuk menolongnya. Tapi, aku takut. Jujur, aku tak berani menunjukkan sosokku yang sebenarnya. Aku sangat malu, sebab aku hanyalah sesosok sepatu <em>boot</em> yang telah rusak dan disingkirkan dari kehidupan empunya. Aku sangat tidak berdaya. Namun, semua yang telah aku saksikan adalah sebuah realita yang tak mungkin bisa dihindari lagi. Kenyataan yang sungguh menyakitkan. Dia, gadis yang ternyata bernama Dayang itu, gila di akhir pencarian cintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<hr style="text-align: justify;" size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> mau</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> ketemu</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> kamu</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> tidak</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> katanya</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> dia</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> berbisnis</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> dengan</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> kamu</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> Nama saya adalah Edward Khielson. Saya berasal dari Jerman</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> Omong kosong</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> Perahu kecil menggunakan mesin</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref13">[13]</a> Tangga kecil yang terbuat dari pohon kelapa</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fakhir-pencarian-cinta%2F&amp;linkname=AKHIR%20PENCARIAN%20CINTA" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/akhir-pencarian-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

