Bunga Terakhir
on May4 2010
Senin, 15 Maret 2010
“Mbak, minta tehnya dong”, rengek seorang anak kecil.
Rayuan itu membuatku tersadar. Ku tolehkan sedikit kepalaku ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, dia menadahkan tangannya. Bajunya yang lusuh, celana yang tidak sepantasnya digunakan lagi, dan koran yang diapit diantara ketiaknya, tak memudarkan senyum ikhlasnya kepadaku. Sesaat, aku melirik teh yang baru saja aku beli di salah satu toko. Volume tehnya memang tidak begitu banyak akan tetapi, aku begitu sayang untuk memberikannya. Maklumlah, sangat kehausan sebab aku baru saja berkeliling untuk membeli barang kebutuhanku sebelum aku disibukkan dengan jadwal yang cukup padat.
“Mbak, kalau kon gak iso ngasih teh iku ndek aku, wes gak popo. Tuku koranku ae yo[1]”, ujarnya lagi. Dia mencoba untuk merayuku.
Aku menggeleng. “Maaf, tidak sedang butuh koran”, kataku lembut. Mecoba untuk tidak menyakiti perasaan adik itu.
Aku berjalan. Mencoba menjauh dari tempat dimana adik itu berdiri dan menjual korannya. Namun sayang, dia mengikutiku. Dia menjajarkan dirinya di sampingku sambil merengek dan menarik-narik tas belanjaanku. Aku merasa risih dengan keadaan itu. Aku membentaknya dengan pelan “Dek, ojo ke aku[2]. Minta ke mbak-mbak yang lain sana”, ucapku dengan nada yang seharusnya tidak dia dengar.
“Maaf, Mbak”, dia pergi sambil menunduk. Sepertinya, dia menahan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya. Dia menenteng korannya dan duduk di atas anak tangga sebuah tempat penyebrangan jalan.
Hati kecilku memberontak. Tega banget sih kamu, kamu itu masih lebih beruntung daripada dia. Empati dong. Dorongan kuat dalam dadaku ini, akhirnya membuatku memutuskan untuk mendatanginya. Aku duduk di sampingnya. Perlahan ku serahkan teh gelas yang aku bawa. Dia menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit sembab. Mungkin, tadi dia menangis. Entahlah, sebab aku tak melihat air mata di sekitar wajahnya.
“Suwun, nggih[3]”, ujarnya sesaat setelah menerima teh pemberianku. Dia mulai menyedot minuman itu. Kemudian, dia menoleh ke arahku sambil menunjukkan susunan giginya kepadaku.
Aku pun tersenyum. “Dek, nama kamu siapa?”, kataku lembut sambil memulai pembicaraan.
“Danu, Mbak”, ucapnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Dia sibuk mengaduk-aduk minuman yang aku berikan.
“Aku Mia. Salam kenal, ya”, aku memperkenalkan diri sambil memberikan tanganku ke arahnya.
Danu melap-lap kedua tangannya di bajunya. Kemudian, dia membalas uluran tanganku. Dia tersenyum lagi. “Makasih banyak, Mbak”, ucapnya sambil menahan senyum kecilnya.
Aku membalas senyumnya lagi. Dia kini beranjak dari duduknya. Aku bingung. “Lho, kamu mau kemana?”, ku tarik tangannya yang masih menempel di tanganku dan dia terduduk lagi.
“Mau jualan lagi, Mbak. Nanggung”, dipamerkan koran-korannya yang masih belum terjual.
“Ooo, yasudah. Jangan malam-malam ya pulangnya. Aku mau pulang. Angkotku sudah datang. Ini aku kasih kamu roti yang masih sisa. Tadi aku abis makan di restaurant pizza[4] di dalam. Maaf, ya kalau aku kasih sisa ke kamu”, ucapku sambil menyodorkan tiga potong roti di atas selembar tisu.
Dia tersenyum lebar dan tiba-tiba meraih tanganku. Diciumnya tanganku berulang kali. “Makasih, Mbak”, ujarnya sambil berlari menjauh dari tempatku dan melambaikan tangannya. “Lain kali, kita harus ketemu lagi. Aku mau menunjukkan rasa terima kasihku padamu”, dia berjalan mundur kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah teman-temannya berada.
Aku menarik dan menghembuskan napas perlahan. Sedikit lega. Setidaknya, tidak ada lagi perasaan bersalah yang besar dalam hatiku. Aku senang sekali hari ini.



