<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Studio Kata &#187; Bunga Terakhir</title>
	<atom:link href="http://studiokata.web.id/tag/bunga-terakhir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studiokata.web.id</link>
	<description>Menulis itu Menyenangkan !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 02:01:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Bunga Terakhir</title>
		<link>http://studiokata.web.id/bunga-terakhir/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/bunga-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga Terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 15 Maret 2010 “Mbak, minta tehnya dong”, rengek seorang anak kecil. Rayuan itu membuatku tersadar. Ku tolehkan sedikit kepalaku ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, dia menadahkan tangannya. Bajunya yang lusuh, celana yang tidak sepantasnya digunakan lagi, dan koran yang diapit diantara ketiaknya, tak memudarkan senyum ikhlasnya kepadaku. Sesaat, aku melirik teh yang baru saja [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Senin, 15 Maret 2010</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Mbak, minta tehnya dong”, rengek seorang anak kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Rayuan itu membuatku tersadar. Ku tolehkan sedikit kepalaku ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, dia menadahkan tangannya. Bajunya yang lusuh, celana yang tidak sepantasnya digunakan lagi, dan koran yang diapit diantara ketiaknya, tak memudarkan senyum ikhlasnya kepadaku. Sesaat, aku melirik teh yang baru saja aku beli di salah satu toko. Volume tehnya memang tidak begitu banyak akan tetapi, aku begitu sayang untuk memberikannya. Maklumlah, sangat kehausan sebab aku baru saja berkeliling untuk membeli barang kebutuhanku sebelum aku disibukkan dengan jadwal yang cukup padat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mbak, kalau <em>kon gak iso ngasih </em>teh <em>iku ndek aku, wes gak popo. Tuku koranku ae yo<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>”</em>, ujarnya lagi. Dia mencoba untuk merayuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeleng. “Maaf, tidak sedang butuh koran”, kataku lembut. Mecoba untuk tidak menyakiti perasaan adik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjalan. Mencoba menjauh dari tempat dimana adik itu berdiri dan menjual korannya. Namun sayang, dia mengikutiku. Dia menjajarkan dirinya di sampingku sambil merengek dan menarik-narik tas belanjaanku. Aku merasa risih dengan keadaan itu. Aku membentaknya dengan pelan “Dek, <em>ojo ke aku<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a>. </em>Minta ke mbak-mbak yang lain sana”, ucapku dengan nada yang seharusnya tidak dia dengar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, Mbak”, dia pergi sambil menunduk. Sepertinya, dia menahan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya. Dia menenteng korannya dan duduk di atas anak tangga sebuah tempat penyebrangan jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hati kecilku memberontak. <em>Tega banget sih kamu, kamu itu masih lebih beruntung daripada dia. Empati dong. </em>Dorongan kuat dalam dadaku ini, akhirnya membuatku memutuskan untuk mendatanginya. Aku duduk di sampingnya. Perlahan ku serahkan teh gelas yang aku bawa. Dia menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit sembab. Mungkin, tadi dia menangis. Entahlah, sebab aku tak melihat air mata di sekitar wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Suwun, nggih<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a>”</em>, ujarnya sesaat setelah menerima teh pemberianku. Dia mulai menyedot minuman itu. Kemudian, dia menoleh ke arahku sambil menunjukkan susunan giginya kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun tersenyum. “Dek, nama kamu siapa?”, kataku lembut sambil memulai pembicaraan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Danu, Mbak”, ucapnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Dia sibuk mengaduk-aduk minuman yang aku berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku Mia. Salam kenal, ya”, aku memperkenalkan diri sambil memberikan tanganku ke arahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Danu melap-lap kedua tangannya di bajunya. Kemudian, dia membalas uluran tanganku. Dia tersenyum lagi. “Makasih banyak, Mbak”, ucapnya sambil menahan senyum kecilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membalas senyumnya lagi. Dia kini beranjak dari duduknya. Aku bingung. “Lho, kamu mau kemana?”, ku tarik tangannya yang masih menempel di tanganku dan dia terduduk lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mau jualan lagi, Mbak. Nanggung”, dipamerkan koran-korannya yang masih belum terjual.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooo, yasudah. Jangan malam-malam ya pulangnya. Aku mau pulang. Angkotku sudah datang. Ini aku kasih kamu roti yang masih sisa. Tadi aku abis makan di <em>restaurant pizza<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a> </em>di dalam. Maaf, ya kalau aku kasih sisa ke kamu”, ucapku sambil menyodorkan tiga potong roti di atas selembar tisu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tersenyum lebar dan tiba-tiba meraih tanganku. Diciumnya tanganku berulang kali. “Makasih, Mbak”, ujarnya sambil berlari menjauh dari tempatku dan melambaikan tangannya. “Lain kali, kita harus ketemu lagi. Aku mau menunjukkan rasa terima kasihku padamu”, dia berjalan mundur kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah teman-temannya berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menarik dan menghembuskan napas perlahan. Sedikit lega. Setidaknya, tidak ada lagi perasaan bersalah yang besar dalam hatiku. Aku senang sekali hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em><span id="more-192"></span>Kamis, 1 April 2010. Pukul : 09.30 WIB</em></p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk merenung di salah satu gazebo kampus. Aku memperhatikan beberapa anak kecil menjajakan koran yang telah dititipkan kepada mereka. Memang, terkesan memaksa. Tapi, apa boleh buat, mereka harus melakukan itu semua. Daripada mereka harus disakiti oleh orang yang menguasai mereka, lebih baik mereka sedikit merengek pada orang-orang yang lewat di sekitarnya. Begitulah cerita yang pernah dikisahkan oleh Danu beberapa hari setelah kami bertemu. Ah, aku kangen senyum Danu. Sudah seminggu kami tidak bertemu dan hal itu telah membuatku menahan rasa kangen begitu besar padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum saat mereka bercanda. Lucu sekali. Aku teringat ketika Danu berkejar-kejaran dengan teman sebayanya saat mereka memperebutkan hasil jualan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditengah lamunanku, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Semua lamunanku hilang seketika. “Hei, kok ngelamun aja?”, tanya seseorang di belakangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan malas, aku menoleh ke arahnya. Ternyata, itu Aji. Teman satu kelasku. “Ah, kamu mengganggu saja”, jawabku sedikit ketus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, kamu marah ya? Maaf deh”, ujarnya sedikit merayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya mencibir. <em>Sedikit menyebalkan</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mia, maaf ya… aku sebenarnya tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin memberikan ini”, Aji menyerahkan sebuah proposal ke arah ku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Proposal perayaan hari pendidikan nasional”, aku membacanya perlahan. “Kok ini buat aku sih?”, tanyaku bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu aku tunjuk sebagai anggota dari seksi acara <em>event</em><a href="#_ftn5">[5]</a> ini. Aku rasa kamu mampu”, jawab Aji sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menghembuskan nafas, aku mengiyakan tawaran Aji. Aku tidak enak hati padanya. Sebab, Aji adalah salah satu sahabatku yang  setia. Kami berkenalan pada saat OSPEK mahasiswa baru. Saat itu, kami merasa sama. Ya, sama-sama dari pulau Kalimantan, namun berbeda wilayah. Aku di timur, sedangkan Aji di selatan. Walaupun berbeda, kami tetap merasa senasib sepenanggungan. ‘Stempel’ perantau telah membekas di bahu kami. Oleh karena itu, kami menjadi sangat dekat. Bahkan, ada yang mengira bahwa kami memiliki hubungan khusus. Lucu juga. Tapi, itulah kami. Tetap tidak peduli. Biarkan anjing menggonggong, kafilah berlalu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sipp, makasih yaa. Kamu baik banget”, tiba-tiba dia memelukku erat. Spontan aku mendorongnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aji. Jangan buat aku semakin marah ya”, aku sedikit ketus. Maklum, aku berusaha mati-matian agar Aji tidak terlalu dekat denganku. Aku takut jika kekasih Aji melihatnya dan salah paham dengan ini semua.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehehe”, Aji tersenyum masam. “Maaf. Aku refleks. Nanti siang ada rapat di ruang mahasiswa jam 12.00 yaa. Aku tunggu”, ujar Aji sesaat sebelum dia pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk dan sepertinya Aji tidak melihat gerakan naik turunnya wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menatap jalan kembali dan jalanan kembali kosong. Tak ada anak kecil yang meneriakkan jualannya. Mobil dan motor pun jarang melintas. Situasi ini membuatku semakin tidak betah untuk berlama-lama di tempat ini. <em>Capai pikiran dan buang-buang waktu saja</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Kamis, 1 April 2010. Pukul 12.00</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ruang mahasiswa mendadak penuh oleh sekumpulan anak yang membahas program kerja mereka. Ribut dimana-mana, bahkan ada yang membuka forum di tengah forum. Mungkin, rapat akan membosankan jika tidak ada selingan candaan. Terutama,  seksi yang sedang dijabat olehku. Kami membutuhkan banyak suara untuk memperdebatkan banyak hal, termasuk rangkaian acara yang akan berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana kalau kita membuat suatu rumah singgah yang isi di dalamnya adalah anak-anak yang putus sekolah? Contohnya, para penjual koran, penyemir sepatu, atau para pengojek payung. Mereka pasti antusias”, ujarku sedikit menggebu.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Hmmh, iso ae. Tapi, opo umak yakin lek podo antusias kyk opo sing umak omongno?</em><a href="#_ftn6">[6]</a>”, tanya Dyah dengan logat Malang-nya yang kental.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku yakin. Pasti” jawabku dengan penuh semangat. Walaupun, aku tak mengerti dengan bahasa yang dia ucapkan. Tapi, aku paham dengan apa yang dimaksud oleh Dyah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oke. Begini, kita bagi tugas. Dyah, kamu menyusun acara. Dewa, kamu bagian perizinan. Mia, kamu mengumpulkan anak-anak jalanan itu. Dan aku akan menyusun anggaran. Bagaimana? <em>Deal?</em><a href="#_ftn7">[7]</a><em>”, </em>Theo, sang koordinator menjelaskan pembagian pekerjaan secara detil.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum dan kami ber-empat meneriakkan kata <em>deal </em>kompak dan dengan volume yang besar. Semua orang diruangan itu menoleh ke arah kami. Tak lama kemudian, ketawa kami pun pecah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sabtu, 3 April 2010. Pukul 10.30 WIB</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke tempat dimana aku dan Danu sering bertemu. Kami sering melewati sepi di salah satu mall terkenal di Surabaya. Maklum, Danu sering berjualan di daerah itu dan aku mengalah untuk mendatanginya saat jam kuliahku berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Mall itu sudah di depan mataku. Padanganku mengedar ke berbagai penjuru. Dari ujung hingga ke ujung lagi, berusaha agar tidak kehilangan jejak sekecil apapun. Aku sedang mencari Danu yang tidak pernah ku jumpai lagi akhir-akhir ini karena sibuk dengan kuliahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pencarianku sia-sia. Danu tak memunculkan ujung kukunya sedikitpun. Hariku semakin kacau. Aku tidak menemukan informasi apapun tentang Danu. Kertas kecil ditanganku kosong. Tak ada tanda bahwa aku akan menemukan Danu hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berputar mengililingi mall itu sendirian. Aku lelah. Akhirnya, aku memutuskan untuk makan siang seorang diri di salah satu rumah makan <em>fast food</em><a href="#_ftn8">[8]</a>. Tak ada pilihan lain. Mall-mall di Surabaya terkenal dengan jenis tempat makan seperti itu. Aku merasakan sedikit ketenangan disana. Pemandangannya langsung menghadap ke jalanan, kursi empuk, dan pelayanannya juga memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menikmati makanan pertamaku hari ini. Nasi dan ayam goreng itu masuk ke lambungku tepat pukul 12 siang. Aku sangat menikmatinya. Sampai tiba-tiba…</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat sebuah tanda. Jejak bahwa aku akan menemukan bocah kecil yang selalu menemaniku saat aku sedang banyak pikiran. Dio, temannya sedang asik duduk di bawah pohon sambil menikmati es teh pemberian dari orang-orang yang diminta olehnya. Aku terburu-buru menghabiskan makananku. Aku berjalan cepat. Aku tak mau kehilangan sebuah informasi sedikitpun.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Sabtu, 3 April 2010. Pukul 12.30 WIB</em></p>
<p style="text-align: justify;">“DIO”, aku berteriak memanggilnya sesaat setelah keluar dari pintu mall. Dia kaget dan langsung berlari meninggalkanku begitu saja. Aku pun tidak tinggal diam. Ku kejar dia dengan sisa nafasku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dio, berhenti dong. Aku tidak akan memarahimu. Aku hanya ingin bertanya tentang Danu. Dimana dia?” teriakku sambil berlari mengejar Dio. Aku tidak peduli jika ada orang yang melihat adegan ini. Sumpah, aku tidak boleh menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dio berhenti dan menyerah. Dia duduk di salah satu pot besar yang tidak ada tumbuhannya sama sekali. Dia menaruh korannya di samping pot besar tersebut. Dio menyeka keringat yang bercucuran di kepala dengan kaos yang sedang dipakainya dan aku mengatur nafasku sebelum berbicara banyak dengannya. Mengorek informasi tentang Danu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hebat juga ya, Mbak. Bisa mengejarku”, ujarnya sambil terus menyeka keringatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hahaha. Salah jika kamu ingin melawanku. Kamu bisa kalah. Hahahaha”, ujarku sedikit sombong dengan nafas yang masih tidak teratur.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mbak, Danu sakit”, ucap Dio sambil menerawang. Dia langsung berbicara tanpa aku tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sakit apa?”, tanyaku heran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Asma. Sudah tiga hari ini dia tidak berjualan. Sepertinya sudah akut. Sebelum dia bertemu dengan mbak malam itu, dia sudah sering bolak-balik rumah sakit untuk berobat. Tapi, bukan Danu namanya kalau menyerah. Dia tetap berjualan bahkan semakin rajin. Katanya sih untuk mengganti semua uang <em>eyang kakung<a href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a> </em>yang sudah dipakai untuk berobat”, Dio menjelaskan pertanyaanku sambil menunduk.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Lha, mbok e nang ndi?</em><a href="#_ftn10">[10]</a>”, tanyaku penuh perasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Mboh. Mbok e gak ono nang omah</em><a href="#_ftn11">[11]</a>. Gak pernah pulang”, jawabnya dengan jujur.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooo. Kamu tahu rumahnya dimana?”, aku harus menanyakannya agar aku bisa menemui Danu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak ada satu orang pun yang tahu, Mbak. Ada sih, tapi dia merahasiakannya dari kami. Malu katanya”, jawabnya singkat. “Oh iya, Mbak”, dia mengeluarkan secarik kertas dan satu tangkai bunga yang sudah kering. “Titipan dari Danu sebelum dia tidak pernah datang lagi. Sudah lama aku ingin memberikannya padamu, tapi mbak tidak pernah datang.”, ujarnya sambil menyerahkan barang itu padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya, terima kasih”, aku menerima pemberian Danu yang dititipkan pada Dio dengan sedikit perasaan bersalah. Aku teringat ketika kami (aku dan Danu) berjanji untuk memelihara bunga di salah satu tanah kosong di taman belakang mall. Salah satu hasilnya adalah satu tangkai bunga mawar dengan batang yang mungil. Aku jarang merawatnya, mungkin Danu yang sering menyiramnya, memberikan pupuk yang telah diolah sendiri di rumahnya, menjaga agar tidak dijamah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah ya, Mbak. Aku mau berjualan koran dulu”, ujar Dio sambil mengambil koran yang ada di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tunggu”, cegahku. “Begini…”, aku menceritakan semua maksudku dari A sampai Z tentang acara rumah singgahku pada Dio agar dia menyampaikan semua pada teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sabtu, 17 April 2010</em>. <em>Di salah satu acara rumah singgahku.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini sudah ke-empat kalinya Danu tidak datang ke acaraku. Aku sedikit kecewa, namun untung saja ada Dio dan teman-temannya yang selalu menghiburku. Tak hanya itu, rasa kangenku terobati ketika Dio memberikan bunga-bunga titipan dari Danu. Katanya, Danu sedikit baikan dan dia sekarang sedang sibuk mengurus taman bunga di halaman kecil rumahnya. Aku sedikit lega.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak sedang sibuk belajar dengan guru mereka masing-masing. Guru itu adalah teman-teman satu kampusku. Kami mengajar semaksimal mungkin dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang kami miliki. Keterbatasan biaya untuk menyewa guru dari luar juga menjadi salah satu faktor penunjangnya. Tapi, kami memang ingin terlibat langsung di dalamnya. Turun langsung untuk mencerdaskan anak bangsa, tidak ada salahnya kan?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Minggu, 2 Mei 2010</em></p>
<p style="text-align: justify;">Danu tidak pernah datang ke rumah singggahku. Padahal, aku ingin memamerkan bunga-bunga hasil tanamanku di kos-kosan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mendatangi Danu ke rumahnya. Aku sudah mendapatkan alamatnya secara detil, walaupun harus dengan sedikit paksaan dan rengekan yang aku lakukan pada seorang bocah usia delapan tahun yang mengetahui dimana rumah Danu berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkahku terhenti di depan sebuah gubuk kecil dan sebuah bendera kuning berkibar. <em>Bendera kuning? Apakah ada yang meninggal? Mungkin, kakeknya Danu</em>, pikirku. Aku beranikan diri untuk memasuki gubuk yang telah penuh oleh para tetangga yang sedang melakukan <em>tahlil</em><a href="#_ftn12">[12]</a>an untuk memastikan siapa orang yang meninggal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terduduk ketika salah satu orang yang aku tanyai menjawab pertanyaanku. Itu Danu. Danu telah tiada. Jatuh sudah semua bunga yang aku bawa. Bunga yang sudah aku susun dengan cantik dan menarik. Aku coba menerima kenyataan ini meskipun sungguh pahit rasanya. Asma dan demam tinggi telah merenggut nyawa Danu. Sedih rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ku coba untuk tegar di dekat makam Danu. Aku seorang diri disana. Para pelayat sudah beranjak pulang, meninggalkan taburan bunga dan doa untuk Danu. Aku tahu setiap ada pertemuan juga ada perpisahan. Tapi, tidak begini caranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menaburkan bunga yang aku bawa di atas gundukan tanah dimana Danu diistirahatkan. Mungkin, Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ku terima semua kenyataan ini bahwa Danu telah tiada. Namun, bagiku Danu tetap hidup dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bunga ini adalah bunga yang pertama dan terakhir untuk Danu yang pernah aku tunjukkan padanya. Bunga hasil kerja kerasku belakangan ini. Ku persembahkan bunga ini padamu. Doakan agar aku dan Indonesia tetap baik-baik saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat jalan, Danu. Senyummu tak akan pernah lekang oleh waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih, Danu. Aura semangatmu akan terus mewarnai hari-hariku.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Miranti Rasyid)</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<hr style="text-align: justify;" size="1" />
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> “Mbak, kalau kamu tidak memberikan teh mu kepadaku, ya sudah, tidak apa-apa. Beli koranku saja ya”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> “Dek, jangan ke aku”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> “Terima kasih, ya”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Rumah Makan yang menyediakan berbagai macam jenis Pizza</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Perayaan</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> “Hmmh, bisa saja. Tapi, apa kamu yakin kalau nanti mereka akan sama antusiasnya kayak apa yang kamu omongkan?”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Setuju?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Cepat Saji</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref9">[9]</a> Kakek</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref10">[10]</a> “Terus, ibunya dimana?”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref11">[11]</a> “Tidak tahu. Ibunya tidak ada di rumah”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="#_ftnref12">[12]</a> Berdoa untuk orang yang meninggal.</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fbunga-terakhir%2F&amp;linkname=Bunga%20Terakhir" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/bunga-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

