<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Studio Kata &#187; Janjiku</title>
	<atom:link href="http://studiokata.web.id/tag/janjiku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studiokata.web.id</link>
	<description>Menulis itu Menyenangkan !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 02:01:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Janjiku</title>
		<link>http://studiokata.web.id/janjiku/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/janjiku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Janjiku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Janjiku oleh: Miranti Rasyid Brakk, suara guci pecah terdengar lagi. Menurut perhitunganku ini sudah yang ketiga kalinya. Ini semua karena salahku. Seandainya, kebimbangan yang menyangkut masa depan itu tidak hadir dalam hidupku. Tidak ada dalam lika–liku hidupku. Mungkin hal ini tidak pernah terjadi. Sudahlah, penyesalan memang datang belakangan. Yang sekarang kulakukan hanyalah menunduk dalam-dalam. Mendengarkan [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: center;">Janjiku</h1>
<p style="text-align: center;">oleh:</p>
<p style="text-align: center;">Miranti Rasyid</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Brakk</em>, suara guci pecah terdengar lagi. Menurut perhitunganku ini sudah yang ketiga kalinya. Ini semua karena salahku. Seandainya, kebimbangan yang menyangkut masa depan itu tidak hadir dalam hidupku. Tidak ada dalam lika–liku hidupku. Mungkin hal ini tidak pernah terjadi. Sudahlah, penyesalan memang datang belakangan. Yang sekarang kulakukan hanyalah menunduk dalam-dalam. Mendengarkan dan merasakan betapa mengerikannya kemarahan ayah. Ya, ayah marah padaku. Kemarahannya memuncak setelah dia mengetahui semua yang telah aku perbuat di luar sana.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-180"></span>“Ris, ayah kecewa padamu. Ayah bingung dengan apa yang kau mau. Ayah sudah lelah denganmu. Ayah pusing”, ayah memijat kepalanya dengan lembut untuk mengurangi rasa pusingnya. Ayah pergi dengan beban diwajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi  Yah, dengar dulu penjelasanku”, aku berteriak memanggil ayah agar dia berbalik dan mendengarkan penjelasanku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak, pikirkan semua itu”, ayah menjawab panggilanku dengan kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Haahhhh, bangsat”, ucapku sambil membanting kepingan guci kesayanganku yang sudah dipecahkan oleh ayah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Anakku, bangunlah”, ujar pria tua yang memiliki janggut putih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hah, kamu siapa?”, ujarku setengah sadar yang juga dipenuhi sejuta tanda tanya dalam kepalaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku kakekmu. Aku akan membantumu, Nak. Mengatasi semua masalahmu. Menjawab semua pertanyaanmu selama ini. Marilah ikut bersamaku”, ucap orang itu yang mengaku sebagai kakekku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, aku akan ikut bersamamu. Tapi, awas kalau kau menipuku. Aku akan membunuhmu”, ujarku sambil mengancam dan mengepalkan tangan menuju ke arah lelaki tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu hanya tersenyum menerima ancamanku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Aku diajaknya berkeliling entah kemana. Sepanjang perjalanan dia menceritakan perjalanan hidupnya saat dia masih berusia remaja sepertiku. Aku tidak menyimaknya dengan baik. Sebab, aku sudah terpesona oleh keindahan pemandangan di sekitarku. Indah sekali. Pohonnya yang hijau, danaunya berwarna biru dikelilingi oleh wanginya rerumputan disekitar danau tersebut, dan sejuknya suasana membuatku tersihir untuk sesaat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Paham, Nak?”, kakek itu memberikan pertanyaan itu kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh ya, paham kek. Paham”,  aku sadar kembali dari lamunanku dan kembali ke alam nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hidup itu seperti air, Nak. Terkadang tenang, kadang juga beriak, bahkan ombak pun bisa menghempasmu jika kau tidak bisa memilih jalan hidupmu yang baik. Janganlah engkau sepertiku nak”, ucap kakek itu menasihatiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Seperti apa, Kek?”, tanyaku kala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, rupanya kau tidak mendengarkanku”, jawab kakek itu sedikit kecewa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, Kek. Aku tadi tidak mendengarkanmu. Aku hanya memperhatikan keadaan sekelilingku”, ucapku meminta maaf kepada kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, akan aku ulangi”, kakek berkata dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Tidak bisa, semuanya harus berjalan sesuai rencana”, ucap seseorang di dalam gudang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, semua bahan makanan dan persediaan sudah habis untuk dua minggu ke depan”, jawab pria yang ada di dekatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada dan tidak ada bahan makanan, semua ini harus berjalan”, ujar orang itu yang sering dipanggil Bang Gun oleh teman–temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ok, baiklah. Sekarang apa yang bisa aku lakukan?”, tanya pria itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tolong kamu panggilkan Mas Tok kesini. Suruh dia membawa seperangkat peralatan untuk siasat. Lekaslah, ini darurat”, jawab Bang Gun dengan tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siap, Bang”, lelaki itu pergi meninggalkan Bang Gun untuk memanggil kawannya tersebut yang mereka nilai adalah orang terpintar diantara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Laporan Bang Gun. Mas Tok datang”, lelaki itu kembali ke dalam gudang tersebut sambil membawa Mas Tok ke hadapan Bang Gun.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa Gun?”, tanya Mas Tok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini mas, menurut informasi yang diberikan oleh kaki tangan saya, Belanda sebentar lagi akan menyerang wilayah kita. Apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya?”, tanya Mas Gun sedikit panik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan panik. Kita pikirkan bersama”, jawab Mas Tok sedikit menenangkan hati Mas Gun.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi, bagaimana caranya?”, Bang Gun mengulangi lagi pertanyaanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini, menurut saya bagaimana jika kita membuka sekolah pendidikan dokter agar para pemuda bisa mengenyam pendidikan dokter dan hal ini dapat berfungsi saat kita membutuhkan mereka untuk mengobati para pejuang kita yang terluka di medan perang”, jelas Mas Tok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Usul mas boleh juga. Akan aku pertimbangkan. Tapi, setelah aku pikir–pikir, untuk mengusir Belanda apakah hanya itu saja yang bisa dilakukan?”, pertanyaan yang sama terulang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak hanya itu, kita bisa membentuk sebuah perhimpunan pemuda yang berisi seluruh pemuda yang memiliki semangat juang yang tinggi yang bisa melawan tindak tanduk para Sekutu”. Mas Tok menjelaskannya kembali dan kali ini menenangkan hati Bang Gun lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ide yang bagus”, Bang Gun memberikan komentarnya tentang gagasan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dua hari kemudian, Bang Gun langsung menunjuk dr. Wahidin Soedirohusodo yang kita kenal sebagai pemrakarsa sekolah kedokteran (STOVIA) yang bisa menjadikan para pemuda lebih pintar dan dapat diharapkan bisa menjadi seseorang yang berguna di masa yang akan datang. Sejak saat itu, dibentuklah sebuah organisasi Budi Utomo. Kebangkitan para pemuda itulah hingga saat ini masih diagungkan, namun tersingkirkan oleh masa masuknya budaya luar negeri ke dalam negeri yang menyebabkan hilangnya ciri khas asli bangsa Indonesia .</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Lalu kek, bagaimana dengan perkembangan organisasi tersebut?”, tanya Aris kepada kakek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sayangnya, organisasi tersebut tidak dapat bertahan dengan lama. Kurangnya rasa persatuan dan kesatuan membuat organisasi tersebut tidak berjalan dengan baik”, ujar kakek sambil menerawang ke angkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi, bagaimana selanjutnya dengan keadaan Indonesia pada masa itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Yah, sudah bisa ditebak. Kurang koordinasi. Tapi, setelah kejadian tersebut, kami memulai lagi dari awal. Munculnya tokoh–tokoh pendidikan pada masa itu membuat kami bangkit dari kebodohan”, mata kakek berkaca–kaca mengingat hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Berarti secara tidak langsung, untuk memperoleh pendidikan sangatlah susah, apa benar itu, Kek?”, tanyaku sedikit penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, benar–benar susah. Untuk memperoleh pendidikan kami harus bersembunyi dari kekuatan Sekutu yang sudah berkuasa dan berbuat semena – mena terhadap saudara kita yang ada di seluruh Indonesia. Hal ini sungguh berbeda dengan keadaan Indonesia saat ini. Kini, para pemuda justru menyiakan–nyiakan waktu mereka hanya untuk bersenang-senang dan menghamburkan kesempatan untuk menutut ilmu. Mereka hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri tanpa melihat apa yang akan  terjadi dengan mereka dan bangsa ini di masa yang akan datang. <em>Free sex</em>, narkoba, dan perbuatan kriminalitas sudah membudaya dalam diri mereka. Rasa heran timbul dalam diri kami. Sungguh diluar dugaan.  Kami, para pemuda jaman dulu, sangat sedih dengan perbuatan mereka. Kamu ingat dengan perjuanganku dan kawan-kawan? Kami dengan susah payah merebut kemerdekaan negeri ini, malah mereka yang menghancurkan cita–cita kami. Dunia yang damai menjadi impian kami. Tapi, apa yang mereka lakukan justru membuatnya hancur berantakan”, air mata kakek mulai menetes satu persatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan kakek bangkit dari duduknya. Dia mengeluarkan sebuah cermin berbentuk lingkaran dari dalam jubahnya. Cermin itu bukan sekedar cermin biasa. Cermin itu bisa menunjukkan kondisi bangsa saat ini. Melalui pantulan sinar kebaikan, kalian semua dapat melihat situasi yang terkini di Indonesia dan di seluruh jagad raya. Wanita diperkosa, anak-anak kecil dijual dan kemudian menjadi pengemis, dan para koruptor tak henti-hentinya melakukan korupsi yang merugikan bangsa dan negara. Hal itulah yang terjadi selama ini. Ya, jaman sudah semakin berkembang dan teknologi semakin maju, namun moral semakin merosot dan pikiran semakin dangkal.</p>
<p style="text-align: justify;">“Astaga, ternyata itukah yang terjadi selama ini?”, tanyaku kaget.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, seperti itulah yang terjadi saat ini. Dunia penuh dengan kepalsuan. Orang- orang palsu yang mengatakan dirinya dapat mensejahterakan rakyat. Lihatlah, banyak sahabat kita yang meminta–minta. Sekarang, mana buktinya? Oh Tuhan, mengapa kau hukum bangsa ini?”, kakek mengankat kedua tangannya hingga berposisi seperti orang berdoa.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jeegggeerrrr</em>, muncul suara petir menyambar bumi. <em>Astaga, begitu besarkah permohonan kakek sehingga Tuhan menjawabnya dengan kilat dan petir</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tenanglah kek, janganlah engkau bersedih dan marah  seperti ini”, ujarku sambil menyentuh bahu kakek. Menenangkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maafkan aku nak, aku terlalu emosional. Ini mungkin karena aku terlalu kecewa dengan kondisi bangsa saat ini”, ujar kakek sambil menyeka air matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Seandainya aku bisa menyelamatkan bangsa ini?”, lirihku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bisa. Engkau bisa anakku. Bangsa ini masih bisa diselamatkan”, kakek mendengarkan lirihku yang kemudian dijawabnya dengan penuh keyakinan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana caranya?”, tanyaku kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Belajar dan berdoa. Itulah jalan yang paling mudah dan paling sulit untuk dijalankan”, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Paling sulit, mengapa?. Aku yakin itulah hal yang paling mudah”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Itu bukan hal yang gampang. Kau harus banyak belajar. Belajar tidak hanya dengan menguasai pelajaran. Guru yang paling baik adalah pengalaman, guru yang paling dasar ialah buku, dan guru yang paling perhatian ialah orang yang menasihati dan mengajarimu. Belajarlah dengan mereka. InsyaAllah, mereka akan membantu”, tegas kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apakah hanya tiga hal tersebut ?”, tanyaku sedikit penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak. Tanpa berdoa kita tidak bisa menjadi apa-apa. Ingat, manusia hanyalah pembuat rencana tapi Tuhan-lah yang menentukan segalanya. Tidak ada sesuatu pun yang sempurna di dunia ini. Camkan itu”, ucap kakek dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk paham.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba–tiba kakek memelukku. Erat sekali. Aku tak mengerti mengapa dia melakukannya. Yang aku rasakan hanya tetesan air yang jatuh di bahuku. Getaran dan keringat dingin aku rasakan dipundakku. Tiba-tiba, darahku mengalir dengan cepat. Mungkin itu pertanda gugup. <em>Astaga, kakek menangis</em>, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nak, aku butuh bantuanmu. Aku ingin kau menolongku. Selamatkanlah negeri ini dari kekuasaan para penganut paham KKN, orang–orang palsu, dan pengaruh globalisasi. Hanya engkau dan penerus bangsa Indonesia lainnya yang bisa melakukannya. Aku mohon, nak. Jangan biarkan usaha kami merebut dan mempertahankan kemerdekaan kemerdekaan ini sia–sia. Isilah kemerdekaan ini dengan hal–hal positif  yang bisa membawamu ke dunia yang bisa mengajari dirimu tentang arti hidup yang sebenarnya. Tolong, nak”, air mata kakek mengalir sangat deras.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan aku melepaskan pelukan kakek. Aku memegang bahunya dengan lembut dan menenangkan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kek, aku janji. Aku akan memenuhi impian dan cita–citamu. Aku akan melindungi bangsa ini. Tenanglah, kek”, ujarku menenangkan kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terima kasih, nak. Aku senang sekali, jika kau dan manusia lainnya dapat bekerja sama untuk melindungi bumi ini. Karena, di bumi inilah aku lahir, hidup dan berkembang. Disinilah, aku dibesarkan. Dan disini pulalah aku dimatikan. Tanah ini tumpah darahku. Hidup matiku. Terima kasih…anakku”, ujar kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kakek menghilang secara tiba–tiba setelah dia mengucapkan hal itu. Aku kaget dan bingung. Tapi, aku tetap berjanji akan memenuhi keinginanmu, kek….</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris, bangun. Ini sudah jam 7. Nanti kamu kesiangan”, ujar ayah membangunkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah, maafkan aku. Aku akan penuhi keinginanmu. Aku pasti akan jadi dokter. Aku janji”, aku langsung memeluk ayah dan mengucapkan maaf padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan dipaksakan. Ayah mengerti keinginanmu. Ayah hanya emosi saja pada malam itu. Mungkin, kau marah pada ayah”, ucapan ayah sengaja aku potong.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak. Aku tidak marah. Maafkan aku yah”,ujarku sekali lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tenanglah anakku”, ayah memelukku kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam pelukkannya, aku berjanji mimpiku semalam akan menjadi motivasi bagiku dan akan aku ceritakan pada temanku lainnya agar mereka dapat membantuku untuk mewujudkam impian kakek.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Samarinda, 12 Maret 2008</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk orang – orang yang membutuhkan kebenaran</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Fjanjiku%2F&amp;linkname=Janjiku" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/janjiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

