Riak Sungai Mahakam
on May4 2010“Deg!”
Kembali aku berpaling ke belakang, di dekat parit, di depan sekolah Farmasi di gang Bhakti. Serasa aku tak percaya.
“Ikam adingnya Juariah kah?” Dengan logat Banjarnya, si empunya wajah menegurku dengan senyum tipisnya.Wajah yang dulu merupakan bahan gossip kakak kelas kami di SMEA Negeri 2 Samarinda.
Ternyata Junaidi masih mengenalku dengan baik. Dua puluh lima tahun aku meninggalkan kampung halamanku ini, aku tidak menyangka wajahku masih ada tersimpan di memori mereka. Termasuk di nganteng ini.
“Bujur banar. Ikam jadi pengusaha lah wayah ini?” Aku sedikit bercanda, mengatakan dia seorang pengusaha.Padahal dia hanya menghamparkan barang dagangannya di sebuah lembaran papan plywood tipis.Jualannya seperti gantungan kunci, jepit rambut dan beberapa aksesories kecil.



