<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Studio Kata &#187; Sungai Mahakam</title>
	<atom:link href="http://studiokata.web.id/tag/sungai-mahakam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studiokata.web.id</link>
	<description>Menulis itu Menyenangkan !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 02:01:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Riak Sungai Mahakam</title>
		<link>http://studiokata.web.id/riak-sungai-mahakam/</link>
		<comments>http://studiokata.web.id/riak-sungai-mahakam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 06:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin-SK</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Mahakam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studiokata.web.id/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[“Deg!” Kembali aku berpaling ke belakang, di dekat parit, di depan sekolah Farmasi di gang Bhakti. Serasa aku tak percaya. “Ikam adingnya Juariah kah?” Dengan logat Banjarnya, si empunya wajah menegurku dengan senyum tipisnya.Wajah yang dulu merupakan bahan gossip kakak kelas kami di SMEA Negeri 2 Samarinda. Ternyata Junaidi masih mengenalku dengan baik.  Dua puluh [...]<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Deg</em>!”</p>
<p>Kembali aku berpaling ke belakang, di dekat parit, di depan sekolah Farmasi di gang Bhakti. Serasa aku tak percaya.</p>
<p>“<em>Ikam adingnya Juariah kah</em>?” Dengan logat Banjarnya, si empunya wajah menegurku dengan senyum tipisnya.Wajah yang dulu merupakan bahan gossip kakak kelas kami di SMEA Negeri 2 Samarinda.</p>
<p>Ternyata Junaidi masih mengenalku dengan baik.  Dua puluh lima tahun aku meninggalkan kampung halamanku ini, aku tidak menyangka wajahku masih ada tersimpan di memori mereka. Termasuk di nganteng ini.</p>
<p>“<em>Bujur banar. Ikam jadi pengusaha lah wayah ini</em>?” Aku sedikit bercanda, mengatakan dia seorang pengusaha.Padahal dia hanya menghamparkan barang dagangannya di sebuah lembaran papan <em>plywood </em>tipis.Jualannya seperti gantungan kunci, jepit rambut dan beberapa aksesories kecil.</p>
<p><span id="more-173"></span>Junaidi terlihat malu.Aku melihat wajahnya sedikit memerah.Wajahnya tetap seputih dulu.Mungkin karena aktifitasnya hanya di malam hari, maka garangnya panas matahari Samarinda tidak menyentuhnya. Pekerjaannya hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan itu dilakukan sesuai dengan jadwal pasar malam yang ada di kota ini.</p>
<p>“<em>Bisa aja ikam ini. Urang bejualan kaya’ ini aja pang!</em>?” Senyumnya masih seperti dulu, manis!</p>
<p>“<em>Berapa anak?</em>” Aku memilah-milah barang yang mungkin bisa aku beli. Sambil berjongkok,  aku memegang barangnya dan sekalian mengajak dia ngobrol. Serasa ada perasaan nyaman, karena bertemu dengan kenalan lama.</p>
<p>“<em>Aku kada laku</em>!”</p>
<p>“<em>Ikam ini, masa cowok idola kayak ikam kada laku</em>? <em>Yang bujur aja lah</em>!” Nggak masuk di akalku, kalau sang idola sekolah dulunya, disaat tua begini tidak punya pendamping hidup.</p>
<p>“<em>Berapa lah harganya gantungan kunci hitam ini</em>?” Dengan dialek Banjar, seorang calon pembeli memutus percakapan kami. Dan beberapa orang wanita paruh baya  mulai jongkok di sampingku, dan sepertinya berminat dengan gelang manik-manik yang telah dipegangnya.</p>
<p>Aku pun mundur diri, tidak bisa meneruskan percakapan.  Sambil berdiri, aku hanya melambaikan tangan padanya, sambil mengucapkan :</p>
<p>“<em>Kapan-kapan kita bekesahan lagi lah</em>.”</p>
<p>_____OOO______</p>
<p>“<em>Woi….woiii…</em>”Rasanya seseorang memanggilku.Aku pun berhenti berjalan.Memperbaiki letak jilbabku yang mulai di acak-acak angin sungai.</p>
<p>Seorang wanita melambaikan tangannya di pinggir sungai Mahakam, tepat berseberangan kantor Gubernur. Kebiasaan memanggil seseorang dengan kata, “<em>woiii…woiii</em>,” rupanya masih terpakai saat ini.</p>
<p>Aku ingat sebuah peristiwa bersejarah di kota ini. Saat masih di SMEA, kami para pelajar se-kota Samarinda di suruh turun ke jalan protokol untuk menyambut presiden Suharto beserta rombongan menteri kabinetnya.Maka kami pun dengan semangat yang menyala-nyala menunggu beliau di daerah jalan Bhayangkara, sambil memegang kayu seukuran sapu lidi, yang telah diikat dengan bendera merah putih.</p>
<p>Saat presiden akan melewati jalan, maka didahului dengan polisi dengan mengendarai motor <em>Chip</em>, dan meraungkan sirinenya sambil menyapu para pelajar yang telah turun dari trotoar jalan. Maka seperti sebuah koor, para pelajar itu langsung meneriakkan :</p>
<p>“<em>Woiii….woiii…woiii</em>!!”</p>
<p>“<em>Rindu kampung nih ye</em>….?Wanita yang tadi melambaiku, ternyata telah tepat di hadapanku, langsung memelukku.</p>
<p>“<em>Sania</em>!” Aku pun mengucurkan aliran anak sungai di kedua pipiku.Sahabat yang hampir aku lupakan di perantauan, ternyata mengingatku dengan jelas.Tak merasa ragu sedikit pun, seperti diriku saat ini.</p>
<p>“<em>Katanya kamu di Jakarta</em>?” Aku sedikit takjub dengan penampilannya saat ini.Gayanya bak aktris ibukota.Padahal dulu dia termasuk gadis yang sangat sederhana dalam penampilan.</p>
<p>“<em>Yah… aku lagi jalan-jalan.</em>” Sambil memegang topi di kepalanya yang kelihatan agak miring.Topi dari rajutan rotan, diplitur warna coklat muda, berbentuk bundar.Diberi hiasan bunga kecil berwarna-warni.Cukup cantik di mataku.</p>
<p>“<em>Kamu makmur sekarang ya</em>?” Dulunya Sania termasuk dari keluarga sederhana.Kami berteman pun karena sama-sama punya tingkatan ekonomi yang sederajat.</p>
<p>“<em>Alhamdulillah. Benar katamu dulu. Bahwa hidup ini akan selalu bergulir seperti bola. Dulu kita serba kekurangan, sekarang saatnya kita menikmati apa yang dulu kita impikan</em>.” Matanya menerawang ke sungai.Terlihat banyak tumbuhan enceng gondok yang bergerombol, bergoyang-goyang saat beberapa kapal kayu melewati daerah di dekatnya.</p>
<p>“<em>Kamu ingat Jun?</em>”Aku mulai merangsang memorinya.Sania termasuk gadis yang memendam rasa terhadap pria itu.</p>
<p>“<em>Maksudmu Junaidi</em>?” Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya.Wajahnya bersemu merah. Aku penasaran.</p>
<p>“<em>Kamu masih ada hati padanya</em>?” Aku mulai menggodanya.Padahal umur kami saat ini sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.Usia yang telah memasuki warna kuning untuk sebuah kematian.</p>
<p>“<em>Kenapa sih nanya-nanya masa yang lewat? Apa kamu telah bertemu dengannya? Dia bilang apa sama kamu?</em>” Dia mengedipkan sebelah matanya, sepertinya ingin balas menggodaku.</p>
<p>“<em>Belum sempat nanya sih tadi malam. Dia kan jualan di pasar malam. Kasihan juga ya.Aku sedikit prihatin dengan nasibnya. Dulunya dia idola, tapi saat ini katanya dia belum punya pendamping</em>.” Aku mengingat kembali wajahnya tadi malam.Tapi kelihatanya wajahnya tetap seperti yang dulu.</p>
<p>“<em>Masa sih dia mengatakan begitu</em>?” Sania menutup pembicaraan,  sambil memelukku erat dan mengatakan akan menghubungi aku lewat telpon nantinya. Dia memasuki mobilnya, membungyikan suara klakson sebagai salam pamit kepadaku.</p>
<p>Aku penasaran dengan ucapan Sania terakhir.Kelihatannya dia menyimpan berita tentang Junaidi. Tapi tentang apa ya?</p>
<p>&#8212;&#8211;OOO______</p>
<p><em>Sekali minum air Mahakam</em></p>
<p><em>Terpikat janji hati terpendam</em></p>
<p><em>Akan kembali ke Samarinda sayang</em></p>
<p><em>Itu lah bukti kesaktian Mahakam</em></p>
<p>Penggalan lagu itu seakan-akan saat ini bisa aku benarkan. Karena walau telah berpuluh tahun aku tinggalkan, riak-riak air di pinggiran sungai Mahakam, tepatnya di jalan Gajah Mada yang sering aku tongkrongi bersama  Siah adikku, selalu terbayang. Aku merasakan melodi tanpa kata bila aku berada di atas beton turap pinggiran sungai. Memandang di seberang sungai, terlihat lampu-lampu dari kota Samarinda Seberang, yang serasa menghangati dada di malam hari.</p>
<p>Aku mengurangi volume<em> tape</em> siaran Radio Republik Indonesia yang menyiarkan lagu daerah Kaltim.Menghempaskan badan, mengambil bantal.Terasa nyaman bisa kembali di kamar ini.Dindingnya memang telah banyak di makan rayap.Aku tumbuh dan besar di kamar ini.Dulu aku bersama kakak dan adikku.</p>
<p>“<em>Kak… Adik..aku merindukan kalian</em>.” Setetes aliran bening serasa merayapi kedua pipiku yang kata orang makin tipis.</p>
<p>“<em>Kenapa kamu baru pulang? Kaum kerabat tidak bisa menemukanmu.Kamu seperti hilang ditelan bumi. Tante dan om hampir meyakini, kamu telah tiada.” </em>Masih tergiang di telingaku percakapan siang tadi.</p>
<p>“<em>Aku telah berusaha berlari sejauh-jauhnya dari daerah ini. JIka aku angin, mungkin aku tak akan dapat kembali ke sini. Tapi darahku, hidupku dan kenanganku semua ada disini. Aku ingin lenyapkan semua memoriku di kota ini, tapi ternyata aku salah. Semua lintasan peristiwa, khususnya peristiwa kematian ayah, ibu dan saudaraku tidak bisa aku hapuskan.Rasa bersalah terlalu kuat di hatiku.Telah banyak dzikir yang aku keluarkan dari mulutku. Sujud di malam-malam dingin selama dua puluh tahun ini pun tak mampu membuat damai dadaku in</em>i.” Aku akhirnya terisak, karena harus mengumbar kesedihan yang telah lama aku pendam dengan kuat.</p>
<p>Perasaanku sedikit longgar, setelah pertemuan siang tadi. Karena ternyata mengeluarkan perasaan sakit yang dipendam lama, terhadap orang yang  mengasihi kita, membuat beban sedikit terbagi.</p>
<p>“<em>Ya Allah, cukup lah rasa ini aku tanggungkan. Aku mohon ampunan-Mu.Aku mohon rahmad-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar dadaku yang selalu sesak ini, engkau lapang kan</em>.”</p>
<p>&#8212;&#8211;OOO______</p>
<p>“<em>Siapa sih yang ingin, orang yang dikasihinya mati karena ulahnya?  Atau siapa sih yang mampu mematikan seseorang yang masih ditakdirkan hidup oleh Allah? Coba lihat, beberapa peristiwa bunuh diri yang dilakukan orang-orang di Samarinda, ternyata tidak semuanya bisa  mati kan?”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Seharusnya kamu bisa mendamaikan hatimu sendiri. Karena kecelakaan kapal yang akan berangkat ke Melak itu kan bukan karenamu? Kamu hanya ingin mengajak keluargamu menikmati aliran air sungai di hulu Mahakam</em>. “ Junaidi menceramahi aku panjang kali lebar.</p>
<p>“<em>Bukankah semua peristiwa ada hikmahnya? Coba bayangkan jika peristiwa itu tidak terjadi.Mungkin kamu tidak seperti saat ini. Mungkin saja kamu tidak merasakan kedekatan dengan Allah disujud-sujud  shalatmu. Atau kamu mungkin tidak akan istiqomah dengan shalat lailmu seperti saat ini. Efek dari kesedihanmu maupun perasaan bersalahmu itu, membuatmu menjadi orang yang selalu dekat dengan sang pencipta kehidupan ini. Sayang kan jika kedekatan itu tidak membuatmu bersyukur</em>?” Junaidi menambahkan lagi petuahnya.</p>
<p>Aku tidak menyangka jika dia seorang yang shaleh.Pantas saja wajahnya terlhat damai, tenang dalam berkata-kata.</p>
<p>Aku hanya diam di samping Sania yang kelihatan sibuk dengan HP yang dipegangnya.Sania tidak sedikitpun menanggapi percakapan kami pagi ini. Padahal dia yang menelponku untuk ketemuan  Junaidi di Masjid Baiturahim.</p>
<p>“<em>Tanti, aku juga kehilangan istriku saat akan mengunjungi kerabatnya di Kota Bangun. Kapal yang kami tumpangi bertabrakan dengan sebuah kapal tongkang yang memuat batu bara. Peristiwa naas itu melemparkan tubuhku jauh dari Asma istriku.Sementara Asma tidak bisa berenang. Dia meninggal karena tenggelam di sungai</em>.” Wajah kelam terlihat selintas di wajah Junaidi.Walau pun dia berusaha mengusirnya dengan sebuah senyum.</p>
<p>____OOO__________</p>
<p>Apa yang dikatakan  Junaidi maupun keluargaku adalah sebuah kebenaran. Semakin kita ingin menghapus kenangan pahit, maka akan semakin melekat kuat dalam ingatan. Karena saat kita ingin membuangnya, maka saat itu pula lah ingatan itu kita ikat di di dalam hati.Pikiran yang mengembara terusik dengan suara panggilan Hp di meja.</p>
<p>“<em>Assalamu’alaikum. Ada apa sayang…</em>” Aku membuka suara dengan perlahan.</p>
<p>“<em>Maaf Tanti, aku telah ada di bandara Temindung. Aku mau ke Tarakan sore ini. Salam sama Junaidi ya.</em>” Suara Sania serasa terburu-buru.Hanya dua hari di Samarinda. Dia berkeliling dari satu kota ke kota lain.  Mengurusi bisnisnya yang bermacam-macam.Kehidupan yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya.</p>
<p>“<em>Semoga kita bisa bertemu lagi ya San</em>.” Aku pun menutup HP dengan gamang.</p>
<p>“<em>Apakah aku masih tetap harus di Samarinda beberapa hari lagi? Atau aku kembali ke sebuah desa di Sulawesi untuk  meneruskan hidup? Usiaku tidak muda. Tiga puluh delapan tahun, hampir empat puluh tahun.</em>” Aku membatin sendiri.</p>
<p>Perlahan aku merogoh saku baju gamisku.Ada selembar kertas, yang siang tadi di berikan Sania padaku.Aku belum membacanya.</p>
<p><em>Tanti sayang….</em></p>
<p><em>Jika Junaidi melamarmu jangan lah kamu tolak.Dia seorang yang baik untukmu.Kalian berdua serasi.Walau hanya dua hari, aku mengamati diskusi kalian.Kalian seirama dalam langkah.</em></p>
<p><em>Jika Junaidi mengatakan dia hanya lah seorang penjual pada pasar malam, maka memang itu lah yang tampak. Tapi percaya lah, hidupmu akan tercukupi  dengannya. Dia punya perusahaan batu bara di Sebulu. Kamu harus tahu itu.Aku termasuk mitra usahanya.Dia hanya sesekali datang ke perusahaannya.Karena dia menyukai suasana rakyat kecil di pasar malam.</em></p>
<p><em>Wassalam,</em></p>
<p><em>Sania Salim</em></p>
<p>Aku pun melipat kertas dari Sania. Dan aku sedikit tersenyum dengan surat konyol di kantong bajuku  ini.  Kenapa aku harus memikirkan lamaran Junaidi.Memikirkan untuk menikah saja, belum pernah terlintas.Apakah benar Junaidi mau melamarku?Apalagi Junaidi tidak setitik pun menyatakan hatinya padaku.Ahhh&#8230;Sania itu ada-ada saja.</p>
<p>Aku membuka penutup HP saat deringannya memanggilku.Belum aku membuka mulut, suara diseberang langsung saja berkicau.“<em>Assalamu’alaikum. Saya Alif sepupu Junaidi. Benarkah saya bicara dengan Tanti?</em>”.Suara di Hp ku serasa sedikit bergetar.</p>
<p>“<em>Benar. Saya Tanti. Ada yang bisa saya Bantu?</em>” Sepertinya aku merasakan desiran tak enak merambati hatiku.</p>
<p>“<em>Anu… Anu&#8230; Junaidi di Rumah Sakit Islam.Dia tadi pagi kecelakaan.Kapal speed yang ditumpanginya terbalik. Katanya dia ingin ketemu sama kamu</em>.” Dengan terbata-bata Alif menerangkan maksudnya menelponku.</p>
<p>“<em>Ahhh…</em>.”Sepertinya bumi yang aku pijak merekah dan menelanku hingga aku tak mampu berteriak lagi.</p>
<p>_______OOO______________</p>
<p>Sengata , 30 April 2010</p>
<p>Halimah Taslima</p>
<br /><a target="_blank" href="http://www.gdstarrating.com/"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/gd-star-rating/gfx/powered.png" border="0" width="80" height="15" /></a><br /><p><a href="http://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Facebook" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/facebook.png" width="16" height="16" alt="Facebook"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/twitter?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Twitter" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/twitter.png" width="16" height="16" alt="Twitter"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/myspace?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="MySpace" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/myspace.png" width="16" height="16" alt="MySpace"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/plurk?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Plurk" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/plurk.png" width="16" height="16" alt="Plurk"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/blogger_post?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Blogger Post" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/blogger.png" width="16" height="16" alt="Blogger Post"/></a> <a href="http://www.addtoany.com/add_to/multiply?linkurl=http%3A%2F%2Fstudiokata.web.id%2Friak-sungai-mahakam%2F&amp;linkname=Riak%20Sungai%20Mahakam" title="Multiply" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/icons/multiply.png" width="16" height="16" alt="Multiply"/></a> <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://studiokata.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studiokata.web.id/riak-sungai-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

